Malam itu, hujan masih mengguyur kota dengan deras. Suasana rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Nara duduk di meja belajar, mencoba fokus pada buku Matematikanya, tapi pikirannya terus berputar ke arah yang sama—Aksa.
Ia sudah mencoba mengabaikannya seharian, tapi tidak bisa. Setiap kali mengingat sikap Aksa yang berubah, hatinya terasa aneh.
Dulu, meskipun Aksa sering mengomelinya, setidaknya mereka masih berbicara. Tapi sekarang?
Sejak beberapa hari terakhir, kakaknya itu benar-benar menjaga jarak.
Kenapa?
Nara menghela napas, menutup bukunya dengan kasar, lalu berdiri. Ia keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur untuk mengambil minum.
Namun, langkahnya terhenti di ruang tamu ketika melihat seseorang duduk sendirian di sana.
Aksa.
Laki-laki itu duduk di sofa dengan kepala bersandar ke belakang, matanya terpejam, dan ekspresinya terlihat lelah.
Entah apa yang mendorongnya, tapi sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, Nara sudah melangkah mendekat.
"Kak," panggilnya pelan.
Aksa membuka matanya sedikit, lalu menoleh ke arah Nara. "Hmmm?"
"Kita kenapa, sih?"
Aksa mengernyit. "Maksudnya?"
Nara duduk di sofa sebelahnya, menatapnya lekat-lekat. "Kamu ngehindarin aku, kan?"
Aksa terdiam beberapa detik, lalu mengalihkan pandangan. "Nggak ada yang aku hindarin."
"Jangan bohong."
Aksa menghela napas. "Nara, ini udah malam. Kamu tidur sana."
"Tidak sebelum kamu jawab." Nara menatapnya tajam.
Aksa mendengus pelan, lalu menatap balik gadis itu. Ada sesuatu di matanya yang membuat Nara semakin tidak mengerti—seperti ada banyak hal yang ia sembunyikan.
"Kak Aksa," suara Nara melembut, "aku salah apa?"
Aksa tersentak sedikit.
"Kenapa kamu tiba-tiba berubah?" lanjut Nara, suaranya lebih lirih. "Kamu selalu ada buat aku. Selalu ngingetin aku ini itu. Selalu marahin aku kalau aku malas-malasan. Tapi sekarang..."
Nara menggigit bibirnya. "Sekarang kamu kayak orang lain."
Aksa menelan ludah. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Karena kenyataannya, Nara tidak salah apa-apa.
Justru dia yang salah.
Dia yang tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri.
Dan itu yang membuatnya memilih untuk menjaga jarak.
"Aku cuma..." Aksa menarik napas dalam. "Aku cuma butuh waktu, Ra."
Nara menatapnya penuh tanda tanya. "Waktu buat apa?"
Aksa tidak menjawab.
Karena kalau ia menjawab, Nara pasti akan tahu segalanya.
Dan Aksa belum siap untuk itu.
---
Keesokan harinya di sekolah, Nara duduk di kantin bersama Lio.
"Jadi, kamu udah ngomong sama Aksa?" tanya Lio sambil menyuap makanannya.
Nara mengaduk-aduk jus jeruknya dengan sendok kecil. "Udah. Tapi dia tetap nggak mau cerita."
Lio menatap adiknya itu dengan ekspresi berpikir.
"Dia pasti nyembunyiin sesuatu," lanjut Nara. "Tapi aku nggak tahu apa."
Lio tersenyum kecil. "Kamu penasaran?"
"Tentu saja!" Nara mendengus kesal. "Aku ini adiknya! Kalau dia ada masalah, harusnya dia cerita!"
Lio terkekeh. "Yakin cuma karena itu?"
Nara mengerjap. "Maksudnya?"
Lio mengangkat bahu santai. "Nggak, cuma nanya aja."
Nara menatap Lio curiga. Kakaknya itu selalu punya maksud tersembunyi di balik kata-katanya.
Tapi sebelum ia bisa bertanya lebih lanjut, suara seseorang tiba-tiba terdengar dari belakang mereka.
"Aksa kemana?"
Nara menoleh dan mendapati Mishel berdiri di sana, dengan ekspresi cemas.
Lio dan Nara saling pandang.
"Aksa?" ulang Nara.
Mishel mengangguk. "Iya. Dia nggak ada di kelas. Dan sekarang jam istirahat, tapi aku nggak lihat dia di mana-mana."
Lio menghela napas. "Mungkin lagi sendirian."
"Tapi dia nggak biasa kayak gini," Mishel bersikeras. "Aku khawatir."
Nara mendadak merasakan sesuatu yang aneh di dadanya.
Mishel khawatir sama Aksa.
Tentu saja.
Mishel menyukai Aksa.
Dan itu... seharusnya biasa saja, kan?
Tapi kenapa rasanya seperti ada yang mengganjal?
"Ra," suara Lio membuyarkan pikirannya. "Kamu mau cari Aksa?"
Nara tersentak. "Apa?"
Lio menatapnya dengan tatapan penuh arti. "Kalau kamu khawatir juga, ayo kita cari dia."
Nara menggigit bibirnya.
Ia ingin bilang tidak.
Tapi sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, kakinya sudah melangkah lebih dulu.
---
Di tempat lain, Aksa duduk sendirian di lapangan belakang sekolah, menatap tanah dengan ekspresi kosong.
Ia butuh waktu sendiri.
Tapi jauh di lubuk hatinya, ia juga tahu...
Kalau Nara datang mencarinya, mungkin ia tidak akan sanggup menolaknya lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments