Dengan kecepatan diluar batas Putra mengendarai mobilnya menerjang jalanan malam, siapa lagi yang dituju jika bukan persinggahan Arya. Hilangnya Mario anak seorang pengusaha membuat Putra harus selangkah lebih maju dari rencana. Bukan hanya itu komunitas mobil menjadi sasaran penyelidikan, Putra mengkhawatirkan keberadaan si kembar meskipun mereka tidak mengkonsumsi tetapi identitas mereka dapat diketahui musuh.
Cittt ….
Rem diinjak nya cepat dan mendadak. Mobil yang amat dirinya kenali berhenti tepat di tengah jalanan yang sedang Putra lewati.
Brak, Putra menutup pintu mobil turun berjalan mendekati mobil yang hampir saja dirinya tabrak, menggedor jendela mobil. Tidak ada pergerakan, lantas dirinya teringat untuk menghubungi seseorang yang terjebak di dalam mobil. Beberapa kali sambungan tak terangkat. Putra frustasi, menoleh kanan kiri mencari benda yang mungkin bisa membantu untuk memecahkan kaca mobil. Hela napas panjang, merasa lega ketika ada pergerakan dari orang yang berada di dalam mobil, kaca diturunkan perlahan, terlihat seseorang itu baik-baik saja.
"Kenapa kamu berhenti di sini?" Tanya Putra dengan nada sedikit membentak.
"Aku hanya ngantuk." Jawab Arika dengan muka bantalnya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
"Are you kidding?" Bentak Putra.
"Apa salahku?" Arika turun dari mobilnya, segera memeluk putra, Putra tak membalas pelukannya. Terasa frustasi memikirkan jika terjadi sesuatu dengan Arika di dalam mobil yang berhenti di tengah jalan tepat di tengah malam.
"Aku takut di rumah, uncle tidak pulang. Aku selalu mengalami mimpi buruk. Di sini tidak ada asisten ku untuk menemani, di rumah uncle tidak selalu ada." Curhatnya seperti anak kecil mengadu ke induknya.
Putra lemah, membalas pelukan Arika yang begitu erat, mengisyaratkan butuh perlindungan.
"Apa kamu sudah lebih baik?" Tanya Putra.
"Ya." Jawab Arika singkat.
Putra menepikan mobil Arika, menghubungi seseorang untuk mengambilnya sedangkan dirinya mengajak Arika masuk ke dalam mobilnya, melaju menenangkan perempuan yang seharusnya menjadi musuh.
----
Bayu segera memerintah bawahannya untuk mengirim rekaman cctv yang merekam Sabilla saat sedang berada di restoran semalam. Tidak ada gelagat yang aneh, Sabilla hanya duduk dan makan. Setelahnya, video memperlihatkan Sabilla berjalan memasuki lift yang kosong hingga berjalan sempoyongan menuju kamar. Bukan hanya itu, Bayu juga mengecek menu makanan yang di pesan oleh istrinya. Pasta dan orange juice seperti yang tercium olehnya semalam.
"Ada yang tidak beres?" Pikir Bayu, karena Sabilla seorang yang paling pantang minum alkohol. Sabilla lebih memikirkan kesehatan dirinya dan anak-anaknya, apalagi sedang menyusui Sabay.
Pikiran itu membuat Bayu akan melarang Sabilla menyusui Sabay. Sabilla masih tertidur bak mayat. Tak bergerak sedikitpun meski Sabay menangis kencang kehausan. Semakin membuat Bayu tidak karuan. Untung stok asi masih mencukupi hingga tidak perlu membeli susu formula untuk pengganti sementara.
Bayu benar-benar harus bisa menemukan apa yang terjadi semalam. Tidak ada ampun baginya jika terjadi sesuatu kepada istrinya. Bayu gusar, segera menghubungi tim medis untuk mengambil darah Sabilla, perlahan tanpa membangunkan dari tidurnya.
Dua orang tim medis datang, beberapa menit setelah Bayu menghubunginya. Segera melakukan tugas seperti perintah Bayu.
"Berapa lama saya harus menunggu hasilnya?" Tanya Bayu kepada tim medis.
"Secepatnya kita akan kirim hasilnya." Jawab salah satu tim medis, sebelum pamit meninggalkan kamar hotel tempat Bayu dan keluarganya menginap.
Bayu semakin khawatir, bahkan selama pengambilan darah, Sabilla tidak terbangun. Terlihat tidur begitu pulas.
Dengan memangku Sabay dan melihat Elang bermain sendiri, perasaan Bayu tidak karuan menunggu hasil.
Tak berselang lama hasil tes diterima nya, segera dibuka amplop berwarna putih dan ….
"Sialan." Hasil yang sangat membuat Bayu terkejut dan marah.
"Narkotika ada di darah Sabilla? Bagaimana bisa?" Bayu tidak habis pikir dengan kejadian ini.
Sabilla tidak pernah mengenal barang haram, bahkan dengan asap rokok saja Sabilla teramat benci.
Tentu perkara besar ini harus segera ditangani, tidak ada ampun baginya jika keluarganya tersentuh.
"Ada yang tidak beres di restoran kamu." Bayu segera menghubungi Tania.
"What happen?" Tania selalu dibuat penasaran.
"Segera selidiki, suruh Nando ambil alih penyelidikan!"
"Katakan, apa yang terjadi?" Tentu Tania pemilik restoran harus mengetahui seluk beluknya.
"Makanan di restoran kamu mengandung narkotika." Ujar Bayu.
"What?" Nada suara Tania terdengar antara kaget dan emosi.
"Tidak ada waktu lagi, selidiki suruh Nando ambil alih!" Perintah Bayu ulang.
Nando, seorang anggota kepolisian dan tim khusus yang dibentuk Bayu untuk mata-mata. Ya, tentunya semua rahasia. Meskipun Nando sudah mengantongi banyak bukti kelakuan kotor beberapa oknum, tetapi tidak semudah itu untuk di ungkap. Masih butuh penyelidikan dan banyak bukti yang lebih banyak agar tidak jadi bumerang untuk tim mereka.
Tania mondar-mandir cemas tidak karuan, dia butuh Hellen, asistennya tapi dia tidak bisa menceritakan masalahnya. Tania tidak percaya siapapun, meskipun itu asistennya sendiri.
Tania menenangkan dirinya, anxiety nya kambuh begitu saja terpicu kabar yang didengarnya dari Bayu.
Helaan napas panjang, berulang kali minum air putih, diambil nya di lemari pendingin yang berada di ruang kerjanya.
Tania tidak habis pikir, jika restoran juga dimanfaatkan untuk transaksi barang haram.
"Siapa dalang dibalik semua ini?"
"Bangsat" Umpat Tania.
Dengan tangan gemetaran mengirim pesan kepada Putra untuk melakukan pertemuan.
---
"Sudah bangun?" Putra menyeruput secangkir kopi panas, duduk menatap Arika yang tertidur di atas ranjang pribadinya.
Muka bantal dan menguap kecil membuat Putra tersenyum tipis.
"Ya, thanks." Ucap Arika yang mengubah posisinya duduk dan masih menyembunyikan setengah badannya di balik selimut.
"Mandi." pinta Putra.
"Aku tidak membawa pakaian. Aku tidak suka memakai baju untuk kedua kali, sangat kotor," celoteh Arika.
"Apa kau tak lihat, kau memakai kaosku meskipun kebesaran?"
"Omg, lupa!" Arika menepuk jidatnya.
"Boleh meminjam lagi?" lanjutnya.
"No problem," jawab Putra.
Arika beranjak dari ranjang, tubuhnya tersembunyi dibalik kaos kebesaran. Arika duduk di samping Putra tanpa permisi menyantap roti bakar dan omelet yang sudah tersaji di atas meja.
Putra mengibaskan tangan Arika,
"Why?" Arika terkejut.
"Minum air putih, cuci tangan dulu. Bukannya kamu tidak menyukai hal kotor?"
"Itu hanya untuk baju, bukan makanan. Perutku sudah terasa lapar."
"Sialan."
"Kamu mengumpat?" tanya Arika.
Putra tak menjawab.
Arika melanjutkan, menyantap habis makanan membuat Putra geleng-geleng kepala, karena perutnya belum terisi sedikit pun oleh makanan yang sudah dirinya masak.
"Apa tidur mu semalam nyenyak?" tanya Arika setelah menelan suapan terakhir.
"Tentu, aku bisa tidur di mana saja. Tidur di sofa bukan hal yang buruk."
"Good job boy," Arika mengelus puncak kepala Putra pelan bak seorang ibu memberikan pujian ke anaknya.
Refleks Putra menatap mata Arika. Mata mereka bertemu, Arika canggung membuat makanan yang masih di mulutnya tersedak. Tatapan Putra yang dingin tapi tulus. Jantung Arika berdetak tidak baik-baik saja, segera meminum habis air putih dalam gelas di meja depannya.
Salah tingkah, setelah menghabiskan minuman Arika berlari ke dalam kamar mandi.
Putra membaca pesan dari Tania, segera dibalas untuk mengindahkan permintaan adiknya. Sebelum Arika keluar dari kamar mandi, Putra membereskan semuanya.
Bersambung ….
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments