5.Love vs Blood

“Ada info penting apa?” Putra datang ke markas setelah mendapatkan pesan dari Arya. Arya juga segera pergi ke Markas setelah mendapatkan notifikasi.

Tania pun juga sudah berada disana. Duduk diatas kursi tempat dimana mereka mengadakan pertemuan.

Arya memutar kursi kebesarannya menekan tombol remote kecil  memutar sebuah suara dimana suara itu cukup mereka yakini bahwa salah satu oknum dari kepolisian ikut terlibat dalam penyimpanan barang haram.

“Kalian kenal itu suara siapa?”

“Sonic, Jamie dan Anjas.” Jawab Putra tepat.

“Anjas?” Tanya Tania, memastikan jika Anjas yang dimaksud adalah Anjas teman bisnisnya. Orang yang bekerja sama membangun salah satu restoran bintang 5 dan memiliki banyak cabang di luar Negeri.

"Yes." Jawab Putra. 

“OMG.” Tania begitu shock, karena diyakini Anjas tidak seliar itu dari penampilan dan cara bicaranya yang gemulai.

Putra sangat mengenali siapa Anjas. Siapapun yang dekat dengan Tania tak pernah lepas dari pantauannya. Trauma membuatnya lebih tanggung jawab dan tidak ingin kehilangan satu-satunya keluarga yang masih dimilikinya.

“Tania, kamu harus lebih hati-hati. Dia mengenal Jamie lebih dari kamu mengenalnya." Pesan Arya.

“Apa yang harus aku lakukan?” Tania merasa bingung mengetahui orang terdekatnya bagian dari musuh.

“Tunggu perintah jangan gegabah!” Pinta Putra pada adik perempuannya.

“Pura-pura tidak tahu jika mereka saling mengenali." Saran Arya.

“Salah satu dari kita harus bisa masuk ke rumah Jamie.” Ucap Putra yang duduk di atas meja.

“Misi kamu gimana mendekati Arika, ada perkembangan?” Tanya Tania

“Tinggal selangkah lagi."

“Yakin kamu gak akan jatuh cinta sama dia?” Tanya Tania, mengintrogasi kakaknya sendiri.

“Misi kita balas dendam bukan Misi pacaran. Kamu yang hati-hati, kelewat batas fatal akibatnya.” Putra menunjuk Tania dengan tatapan Tajam. Bagaimapun keselamatan Tania yang utama.

“It's okay, aku ingin misi ini segera berakhir.” Tutur Tania.

“Kita harus pantau dan segera melancarkan aksi.” Arya berujar sambil memantau cctv.

Pintu markas terbuka, si kembar datang membawa file yang akan diserahkan ke Putra.

“Dari kak Nando, dia tidak bisa datang.” Ucap Riki

Dibukanya amplop berwarna putih berukuran sedang. Dikeluarkan semua lembaran kertas yang ada di dalam.

Semua lembaran ditaruh satu persatu di atas meja. Terlihat foto-foto beberapa orang sedang melakukan transaksi bersama Mario dan anak buah Jamie di sebuah gang maupun gedung tua.

Salah satu dari lembaran foto itu, Ada foto anak kecil yang dijadikan perantara tukang juru antar. Putra geleng-geleng kepala.

“Ini hanya bukti kecil, setidaknya membantu juga untuk bukti tambahan.” Ucap Raka.

"Kita sudah memiliki banyak bukti, terus apalagi yang harus kita lakukan?" Tanya Tania melihat satu persatu foto.

"Tenang Tania. Ini hanya sedikit, masih banyak yang belum kamu ketahui tentang Jamie." Putra kembali mengingatkan.

"Ceritakan semuanya, biar aku tahu dan cepat menyelesaikan misi ini!" Tania penasaran apa yang terjadi.

"Belum waktunya." Jawab Putra

"Bukannya kita tim?" Tania berkaca pinggang.

Raka dan Riki saling menatap satu sama lain. Pemikiran mereka sama "Persoalan apa lagi yang belum mereka ketahui?"

Putra bangun dari duduknya, melonggarkan dasinya, membuka satu kancing atas kemejanya.

"Tunggu, nanti semuanya akan terungkap. Seberapa bangsatnya seorang Jamie." Putra juga tidak bisa lagi diam.

"Jika dikatakan sekarang, ditakutkan semua misi akan gagal karena minimnya info yang belum pasti." Arya menyahuti.

"Ini hanya persepsi kalian, jika tidak memiliki bukti jangan bertindak yang akan jadi bumerang buat kita," tutur Tania.

"Kak, ingat aku gak mau misi ini jadi bumerang. Pikirkan berulang kali jika itu hanya tebakan yang gak pasti." Lanjutnya.

"Jalan satu-satunya, salah satu dari kita harus bisa masuk ke rumah Jamie untuk memastikan semua bukti!" Putra kembali berucap.

"Biarkan aku." Ucap Tania menatap kakaknya yang kini berdiri membelakangi.

"Tidak, aku saja. Akan aku buat rencana biar bisa mendekati Arika." Putra tidak ingin Tania kenapa-kenapa? Masuk ke rumah Jamie sama saja masuk ke kandang singa.

Si kembar hanya diam memperhatikan dan mendengarkan. Mereka punya bagian masing-masing dalam misi ini.

Dan masih ada beberapa tim dibalik layar, membantu misi mereka.

---

Arika duduk sendirian di taman tengah rumah. Pikirannya bernostalgia pada zaman dirinya masih sekolah. Kelakuan konyol yang selalu dirinya lakukan, merasa bodoh jika diingat.

Jamie keluar belum pulang, hidup Arika kesepian. Rumah terlihat suram disaat malam. Merasa takut, Arika memutuskan untuk masuk ke kamarnya. Menonton film di televisi supaya ada yang menemani. Tubuhnya tertutup dengan selimut yang hangat.

Sesekali mengecek ponsel, butuh teman untuk berbicara. Tidak ada satupun teman yang menghubungi apalagi perbedaan waktu membuat Arika segan untuk menghubungi. Teman di Negaranya sendiri tidak memiliki, menjauh setelah kejadian di masalalu, segera menyelesaikan sekolahnya untuk pergi ke Negara impiannya.

---

Ulang tahun Clay dirayakan di Kapal Pesiar mewah dan megah. Arya datang seorang diri dengan style ala dia tanpa mengikuti aturan dress code yang sudah dicantumkan di undangan.

Menyendiri menikmati segelas jus strawberry ditangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sibuk mengecek benda pipi.

"Happy birthday girl." Seorang lelaki datang disambut riang Clay. Cium pipi kanan kiri, berpelukan singkat menjadi interaksi mereka. Suara itu mengganggu aktivitas Arya. Membuat Arya terpaksa melihat interaksi mereka untuk memastikan benar-benar lelaki yang diundang Clay.

Perbincangan singkat mereka lakukan. Arya tidak mengalihkan sama sekali pandangannya.

"Cie yang cemburu," Arya hanya melirik pemilik suara yang datang mendekati dirinya.

"Dia pacarnya Clay." Ucap orang itu, datang menggoda Arya, membuat Arya semakin gusar, tidak memalingkan sedikitpun pandangannya kepada Clay yang lagi menyambut para tamu undangan yang datang.

Arya semakin tidak tahan, setelah mendapatkan notifikasi panggilan masuk yang langsung menyambung ke earphone yang selalu setia menempel di telinganya. 

Arya melangkah berjalan menuju keberadaan Clay, sambil berjalan menaruh gelas di meja mini bar sampingnya. Dengan sigap menarik lengan Clay menghindari kerumunan.

"Ada apa Arya?" Arya tidak menggubris pertanyaan Clay. Sebelum menemukan tempat yang pas untuk bicara.

Clay berusaha tenang dan tersenyum ketika melewati para tamu, sedangkan raut wajah Arya menahan amarah.

"Bisa cemburu juga tuh orang." Kata Bastian, lelaki yang datang mendekati Arya. Teman satu fakultasnya. Memberi tahu jika seseorang yang datang tadi pacar Clay, padahal Bastian hanya bercanda. Bastian juga tidak mengenali siapa sosok lelaki itu, apalagi namanya. Berbeda dengan isi otak Arya sangat. Arya sangat mengetahui betul siapa lelaki itu?

Di lorong deck yang sepi. Arya melepaskan tangannya yang mencengkram lengan Clay. 

"Ada apa Arya?" Tanya Clay penasaran.

"Siapa lelaki itu?" Tanya Arya tanpa basa-basi.

"Siapa?" Clay mengedikkan kedua bahunya.

Arya Diam. Melihatnya saja sudah geram, apalagi untuk menyebutkan namanya.

"Lelaki yang mana? Siapa?" Tanya Clay berulang.

Arya mencoba menahan emosinya. Menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Clay.

"Huuufft .... Mario." Jawab Arya

"Kamu kenal?" Tanya Clay balik.

"NO." Jawab Arya langsung

"Pacar kamu?" Cerca Arya langsung.

"Ha ha ha ha ha Kamu cemburu?" Clay tertawa.

Arya memicingkan mata "Pikiran macam apa itu?"

"Lantas? Kalau tidak cemburu apa namanya?" Clay masih tertawa.

"Clay, kamu kenal dia dimana? Sedekat apa kamu sama dia?" Arya to the point, mencerca pertanyaan.

"Arya kenapa sih? Ada apa dengan kamu?" Clay penasaran.

"Jawab dulu!" Arya terlihat serius dengan ucapannya.

"Ok." Mendengarkan nada bicara dan melihat tatapan Arya, membuat Clay tidak berkutik.

"Aku kenal dia dari Amora. Anak teman Papa. Amora dulu satu sekolah sama aku. Mario kakak Amora." Jawab Clay serius.

"Sedekat apa kamu sama kakaknya?"

"Hanya kenal, tidak sedekat itu." 

"Tidak sedekat itu tapi cium pipi dan pelukan". Sindir Arya dengan senyuman smirk.

"Arya kamu beneran cemburu?" Clay memperhatikan wajah Arya celingukan ke kanan-kiri.

"Cemburu? Makanan apa itu?"

Tanpa perlu menunggu Jawaban dari Clay. Arya memberikan instruksi.

"Sekarang dengarkan aku. Suruh Petugas untuk mengecek semua ruangan, kamar, bahkan toilet sekalipun!"

"Are you kidding?" Clay tidak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut Arya.

"Kalau tidak mau acara kamu gagal total atau mungkin kalau tidak mau tugas kamu selesai tepat waktu." Ucap Arya dengan santai.

"ARYA JANGAN BERCANDA!"

"PLEASE, kasih aku alasan. Ada apa dengan ini? Ini acara aku, Aku berhak tahu!"

"Lakukan perintahku dulu, nanti kamu juga akan mengetahui." Arya pergi meninggalkan Clay yang cemas, bingung dan over thinking.

Clay lebih memilih mengikuti perintah Arya dari pada harus mengerjakan tugas seorang diri. Sedangkan lusa tugas sudah harus terkumpul.

Clay sangat ingin menendang Arya dari belakang. Gayanya yang tengil membuatnya semakin geram.

Bersambung ….

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!