Sepanjang perjalanan pulang, Nara memilih diam. Biasanya, ia akan sibuk mengomel atau bercanda dengan Lio di atas motor. Namun kali ini, ia hanya menatap kosong ke jalanan yang mulai gelap, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Lio meliriknya sekilas dari kaca spion. "Kenapa diem aja?" tanyanya ringan, namun ada nada menggoda dalam suaranya.
Nara berkedip, tersadar dari lamunannya. "Nggak kenapa-kenapa," jawabnya cepat.
"Yakin?"
"Iya!"
Lio hanya terkekeh kecil. Ia tahu adiknya terlalu keras kepala untuk mengakui kalau ada sesuatu yang mengganggunya. Tapi ia bisa menebak penyebabnya.
Aksa.
Dan Mishel.
"Nanti malam mama masak makanan favorit kamu, tuh," ujar Lio, mencoba mengalihkan suasana. "Katanya mau bikin ayam teriyaki sama sup jagung."
Mata Nara sedikit berbinar. "Serius?"
Lio tertawa. "Iya, makanya jangan cemberut terus. Nanti nggak nafsu makan."
Nara mendengus, tapi setidaknya, pikirannya sedikit teralihkan. Ia memang selalu menantikan masakan Tante Agnes—atau lebih tepatnya, mama angkatnya.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampai di rumah. Nara segera masuk ke dalam, melempar tasnya ke sofa, lalu berjalan ke dapur. Aroma harum masakan langsung menyambutnya.
"Mama!" panggilnya ceria, seakan kejadian di sekolah tadi tidak pernah ada.
Agnes menoleh dan tersenyum hangat. "Kamu udah pulang? Capek?"
"Enggak, tapi laper!" Nara langsung duduk di kursi meja makan, menatap ayam teriyaki yang masih mengepul dengan penuh semangat.
Devon, yang sedang membaca koran di ruang tamu, melirik ke arah putri angkatnya itu. "Kalau dari ekspresi kamu, pasti hari ini ada sesuatu yang terjadi," katanya sambil tersenyum kecil.
Nara mengernyit. "Nggak ada apa-apa kok, Pa."
Devon tertawa kecil. "Yakin?"
Nara mengangguk mantap. Ia tidak mau membahas soal Aksa dan Mishel di depan orang tuanya.
Tak lama, Aksa masuk ke rumah. Ia masih mengenakan seragam sekolah, dengan dasinya sedikit longgar.
Nara langsung pura-pura sibuk dengan makanannya.
Aksa berjalan ke dapur, mengambil gelas, lalu menuangkan air minum untuk dirinya sendiri. "Dari tadi aku lihat kamu diem aja," katanya tiba-tiba, suaranya terdengar santai.
Nara mendongak. "Aku nggak diem."
Aksa menatapnya dengan alis sedikit terangkat. "Oh ya?"
Nara mengangguk, berusaha bersikap biasa saja. "Aku cuma lagi lapar."
Aksa menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat bahu dan berjalan pergi. Tapi sebelum benar-benar keluar dari dapur, ia sempat berkata, "Jangan terlalu dipikirin."
Nara mengerutkan dahi. "Apa sih?"
Tapi Aksa tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil sebelum akhirnya menghilang ke kamarnya.
Nara memandang punggungnya yang menjauh dengan kesal.
Kenapa Aksa berkata seperti itu?
Apa dia tahu sesuatu?
---
Malamnya, setelah semua orang masuk ke kamar masing-masing, Nara berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit dengan perasaan campur aduk.
Apa yang terjadi padanya hari ini?
Kenapa melihat Aksa dengan Mishel membuatnya tidak nyaman?
Kenapa hatinya terasa berat setiap kali ia mengingat cara Mishel menatap Aksa?
Nara menggulung dirinya dengan selimut, mencoba mengabaikan perasaan aneh yang terus menghantuinya.
Tidak mungkin.
Aksa itu kakaknya.
Setidaknya, begitulah yang selalu ia yakini.
Tapi kenapa sekarang, setiap kali ia memikirkannya, dadanya terasa begitu sesak?
Nara menghela napas panjang.
Ia benar-benar tidak mengerti perasaannya sendiri.
Tapi satu hal yang ia tahu dengan pasti—ia tidak suka melihat Aksa dengan orang lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments