2.Love vs Blood

Berita kebakaran sebuah pabrik terdengar dimana-mana. Kabar masih simpang-siur. Reporter menyampaikan adanya gangguan pada arus listrik yang menyebabkan terjadinya kebakaran.

Putra segera mematikan layar televisi. Berdiri dari duduknya, mengambil secangkir kopi di atas meja, berjalan menuju jendela melihat pemandangan luar.

"Rencana licik apa lagi yang akan kau lakukan?" Tanyanya pada diri sendiri. Menghisap kopi secara perlahan. Otaknya mencari ide, apa yang akan dirinya lakukan?

Bunyi ponsel bergetar segera dirinya angkat menggunakan tangan kanannya, tangan kirinya masih memegangi secangkir kopi hitam kesukaannya.

"Hallo ...."

"Itu pabrik yang kamu incar kan?" Tanya orang dibalik telepon.

"Iya."

"Minta bantuan Arya untuk menyelidiki semua cctv." Perintah orang dibalik telepon.

"Korban?" Tanya Putra, matanya yang tajam memandang ke depan.

"2 security, 34 pegawai dan 7 diantaranya meninggal. Yang lain hanya luka kecil." 

"Pasti ada pegawai penyusup, karena akses itu hanya bisa dilalui pemilik. Sedangkan pemilik dari pantauan hampir jarang sekali memasuki area situ. Dia pasti main licik. Kita selidiki dulu dimana barang-barang itu dipindahkan." Tutur Putra.

"Oke!"

Sambungan telepon segera dimatikan.

Putra menaruh secangkir kopinya di atas meja. Mengambil baju kemeja warna navy untuk menutupi badannya yang atletis. Membuatnya terlihat semakin berkharisma. Segera menyambar tas dan kunci mobil meninggalkan apartemen.

 

"Sayang anak kita jadi dikasih nama siapa?" Ucap Bayu yang menimang - nimang bayi mungilnya 

"Yang cowok Elang, gimana kalau ini kita kasih nama Pipit atau cendrawasih nanti panggilannya Asih?" Ucap Bayu.

"Kamu kira peternakan burung. Kamu manggil aku lovebird, terus Elang, Cendrawasih. Kira-kira Bay!" Sabilla yang tiduran di atas ranjang pesakitan, pemulihan 2 jam setelah selesai melahirkan dibuat gemas, geram oleh suaminya.

"Iya gak papa sayang, kalau lihat burung jadi inget anak-anak kita." Candanya

"Ambigu banget Bay. Jadi miris anak aku disamain sama burung kamu." Sabilla mengedikkan pundak.

Kini Bayu jadi bucinnya Sabilla, sedangkan Sabilla menjadi semakin ceplas-ceplos. Semenjak ditinggalkan Inara, segalanya berubah. Sabilla belajar untuk tidak menyimpan beban. Menangis jika ingin, marah jika perlu dan protes jika harus.

Kelulusan sekolah sejatinya untuk merayakan kemenangan, menjadi perayaan mengenang kepergian dua siswa Kinara dan Bagas. Bu Nani selaku guru kesiswaan merasa terpukul dan menyesal. karena dirinya merasa tidak memahami kondisi muridnya.

Kehilangan Bagas dan Inara membuat kehidupan mereka hancur dengan luka kesakitan masing-masing.

Setahun setelah lulus Bayu dan Sabilla menikah, masa bodo dengan perekonomian. Karena Bayu anak pewaris tunggal yang tidak pernah memikirkan andai kelaparan. Hidup mereka kini bahagia, di rumah mewah, ya! terkadang cekcok mulut dari keduanya membuat suasana rumah menjadi gaduh dan itu hal yang lumrah dalam rumah tangga.

Putra datang membuka pintu kamar ruangan VIP. Tangan kirinya membawa bingkisan untuk si bayi yang baru lahir.

"Hola Om ...." Sapa Bayu mengangkat jari jemari bayinya yang mungil.

"Jangan dipanggil om, Kak Putra!" Protes Putra menaruh bingkisan yang dibawanya di atas meja.

Bahkan si Elang anak pertama Bayu dan Sabilla memanggil Putra Brother.

"Idih." Bayu merasa geli mendengar ucapan Putra. 

"Namanya siapa?" Tanya Putra setelah mencuci tangannya di wastafel sebelum mendekat memegang si Bayi.

"Asih, kepanjangannya Cendrawasih."

"Ogah Bay!" protes Sabilla

"Wkwkwk wkwkwk wkwkwk." Putra tertawa sebelum melanjutkan perkataannya "Kamu mau bikin Peternakan burung apa Peternakan anak?"

"Nah kan burung cendrawasih itu cantik di lindungi." Bayu masih berargumentasi, tidak mau ngalah.

"Sini aku bantu kasih nama," Putra sedikit berfikir.

"Biar gak ribet kasih nama Sabay, diambil dari nama kalian Sabilla dan Bayu." Ucapnya

"Tuh keren, dari pada peternakan burung." Ucap Sabilla

"Sabay putri cendrawasih." Bayu masih kekeh

"Wkwkwk wkwkwk terserah Kamu Bay." Final Putra pada sahabatnya.

Bayu mendapatkan lemparan bantal dari Sabilla. Semenjak menikah, Bayu mengoleksi banyak burung di rumahnya. Katanya biar seperti Sabilla, Lovebirdnya yang tidak boleh dan tidak bisa dipisahkan."

 

Di ruang rahasianya, Arya dengan lihai memainkan jari jemarinya di atas keyboard. Mencoba meretas salah satu data, tanpa hitungan menit data sudah terakses. Di dapatkan dan segera di copy paste tersimpan dalam flashdisk.

"Yey Berhasil." Arya merasa senang, mengudarakan gempalan tangannya.

Setelah meluangkan waktu menjenguk Baby Sabay, Putra meluncur ke Markas kebesarannya. Yang tak lain dan tak bukan Studio musik yang sedari remaja di milikinya.

Jangan salah, sekarang bukan hanya sekedar studio musik. Di balik studio musik ada ruangan tersembunyi untuk melancarkan misinya.

Kafe, masih berdiri sama. Sekarang lebih ramai dan bangunan kafe menyatu dengan studio musik.

"Gimana?" Tanya Putra yang duduk di atas meja memperhatikan gerak gerik Arya alias Y'ar sepupu dari Bagas, anak dari Ani dan Rio. Seorang hacker, bekerja sama dengan kepolisian dan tentunya bekerja sama untuk Putra.

"Beres brother, tinggal kita cari bukti di dalam pabrik. Yang terlihat hanya satu mobil sedan warna putih keluar masuk ruangan. Mobil yang di ketahui pemilik CEO Perusahaan."

"Mr. Angkasa?" Tanya Putra untuk memastikan.

"Yes Brother." Jawab Arya.

"Oke kita cari pasti ada kaitannya dengan Jamie." Ucap Putra, menyebut nama Jamie membuat emosi amarahnya bertambah.

 

Di lorong gelap terdengar bunyi minta tolong. Arika berjalan menelusuri setiap lorong, mencari asal suara yang amat sangat dirinya kenali.

"Mom, Dad, where are you?"

"Are you okay?"

Tidak ada Jawaban dari setiap teriakan pertanyaannya. Hanya rintihan dan tangis yang didengar. Arika terus berlari, mencari asal suara hingga dirinya jatuh bangun lutut berdarah tidak dirasakan olehnya.

"Mom, Dad …." Panggilnya terus menerus.

Arika tidak hentinya memanggil mereka. Bulir keringat membasahi sekujur tubuhnya. Dadanya semakin sesak, entah sudah sejauh mana dirinya berlari mencari asal suara.

Suara musik dari alarm berdering nyaring. Tubuhnya tersentak dan terbangun, napasnya tak beraturan.

"Oh My God," tangannya meraba botol minum yang ada di atas nakas kemudian meminumnya rakus.

"Ada apa dengan Mom and Dad?" Tanyanya pada diri sendiri.

Arika selalu mencoba berpikir positif tentang keberadaan mereka, meskipun berulang kali dirinya mengalami mimpi yang sama.

Bangun dari ranjang, membasuh wajah dan menggosok giginya sebelum keluar kamar.

Dilihatnya Jamie sedang mempersiapkan makanan untuk sarapan.

Di rumah ini tidak ada pembantu, selain seorang security dan tukang bersih-bersih yang didatangkan 2hari sekali.

"Hai Baby, sudah bangun. Uncle masak spaghetti kesukaan kamu." Kata Jamie dengan apron warna hitam di tubuhnya.

Arika ingin sekali menceritakan mimpi buruknya tapi sikap Jamie yang terlihat senang membuat dirinya mengurungkan.

"Lihat kotak yang ada di meja sebelah!" Pinta Jamie kepada Arika menunjukkan meja sebelah dekat sofa, sedangkan dirinya menuangkan spaghetti ke atas piring yang sudah disiapkan.

Arika berjalan mengambil kotak berwarna pink, dibukanya perlahan.

"Wow seriously uncle?" Tanya Arika terkejut.

"Yes Baby. Lihat di depan!"

Jamie memberikan hadiah sebuah mobil mini Cooper berwarna tosca, mobil yang dari SMA diimpikan Arika. 

Arika berlari ke halaman rumah untuk memastikan mobil impiannya ada. Arika menari nari senang.

Karena selama di Paris dirinya selalu di antar jemput manager, tidak pernah ada waktu luang untuk berkeliaran sendiri. Itu pun ulah Jamie, supaya Arika selalu dalam pantauan Agensi.

Arika yang sejatinya polos, terlalu di manjakan Jamie, adik dari Daddynya. Merasa tidak kekurangan kasih sayang, meskipun dirinya sangat rindu keberadaan orang tuanya semenjak 8 tahun yang lalu.

Mommy dan Daddy nya berpamitan untuk berpindah ke luar negeri, dirinya di titipkan ke Jamie, uncle kesayangannya. Semenjak itu Arika tidak pernah berjumpa lagi dengan orang tuanya.

 

"Helen, apa jadwal hari ini?" Tanya Tania kepada asisten pribadinya bernama Helen.

"Meeting dengan investor terbaik yang anda tunggu-tunggu." Jawab Helen, sekretaris kepercayaan Tania. 

"Mr. Angkasa?" Tanya Tania memastikan.

"Iya."

Tania memberikan senyuman smrik.

"Oke, atur tempatnya."

"Siap!"

Helen keluar meninggalkan ruangan Tania. Tania segera menghubungi Putra, kakak sekaligus partner dalam menjalankan misinya.

"Tempat sudah diatur." Ucap Tania.

"Oke." Jawaban singkat Putra dari balik telepon.

Entah apa rencana mereka berdua.

Bukan hanya kehilangan Bagas yang membuat mereka liar, kehilangan ke dua orang tuanya 4tahun lalu membuat mereka berdua beringas. Semakin berani untuk menjalankan misi balas dendam.

 

Mr. Angkasa hanya CEO biasa yang tidak pernah memperhatikan seluk-beluk lawan, baginya bekerja dan menjadi investor terbaik adalah pekerjaannya.

Yang terpenting keuntungan bagi dirinya dan perusahaan itu nomer satu.

Tania berjalan dengan elegan memasuki ruangan meeting yang sudah disiapkan. Kali ini meeting dilakukan di luar perusahaan.

Sebuah restoran bernuansa Spanyol dipilihnya.

"Silakan duduk Nona Muda!" Mr. Angkasa mempersilakan Tania.

Tania duduk di kursi seberang. Ada dua orang di dalam dan tiga bersama Tania.

"Silakan dimulai!" Tania mempersilakan.

Mr. Angkasa menyodorkan berkas-berkas yang perlu di tandatangani, kesepakatan bersama sudah di bicarakan via telepon sebelum mereka sampai, untuk mengurangi waktu.

"Terima kasih atas kerjasamanya Nona." Ucap Mr. Angkasa mengulurkan tangannya, Tania dengan sigap menyambut uluran tangan.

"Ah ...." Teriak Mr. Angkasa

"Maaf, apakah terlalu kencang jabatan tangan saya?" tanya Tania

"Tidak, rasanya seperti tertusuk mungkin ada gangguan di telapak tangan saya," Mr. Angkasa mengepal membuka tutup tangannya

"Sudah merasa ringan." Lanjutnya

"Syukur." Jawab Tania

Tania segera menjabat tangan orang yang datang bersama Mr. Angkasa untuk menemani. Entah asisten atau pengacaranya, Tania tidak perlu tahu. Yang Tania tahu misinya berhasil.

 

"Misi berhasil, sekarang lanjutkan!" ucap Tania via telepon setelah berada di mobil untuk kembali menuju kantornya.

Seperti biasa Tania menyempatkan diri untuk mampir ke kantor Jamie. Kantor yang terletak searah dengan jalan menuju kantornya.

Terlihat gedung berlantai 20, lalu lalang pekerja.

Semua pekerja tahu siapa Tania. Gayanya yang elegan selalu menjadi pusat perhatian. Bukan hanya itu, sudah setahun terakhir Tania menjadi kekasih Jamie.

Membuat pekerja menjadi segan dan hormat ketika melihat Tania mengunjungi tempat kerja kekasihnya. Meskipun hanya sebentar.

Tanpa rasa sungkan, Tania memasuki ruang kerja Jamie tanpa permisi. Terlihat Jamie duduk di kursi kerjanya menandatangani berkas-berkas. Tak butuh basa basi Tania duduk di pangkuan Jamie. Mencium lembut bibirnya.

"Masih pagi sayang," Ucap Jamie menghentikan aktivitasnya, beralih membelai rambut Tania.

"Biasanya juga sarapan gini." Jawab Tania. Karena Tania lebih sering berkunjung ke kantor Jamie terlebih dahulu sebelum beranjak ke kantornya sendiri.

Tingkah Tania membuat Jamie gemas. Membalikan tubuh Tania ke arahnya, menciuminya dari kepala hingga leher membuat Tania mengerang.

Tania seketika teringat pantauan dari cctv yang tersembunyi. Membuatnya menahan, menghentikan kenakalannya.

"Sayang, aku udah telat ada meeting." Ucapnya ke Jamie

"Nanggung Sayang," Jamie mencoba menahan, memeluk tubuh Tania begitu erat.

"Kita lanjutkan nanti, besok atau lusa." Kecup Tania singkat, berusaha melepaskan tangan Jamie. Perlahan tangan Jamie melonggar, Tania segera menurunkan tubuhnya dari pangkuan Jamie untuk kembali jalan, pergi ke kantornya dan seperti biasa mengangkat menunjukkan jari tengah ke arah kamera cctv tanpa sepengetahuan Jamie.

Jamie orang yang tidak semudah itu di taklukkan. Di umur Jamie yang sudah berkepala tiga, Tania harus bisa bermain cantik untuk mendapatkan hatinya terutama dalam hal seksual. Karena hanya itu yang dibutuhkan Jamie, supaya dia sedikit lepas dari bayang-bayang Arika ponakan kesayangan dan membuka dirinya untuk wanita lain.

Sampai detik Tania mendekatinya belum pernah terdengar ada wanita lain selain Tania yang berani mendekati, entah apa yang membuat dirinya begitu tertutup atau mungkin membatasi diri dari seorang wanita.

Tidak mudah bagi Tania untuk bisa sampai di titik ini. Berbagai hal bahkan mengubah identitasnya menjadi salah satu dalam misi.

Mungkin bibirnya bisa ******* begitu napsu tapi hati dan pikiran ingin rasanya menembakkan peluru tepat di kepala Jamie.

Bersambung ….

Terpopuler

Comments

Ifa _

Ifa _

lanjutkan misimu Tania 🔥🔥🔥

2023-09-17

2

Ifa _

Ifa _

❤️❤️

2023-09-14

2

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!