Pergulatan Hati

Setelah Aksa pergi dari depan kamarnya, Nara masih berdiri diam di balik pintu. Suara langkah kaki Aksa yang menjauh bergema di telinganya, membuat pikirannya semakin kacau.

Ia menekan dadanya yang terasa sesak. Apa yang sebenarnya ia rasakan?

Seharusnya ia tidak peduli. Seharusnya ini bukan masalah besar. Tapi entah kenapa, setiap kali mengingat bagaimana Mishel berdiri di samping Aksa, berbicara akrab dengannya, hatinya terasa seperti diremas.

"Aku nggak cemburu... kan?"

Nara menggeleng cepat. Tidak, itu tidak mungkin. Aksa hanyalah kakaknya—meskipun bukan kakak kandung. Mereka tumbuh bersama di bawah asuhan Tante Agnes dan Om Devon. Tidak mungkin ia memiliki perasaan yang lebih dari itu.

Tapi jika memang tidak ada perasaan khusus, kenapa ia terus memikirkannya?

Kenapa hatinya terasa panas setiap kali Mishel mendekati Aksa?

Kenapa saat Aksa tadi mengetuk pintu dan berbicara dengan suara lembut, ia hampir saja membuka pintu dan melompat ke pelukannya?

Nara menghela napas panjang. Ia berjalan ke kasur dan menjatuhkan diri ke atasnya. Tangannya menutupi wajahnya yang memerah, sementara pikirannya terus berputar.

Tiba-tiba, suara notifikasi ponselnya berbunyi. Dengan malas, ia meraihnya dan melihat layar.

Aksa: Besok pagi aku jemput kamu ke sekolah. Jangan naik motor sama Lio lagi.

Nara mengerutkan keningnya. Ia mengetik balasan dengan cepat.

Nara: Emang kenapa? Aku lebih nyaman naik sama Kak Lio kok.

Tidak butuh waktu lama sebelum Aksa membalas.

Aksa: Karena aku yang selalu jemput kamu. Titik.

Nara mendengus. Aksa memang selalu seperti itu—terlalu dominan dan mengatur. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda.

Kenapa Aksa tiba-tiba peduli kalau ia naik motor dengan Lio?

Senyum kecil muncul di wajah Nara. Mungkinkah…?

Tidak. Jangan berpikir yang aneh-aneh.

Namun, tetap saja, membaca pesan Aksa membuat perasaan buruknya sedikit mereda.

---

Keesokan paginya, seperti yang dikatakan Aksa, ia sudah menunggu di depan rumah dengan motornya.

Nara keluar dari rumah dengan seragam yang rapi, rambutnya dikuncir setengah, dan wajahnya tampak lebih segar dibanding semalam.

Namun, sebelum ia sempat mendekati Aksa, Lio yang baru saja keluar dari dalam rumah langsung menarik perhatiannya.

"Loh, kemarin kamu bilang mau naik sama aku," ujar Lio dengan nada menggoda.

Nara tersenyum kecil. "Aku berubah pikiran."

Lio tertawa pelan. "Oh? Kenapa tiba-tiba?"

Nara melirik ke arah Aksa yang duduk di atas motornya, tampak tidak sabaran. "Karena ada seseorang yang nggak suka aku naik motor sama orang lain."

Lio melirik ke arah Aksa dan tersenyum kecil. "Dia cemburu."

Nara tersentak. "Apa?"

Lio mengangkat bahu. "Nggak, cuma nebak aja."

Sebelum Nara sempat membalas, Aksa sudah membuka helmnya dan menatap mereka.

"Kalian mau berangkat atau enggak?" tanyanya dengan nada yang sedikit tajam.

Lio menahan tawa dan menepuk bahu Nara pelan. "Ayo, jangan bikin si ketua OSIS marah pagi-pagi."

Nara mengerucutkan bibirnya sebelum akhirnya berjalan mendekat ke Aksa. Ia naik ke motor tanpa banyak bicara dan segera memegang pinggang Aksa seperti biasa.

Namun, kali ini, ada sesuatu yang berbeda.

Aksa tidak langsung menyalakan motornya.

Sebaliknya, ia menoleh sedikit ke arah Nara dan berkata dengan suara pelan, "Pegangan yang kuat."

Nara yang tidak menyangka kata-kata itu justru membuat wajahnya memanas.

---

Sesampainya di sekolah, suasana seperti biasa. Siswa-siswa berlalu-lalang, beberapa berkumpul di gerbang, yang lain langsung menuju kelas.

Saat Nara turun dari motor Aksa, ia melihat Mishel berdiri di dekat gerbang, menatap mereka dengan ekspresi sulit ditebak.

Tatapan itu membuat Nara merinding.

Mishel berjalan mendekat, lalu tersenyum manis pada Aksa. "Pagi, Aksa."

Aksa mengangguk kecil. "Pagi."

Mishel kemudian mengalihkan tatapannya ke Nara. Senyumnya tetap ada, tapi matanya dingin. "Pagi juga, Nara."

Nara berusaha tersenyum. "Pagi."

Mishel mendekat ke Aksa dan tanpa ragu, ia merapikan kerah seragamnya. "Kamu lupa rapiin ini," katanya manja.

Nara menahan napas.

Aksa tampak terkejut, tapi ia tidak menolak.

Nara merasakan sesuatu menusuk dadanya. Ia langsung berpaling dan melangkah cepat menuju kelas.

Namun sebelum ia pergi terlalu jauh, ia sempat mendengar suara Mishel yang berkata, "Aksa, nanti temenin aku ke perpustakaan, ya?"

Dan jawaban Aksa yang terdengar datar. "Iya, nanti."

Jantung Nara terasa seperti diremas.

Ia tahu ia tidak seharusnya merasa seperti ini. Tapi tetap saja, rasa sakit itu nyata.

Dan ia tidak tahu harus berbuat apa.

---

Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya.

Nara berusaha fokus di kelas, tapi pikirannya terus melayang ke Aksa dan Mishel. Setiap kali ia melihat Aksa dari kejauhan, Mishel selalu ada di dekatnya.

Dan setiap kali itu terjadi, dadanya terasa semakin sesak.

Saat jam istirahat tiba, ia memutuskan untuk pergi ke atap sekolah. Tempat itu sepi dan jarang dikunjungi siswa lain. Ia butuh udara segar, butuh tempat untuk berpikir tanpa gangguan.

Tapi saat ia membuka pintu menuju atap, ia mendapati seseorang sudah ada di sana.

Aksa.

Ia berdiri di pinggir pagar, menatap ke bawah dengan tatapan kosong.

Nara mengerutkan kening. "Kak Aksa?"

Aksa menoleh dan sedikit terkejut melihat Nara. "Oh, kamu."

Nara mendekat, berdiri di sampingnya. "Ngapain di sini sendirian?"

Aksa menghela napas pelan. "Cuma butuh udara segar."

Mereka terdiam sesaat, hanya suara angin yang berhembus di antara mereka.

Lalu, Aksa tiba-tiba bertanya, "Kenapa tadi kamu pergi begitu saja?"

Nara tersentak. "Hah?"

"Aku lihat ekspresi kamu tadi pagi," kata Aksa, masih menatap ke depan. "Kamu nggak suka, kan, lihat Mishel dekat sama aku?"

Jantung Nara berdebar kencang.

Ia tidak tahu harus menjawab apa.

"Nara," suara Aksa terdengar lebih dalam. "Jawab aku."

Nara menggigit bibirnya. "Aku... Aku cuma nggak suka cara Mishel memperlakukan orang lain."

Aksa menoleh ke arahnya. "Atau kamu nggak suka karena itu aku?"

Mata mereka bertemu.

Wajah Nara memanas.

Aksa melangkah lebih dekat. "Jujur aja, Nara."

Nara menunduk, tidak sanggup menatapnya lebih lama.

Aksa menghela napas, lalu berkata pelan, "Aku juga nggak suka lihat kamu dekat sama Lio."

Nara terkejut. Ia mengangkat wajahnya, menatap Aksa dengan bingung.

Aksa tersenyum kecil. "Sekarang kita impas."

Dan dengan itu, ia berjalan pergi, meninggalkan Nara yang masih terpaku di tempat.

Jantung Nara masih berdebar kencang.

Apa yang baru saja terjadi?

Dan kenapa kata-kata Aksa barusan membuat perasaannya semakin kacau?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!