Pagi itu, hujan turun dengan deras. Suasana sekolah yang biasanya ramai kini dipenuhi suara rintik air yang menghantam genting dan jalanan basah.
Nara melangkah masuk ke kelasnya dengan sedikit lesu. Tasnya menggantung di satu bahu, rambutnya sedikit lembab akibat gerimis yang turun saat ia turun dari motor Lio tadi.
Biasanya, di pagi seperti ini, Aksa akan menyapanya, entah dengan teguran karena bangun kesiangan atau sekadar mengomentari gaya rambutnya yang berantakan.
Tapi hari ini—tidak.
Sejak kejadian malam itu, Aksa semakin menjaga jarak.
"Nara!" suara seorang teman memanggilnya, membuatnya tersentak dari lamunan.
"Eh?"
"Kamu nggak denger? Ada tugas Matematika, loh! Udah dikerjain?"
Nara mengerjapkan mata. Ia bahkan tidak ingat ada tugas.
"Belum," jawabnya sekenanya. "Bisa nyontek nggak?"
"Ya ampun, Nara! Nih, cepet salin sebelum Bu Rina datang!"
Nara tersenyum kecil, menerima buku itu, tapi pikirannya tetap melayang ke tempat lain.
Ke seseorang.
...----------------...
Sementara itu, di kelas sebelah, Aksa sedang mendengarkan penjelasan guru di depan. Atau lebih tepatnya, berpura-pura mendengarkan.
Sejak pagi, pikirannya penuh dengan satu nama—Nara.
Ia tahu dirinya mulai keterlaluan. Sikapnya yang menjauh pasti sudah Nara sadari, dan entah kenapa, Aksa merasa bersalah.
Tapi ia juga tidak tahu harus berbuat apa.
"Aksa," sebuah suara lembut menyadarkannya.
Ia menoleh dan melihat Mishel tersenyum ke arahnya.
"Kamu kenapa sih? Dari tadi bengong terus," tanya Mishel dengan suara pelan, agar tidak terdengar guru.
Aksa menggeleng. "Nggak apa-apa."
Mishel menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum kecil. "Jangan terlalu stres, ya. Aku di sini kalau kamu butuh cerita."
Aksa hanya mengangguk tanpa menjawab.
Mishel selalu seperti itu. Berusaha ada untuknya.
Tapi anehnya, walaupun Mishel selalu menunjukkan perhatiannya, Aksa tidak pernah merasakan apa pun selain rasa nyaman sebagai teman.
Sementara dengan Nara…
Satu tatapan dari gadis itu saja sudah cukup membuat dunianya berantakan.
Saat jam pulang sekolah tiba, hujan masih turun dengan derasnya. Beberapa siswa berlarian mencari tempat berteduh, sementara yang lain memilih menunggu di dalam kelas.
Nara berdiri di depan pintu kelasnya, memperhatikan rintik hujan dengan wajah muram.
Lio, yang sudah bersiap dengan jas hujan, menepuk pundaknya. "Ayo pulang. Aku udah siap."
Nara menoleh ke arah tempat parkir, di mana Aksa juga sedang mengenakan jaketnya.
Biasanya, ia selalu pulang bersama Aksa.
Tapi hari ini, seperti beberapa hari terakhir, Aksa bahkan tidak melirik ke arahnya.
Nara menggigit bibirnya, lalu mengangguk ke Lio. "Ayo."
Lio tersenyum tipis. "Oke, naik di belakang."
Saat Nara menaiki motor Lio, matanya masih tertuju pada Aksa yang kini tengah menaiki motornya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, mereka pulang dengan arah yang berbeda.
Tanpa saling menoleh.
Tanpa sepatah kata pun.
Dan entah kenapa, hal itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada yang Nara kira.
Di rumah, Nara membanting tasnya ke kasur dan langsung merebahkan diri.
Hatinya terasa sesak.
Kenapa rasanya nggak enak banget? Kenapa ia merasa ada yang berubah?
Dulu, Aksa selalu ada. Entah untuk mengomelinya, menggodanya, atau sekadar menyebalkan seperti biasanya.
Tapi sekarang, Aksa menjauh.
Dan ia tidak suka.
Nara menghela napas dalam-dalam, lalu berbalik menatap langit-langit.
Apakah ia melakukan sesuatu yang salah?
Ataukah…
Ada alasan lain yang Aksa sembunyikan darinya?
Di kamar sebelah, Aksa duduk di kursinya, menatap ponselnya dengan ekspresi bimbang.
Jarinya melayang di atas layar, ingin mengetik sesuatu untuk Nara.
Tapi pada akhirnya, ia hanya mengunci layar dan meletakkan ponsel itu ke meja.
Jarak ini harus tetap ada.
Sebab jika tidak, ia takut…
Takut perasaan ini akan semakin sulit dikendalikan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments