Rumah yang Sama, Perasaan yang Berbeda

Nara melangkah masuk ke rumah dengan wajah kesal. Aksa, yang baru saja memarkirkan motornya, hanya menghela napas melihat adik angkatnya itu berjalan tanpa menoleh ke belakang.

Di ruang tamu, Agnes sudah menunggu dengan wajah penuh senyum. "Nara, kamu kenapa mukanya ditekuk begitu?"

"Aku dihukum lari lima puluh putaran, Ma," jawab Nara dengan nada mengadu. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa, merosot hingga kepalanya bersandar.

Agnes mengernyit. "Lima puluh putaran? Aksa, kamu serius?"

Aksa duduk di salah satu kursi, melepaskan jaketnya dengan santai. "Dia bikin keributan di sekolah, Ma. Aku cuma menjalankan tugas sebagai ketua OSIS."

Nara memutar bola matanya. "Ketua OSIS nggak harus sekejam itu, Kak!"

Lio, yang baru saja masuk, tertawa kecil. "Duh, drama lagi."

"Udah, udah." Agnes menepuk paha Nara dengan lembut. "Aksa mungkin memang terlalu keras, tapi dia pasti punya alasan."

Nara hanya mendengus. Devon muncul dari dapur, membawa segelas teh hangat untuk Agnes. "Apa lagi ribut-ribut ini?" tanyanya santai.

"Nara dihukum lari lima puluh putaran oleh Aksa," jawab Agnes dengan nada geli.

Devon menatap Aksa dengan alis terangkat. "Lima puluh? Serius?"

"Serius," jawab Aksa tanpa ekspresi.

"Ya ampun, Nak. Kamu ini ketua OSIS atau pelatih militer?" Devon menggeleng-gelengkan kepala.

Agnes tertawa. "Ya sudah, Nara. Sekarang lebih baik kamu mandi dan istirahat. Mama sudah buat makanan kesukaan kamu."

Mendengar itu, wajah Nara langsung bersinar. "Benar, Ma?"

"Ya, spaghetti carbonara."

Tanpa pikir panjang, Nara bangkit dari sofa. "Aku mandi dulu!" katanya penuh semangat sebelum berlari menuju kamarnya.

Lio tertawa melihat perubahan mood adiknya itu. "Makanan memang segalanya buat Nara."

Agnes mengangguk setuju. "Dan keluarga ini segalanya buat dia."

Aksa diam saja, memperhatikan sosok Nara yang menghilang di tangga.

Ya, keluarga ini segalanya bagi Nara. Tapi bagi Aksa… Nara lebih dari itu.

...----------------...

Setelah makan malam, Nara duduk di balkon kamarnya, menikmati angin malam. Hari ini melelahkan, tapi juga menghangatkan.

Tak lama, pintu balkon di sebelahnya terbuka. Aksa keluar dari kamarnya, menyandarkan tubuhnya di pagar balkon.

"Kakak keras banget sih," gumam Nara, masih kesal.

Aksa meliriknya sekilas. "Kamu tahu kenapa aku menghukum kamu?"

"Karena aku bikin keributan?"

"Bukan cuma itu," jawab Aksa pelan. "Aku nggak mau kamu jadi cewek yang bisa bertindak semaunya tanpa mikir konsekuensinya, Ra. Kamu harus belajar bertanggung jawab."

Nara terdiam. Ia tidak menyangka Aksa berkata seperti itu.

"Aku nggak kejam," lanjut Aksa. "Aku cuma nggak mau kamu diremehkan orang lain karena sikapmu sendiri."

Nara menggigit bibirnya. Meskipun ia masih kesal, ia tahu Aksa tidak pernah berbicara tanpa alasan.

"Aku tetap nggak suka dihukum lima puluh putaran," gumamnya.

Aksa tersenyum kecil. "Ya sudah, lain kali aku kurangi jadi empat puluh sembilan."

Nara mendengus, tapi kali ini ada sedikit tawa di matanya.

Aksa menatap Nara yang menundukkan kepala, menendang-nendang angin dengan ujung kakinya. Sebenarnya, dia ingin meminta maaf. Tapi sebagai Aksa—seseorang yang selalu tenang dan tak banyak bicara—itu sulit baginya.

"Aku nggak akan sekejam itu lagi," ucap Aksa, nyaris seperti gumaman.

Nara melirik sekilas. "Janji?"

Aksa tersenyum kecil. "Kita lihat nanti."

Nara mendengus, lalu kembali menatap langit malam yang mulai dipenuhi bintang. Dalam hati, ia tahu satu hal.

Meski mereka sering bertengkar, Aksa selalu ada untuknya.

Malam itu, angin berhembus pelan.

Dan tanpa mereka sadari, sebuah perasaan yang lebih dalam mulai tumbuh dalam keheningan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!