Ditempat lain, Lio merasa akhir akhir ini ia tidak melihat Nara. Lio berniat untuk mengajaknya bermain. Lio ingat bahwa rumah Nara ada di seberang depan rumahnya, akhirnya Lio pergi ke rumah Nara. Sesampainya di rumah Nara, ia memencet bel rumah Nara sembari memanggil nama Nara. Hampir mau 30 menit Lio berada di depan pintu, tidak ada yang keluar. Lio mengira bahwa mungkin Nara dan orang tuanya sedang pergi keluar. Akhirnya Lio pergi untuk pulang, tiba tiba saat Lio bergegas untuk pergi, pintu rumah Nara terbuka. Betapa terkejutnya Lio ketika melihat Nara berpakaian lusuh serta mata yang sembab. Lio langsung menghampiri Nara dan mengecek kondisi Nara yang seperti itu.
"Kamu kenapa Ra, kok bisa kaya gini sih. Ibu sama Ayah kamu dimana?" Lio yang merasa heran dengan penampilan Nara yang terlihat sangat menyedihkan.
"Kak, aku laper. Nara boleh minta makan nggak di rumah kak Lio?"
"Boleh Ra, ayo ikut ke rumah. Sambil kamu ceritain kenapa bisa kaya gini."
Lio mengajak Nara pergi kerumahnya.
Sesampainya di rumah Lio, Nara di sambut oleh Agnes dan Devon yang merupakan orang tua Aksa dan Lio. Agnes dan Devon sangat memperlakukan Nara sangat baik, mulai dari memberikan baju dan menyiapkan makanan untuk disantap oleh Nara.
"Makasih ya om tante, udah baik sama Nara."
"Nara sayang, kami tau kamu anak baik. Lio pernah membicarakan kamu bahwa kamu tinggal di seberang rumah kita ya sayang?" Ucap Agnes bertanya sambil menyuapi Nara makan.
"Iya Tante, Nara tinggal di seberang depan. Tapi Nara nggak suka kalo di rumah. Nara benci."
"Kenapa memangnya?"Lio yang tiba tiba menyahut.
"Ibu sama Ayah udah nggak sayang Nara lagi, Nara ditinggal dirumah sendirian. Ibu pergi ke luar negeri dan ninggalin Nara. Ayah nggak pernah pulang kerumah, sekali pulang dia cuma nyiksa Nara dikamar."
Agnes, Devon dan Lio merasa kasihan dengan apa yang dialami oleh Nara. Mereka merasa anak sekecil itu sudah dapat perlakuan buruk oleh orang tuanya.
"Nara, kalau kamu nggak betah dirumah, kamu boleh tinggal disini sama kita." Ucap Devon sambil mengelus rambut Nara dengan perasaan kasihan.
"Emang boleh Om, Nara tinggal disini?"
"Boleh sayang, kamu boleh tinggal disini kapanpun kamu mau." Agnes yang tiba tiba langsung memeluk Nara.
"Makasih ya Om Tante."
"Iya Sayang."Ucap Agnes dan Devon berbarengan.
...----------------...
*Ding Dong...*
Saat mereka sedang bercanda riang, tiba tiba bel rumah mereka berbunyi. Devon langsung beranjak untuk mengecek siapa yang datang. Dan ternyata yang datang adalah Dingga. Dia datang untuk mencari Nara karena hari ini Nara tidak ada di rumah.
"Permisi Pak Devon, apa anak saya Nara ada disini?" Tanya Dingga pada Devon.
"Oh iya Pak Dingga, Nara ada disini."
Tiba tiba Dingga langsung menyerobot masuk dan menarik tangan Nara secara paksa.
"Ngapain kamu disini. Cepat pulang!" Dingga menarik paksa tangan Nara.
"Ayah sakit. Iya Nara pulang sekarang, tapi lepasin tangan Nara, Ayah." Nara yang meringis kesakitan.
"Pak Dingga tolong pelan pelan. Jangan kasar dengan anak sendiri. Kasihan Pak." Agnes yang langsung menenangkan Dingga yang sedang terbalut amarah.
Dingga tidak menghiraukan ucapan Agnes dan tetap menarik secara paksa tangan Nara.
Devon langsung sigap menarik kembali tangan Nara dan merebutnya dari Dingga. Karena Devon tau jika Dingga membawa Nara pulang pasti Nara akan disiksa lagi olehnya.
"Lepasin Nara Pak Devon, Biarkan Nara pulang." Dingga yang melihat Devon yang tiba tiba menggandeng Nara.
"Tidak akan, saya tau anda akan menyiksa anak ini dirumah. Saya tidak akan membiarkan anda semena mena pada Nara."
Betapa terkejutnya mereka ketika tiba tiba Dingga akan melayangkan pukulan pada Devon. Tapi untungnya Devon segera menangkis pukulan tersebut.
"Jika kamu berani berurusan dengan saya, saya tidak akan segan segan melaporkan anda atas kasus kekerasan pada anak di bawah umur." Devon yang langsung mendorong Dingga hingga terpental.
"Kalau anda ikut campur dengan urusan keluarga saya, saya juga tidak akan tinggal diam." Dingga yang langsung bangun dan mengepalkan tangannya.
"Jika anda ingin melindungi anak pembawa sial itu, asuh saja dia. Dia adalah anak pembawa petaka. Saya tidak mau mengurusnya. Dia anak bego, tolol dan bodoh. Percuma jika anda mau mengasuhnya." Dingga berteriak sambil menunjuk kearah Nara.
Dingga langsung bergegas pergi dengan amarah yang membara.
Agnes, Devon dan Lio langsung berbarengan memeluk Nara yang menangis karena ayahnya benar benar tidak menyayanginya.
"Sekarang kamu tinggal disini, Nara. Kamu boleh anggap kita sebagai keluargamu." Ucap Devon pada Nara.
"Iya sayang, kamu boleh panggil Om Tante sebagai Mama Papa. Kamu sekarang anak kami." Ucap Agnes.
"Iya Nara, aku dan kak Aksa bisa kamu anggap sebagai kakak kandungmu sendiri."
Mereka bertiga berpelukan bersama dengan penuh haru dan kasih. Tidak disangka ternyata Aksa melihat semuanya dari atas. Aksa melihat ternyata Nara diperlakukan tidak baik oleh keluarganya bahkan ayahnya begitu benci melihatnya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Betri Betmawati
moga ja bgus ya alur nya
2025-03-23
0
·Laius Wytte🔮·
Terus berinovasi ya author, semoga sukses dengan ceritanya!
2023-08-18
2