Mishel melangkah keluar dari tempat persembunyiannya dengan ekspresi penuh tekad. Ia tahu, jika ia hanya diam dan membiarkan semuanya berjalan seperti ini, maka Aksa akan semakin jauh darinya—dan semakin dekat dengan Nara.
Itu tidak bisa terjadi.
Nara bukan siapa-siapa.
Ia harus mengingatkan Aksa tentang hal itu.
Dengan langkah cepat, Mishel berjalan kembali ke kelasnya, pikirannya dipenuhi dengan berbagai cara untuk membuat Aksa melihatnya, bukan Nara.
---
Sementara itu, Nara berjalan di samping Aksa menuju gedung sekolah.
Suasana di antara mereka terasa canggung. Biasanya, mereka bisa bercanda atau bertengkar kecil di perjalanan seperti ini. Tapi sekarang, Aksa terasa seperti orang asing.
Nara melirik kakaknya itu, yang berjalan dengan ekspresi dingin seperti biasa.
Tapi ada sesuatu di mata Aksa yang tidak bisa ia pahami.
Sejak kapan semuanya berubah begini?
Sejak kapan Aksa mulai menjaga jarak?
Ia ingin bertanya.
Ia ingin menuntut jawaban.
Tapi bagian lain dalam dirinya ragu.
Karena jika ia bertanya, ia takut mendapatkan jawaban yang tidak ia inginkan.
---
Di kelas XI IPA 1, Mishel duduk di bangkunya sambil menggigit ujung pulpennya.
Teman-teman sekelasnya asyik mengobrol, tapi pikirannya masih terpaku pada pemandangan yang baru saja ia lihat.
Aksa dan Nara.
Berdua.
Di tempat sepi.
Mishel mengepalkan tangannya. Tidak, ia tidak boleh hanya diam.
Ia harus bertindak.
Dengan cepat, ia mengeluarkan ponselnya dan membuka chat dengan Aksa.
Mishel: Sa, kamu sibuk nggak?
Beberapa menit kemudian, Aksa membalas.
Aksa: Kenapa?
Mishel tersenyum miring. Ia tahu Aksa bukan tipe orang yang suka basa-basi lewat chat, tapi setidaknya ia masih mau membalas pesannya.
Mishel: Aku mau ngomong sesuatu. Bisa ketemu di taman belakang sekolah nanti pas pulang?
Butuh beberapa saat sebelum Aksa membalas lagi.
Aksa: Oke.
Mishel meletakkan ponselnya di meja dan tersenyum puas.
Langkah pertama: menarik perhatian Aksa.
Langkah kedua?
Membuatnya menjauh dari Nara.
---
Saat jam sekolah berakhir, Nara berjalan keluar kelasnya dengan langkah malas. Hari ini terasa panjang, dan pikirannya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan yang belum terjawab.
Saat ia sampai di parkiran, ia melihat Lio sudah bersandar di motornya sambil menatap layar ponsel.
"Kak Aksa belum keluar?" tanya Nara sambil melihat sekeliling.
Lio mengangkat bahu. "Kayaknya ada urusan."
Nara mengerutkan kening. "Urusan apa?"
Lio menatap adiknya dengan ekspresi penuh arti. "Kenapa? Penasaran?"
Nara melipat tangan di dada. "Bukan urusan aku juga, kan?"
Lio tersenyum kecil. "Tapi kamu kepikiran, ya?"
Nara menghela napas kesal dan mengalihkan pandangan. Tapi dalam hati, ia tidak bisa memungkiri kalau ia memang penasaran.
Aksa sedang apa?
Dan dengan siapa?
---
Di taman belakang sekolah, Aksa berdiri bersandar di pagar, menunggu Mishel datang.
Ia sebenarnya tidak terlalu ingin ada di sini, tapi Mishel memintanya, dan ia tidak punya alasan untuk menolak.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar, dan Mishel muncul dengan senyum khasnya.
"Sa," panggilnya.
Aksa mengangguk singkat. "Ada apa?"
Mishel menggigit bibirnya sebelum akhirnya berkata, "Aku cuma... pengen ngobrol aja. Aku ngerasa akhir-akhir ini kamu agak beda."
Aksa mengangkat alis. "Beda gimana?"
Mishel menghela napas. "Lebih dingin, lebih pendiam. Biasanya, kamu selalu bisa diandalkan di kelas, tapi sekarang kayak lebih sering menyendiri."
Aksa tidak menjawab.
Mishel melangkah lebih dekat, menatapnya dalam. "Sa, aku cuma pengen bilang... kalau ada apa-apa, aku ada buat kamu."
Aksa menatap gadis itu, membaca ketulusan di matanya.
Ia tahu Mishel menyukainya.
Sudah lama.
Tapi perasaannya tidak sama.
"Aku nggak kenapa-kenapa, Mishel," jawab Aksa akhirnya. "Cuma lagi banyak pikiran."
Mishel tersenyum kecil. "Kalau gitu, jangan pikiran sendirian, ya?"
Aksa mengangguk, meskipun ia tahu, Mishel tidak akan bisa membantunya dengan masalah yang sebenarnya.
Karena masalahnya adalah sesuatu yang tidak bisa ia bagi dengan siapa pun.
Masalahnya adalah Nara.
Dan itu adalah sesuatu yang ia tidak boleh rasakan.
Atau boleh?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments