Hati yang Tak Mau Mengaku

Nara menatap pantulan dirinya di cermin. Rambutnya masih sedikit basah setelah mandi, dan pipinya masih memerah karena kesal pada Aksa.

"Dasar Kak Aksa nyebelin," gumamnya sambil mengusap wajah. "Bilang nggak kejam, tapi tetap aja tega."

Namun, di balik omelannya, ada sesuatu yang lain. Sebuah perasaan yang tak bisa ia jelaskan.

Kenapa Aksa selalu bersikap begitu padanya? Kenapa Aksa selalu mengawasi, menegur, bahkan menghukum dengan cara yang lebih keras dibandingkan orang lain?

Apa karena ia hanya anak angkat di keluarga ini?

Nara menggelengkan kepala. Tidak. Mama Agnes dan Papa Devon selalu memperlakukannya seperti anak sendiri. Lio juga menyayanginya seperti adik kandung. Tapi Aksa…

Aksa berbeda.

...----------------...

Sementara di kamarnya, Aksa duduk di tepi ranjang, menatap ponselnya dengan pikiran kosong.

Di layar, ada sebuah foto lama—foto mereka bertiga saat kecil. Nara di tengah, tersenyum lebar, diapit oleh dirinya dan Lio.

Dulu, semuanya lebih mudah.

Dulu, Nara hanya seorang gadis kecil yang ia lindungi.

Tapi sekarang?

Aksa meremas ponselnya. Tidak. Ia tidak boleh berpikir seperti ini.

Baginya, Nara adalah adik. Titik.

Tidak ada yang lebih. Tidak boleh ada yang lebih.

...----------------...

Pagi harinya, Nara turun ke ruang makan dengan mata masih mengantuk. Agnes sudah menyiapkan sarapan di meja, dan Lio sedang sibuk dengan ponselnya.

"Kak Aksa mana?" tanya Nara sambil menguap.

"Udah berangkat lebih dulu," jawab Lio tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.

Nara mengernyit. Biasanya, Aksa menunggu mereka sebelum berangkat ke sekolah.

Kenapa tiba-tiba pergi lebih dulu?

"Kenapa dia buru-buru?" gumam Nara, setengah berbicara pada dirinya sendiri.

Agnes tersenyum kecil. "Mungkin dia sibuk. Kamu kenapa? Kangen?"

Nara tersedak roti yang sedang dikunyahnya. "Ma! Nggak lah!"

Lio tertawa. "Padahal kalau Kak Aksa ada, kamu pasti bakal ribut lagi."

Nara mendengus. "Mending ribut daripada diem-diem pergi gitu."

Agnes menatapnya dengan tatapan lembut, seolah memahami sesuatu yang Nara sendiri belum sadar.

Di sekolah, suasana terasa sedikit berbeda. Biasanya, di pagi hari seperti ini, Aksa akan berdiri di depan kelas, memantau para siswa yang datang terlambat atau sekadar memberi perintah pada anggota OSIS.

Tapi hari ini, sosoknya tidak terlihat.

Nara melirik sekeliling. "Kak Aksa ke mana?"

Mishel, yang tiba-tiba muncul di sampingnya, ikut menimpali. "Kayaknya dia lagi rapat sama guru-guru deh."

"Oh…" Nara mengangguk, tapi tetap merasa aneh.

Tanpa sadar, sepanjang hari itu, matanya terus mencari sosok Aksa.

Dan ketika akhirnya mereka bertemu di lorong sekolah, Aksa hanya berjalan melewatinya tanpa berkata apa-apa.

Nara berhenti di tempat, menatap punggung Aksa yang semakin menjauh.

Kenapa rasanya ada sesuatu yang berubah?

Malamnya, Nara tidak bisa tidur. Ia berbaring di ranjang, menatap langit-langit dengan pikiran penuh.

Aksa menghindarinya. Itu jelas.

Tapi kenapa?

Apakah Aksa marah? Apakah dia kecewa?

Atau… apakah ada sesuatu yang Aksa sembunyikan?

Nara menghela napas, lalu bangkit dari ranjangnya.

Ia tahu, satu-satunya cara untuk mendapatkan jawaban adalah dengan bertanya langsung.

Dengan langkah pelan, ia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar Aksa.

Tangannya sudah terangkat untuk mengetuk pintu, tapi tiba-tiba suara di dalam kamar membuatnya membeku.

Suara Aksa.

"Kenapa harus Nara…?"

Jantung Nara berhenti sejenak.

Apa maksudnya?

Ia menempelkan telinganya ke pintu, berusaha mendengar lebih jelas.

Tapi kemudian, suara langkah kaki mendekat.

Nara buru-buru mundur, jantungnya berdebar kencang.

Pintu kamar terbuka.

Aksa berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan terkejut dan… sesuatu yang lain.

"Nara?"

Nara meneguk ludah. "K-Kak… Aku…"

Aksa terdiam, lalu menarik napas dalam. "Kamu ngapain di sini?"

"Aku cuma…" Nara menggigit bibir. "Aku mau tanya, kenapa Kak Aksa menghindari aku?"

Aksa tidak langsung menjawab. Matanya menatap dalam ke arah Nara, seolah sedang menimbang sesuatu.

Dan kemudian, dengan suara pelan tapi penuh arti, ia menjawab:

"Aku nggak tahu, Nara."

Malam itu, di bawah cahaya remang kamar, dua hati saling bertanya.

Tapi tak satu pun berani mencari jawaban.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!