Di perjalanan pulang, Nara masih cemberut. Duduk di belakang Lio, ia menyilangkan tangan di dada, berusaha menunjukkan bahwa ia benar-benar kesal.
Lio, yang paham betul sifat adiknya, hanya tersenyum kecil. Sesekali, ia melirik ke kaca spion dan melihat Aksa yang masih mengikuti mereka dari belakang.
"Aksa kayaknya ngerasa bersalah tuh," celetuk Lio sambil menekan gas lebih dalam, membuat motornya sedikit melaju lebih cepat.
"Biarin," gerutu Nara. "Aku nggak peduli. Lagian, siapa juga yang suruh dia nyuruh aku lari lima puluh putaran? Itu kejam!"
Lio tertawa pelan. "Lagian, kamu juga yang bikin onar di sekolah."
"Aku nggak sendirian! Mishel juga! Tapi kenapa aku yang dihukum lebih parah?" Nara mengerucutkan bibirnya, semakin jengkel mengingat kejadian tadi.
"Terserah, pokoknya aku nggak mau ngomong sama Kak Aksa lagi."
Lio menggeleng pelan. "Yakin?"
Baru saja Nara ingin menjawab, suara klakson terdengar dari belakang. Aksa menyalip motor mereka dengan mulus, lalu berhenti di depan, menghadang jalan.
"Lio, berhenti bentar."
Lio mengerem mendadak. Nara yang tidak siap hampir terjatuh ke depan, membuatnya semakin kesal.
"Ya ampun, Kak Aksa! Mau apa sih?!" Nara melipat tangan, menatap kakaknya dengan mata penuh kemarahan.
Aksa turun dari motor, lalu berjalan santai ke arah mereka. Senyumnya tipis, tapi sorot matanya menunjukkan bahwa ia serius.
"Nara, turun."
"Enggak!"
Aksa menghela napas. "Turun," ulangnya, kali ini lebih tegas.
Lio menahan tawa melihat interaksi kakak-beradik ini, tapi ia tetap menurunkan standar motornya. "Udah, Ra. Kasihan Kak Aksa."
Nara masih diam, tetapi akhirnya ia turun dari motor Lio, lalu berdiri dengan tangan di pinggang. "Mau apa lagi?"
Aksa menatapnya sebentar, lalu—
"Eh! Apa-apaan sih, Kak?!"
Dalam satu gerakan cepat, Aksa menaruh helmnya di kepala Nara dan menguncinya.
"Aku antar pulang," katanya santai.
"Enggak mau!"
"Kalau kamu nggak naik motorku, aku nggak akan berangkat," ucap Aksa, melipat tangan. "Kita lihat siapa yang lebih keras kepala."
Nara mendengus kesal. "Aku bisa jalan kaki!"
"Kita tiga kilometer dari rumah."
"Peduli apa?"
Aksa mengangkat alisnya. "Mau aku telepon mama, bilang kalau kamu kabur dari rumah?"
Nara ternganga. "Kak Aksa! Jangan keterlaluan dong!"
"Jadi?" Aksa menyodorkan jok belakang motornya sekali lagi. "Naik?"
Nara menimbang-nimbang. Lio hanya tersenyum iseng di belakang, jelas menikmati pertunjukan ini.
"Baiklah!" gerutu Nara akhirnya, lalu naik ke motor Aksa dengan enggan.
"Bagus." Aksa menyalakan mesin motor dan melirik ke kaca spion, melihat Nara yang masih cemberut.
Lio tertawa kecil. "Selamat menikmati perjalanan penuh gengsi, Ra!"
Nara melotot. "Aku masih marah!"
Aksa tersenyum, melaju perlahan. "Kita lihat nanti."
Dan di sepanjang perjalanan, meski ia tak mau mengakuinya, Nara mulai merasa bahwa marah terlalu lama pada Aksa ternyata tidak semudah yang ia kira.
...---------------...
Hi Semua,
Maafya aku baru update lagi setelah sekian lama, bahkan udah hampir 2 tahun lebih aku nggak update update. Ini karna kesibukan aku belakangan ini, tapi aku janji buat lebih sering update buat kalian, asal aku minta dukungan dari kalian ya, soalnya ini karya pertamaku, walaupun babnya masih sedikit tapi InsyaAllah mau aku kembangin lagi dan lagi. Aku harap kalian nggak bosen baca karyaku yang satu ini ya. Bismillah, Dadah guys
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments