Perasaan Aksa Tak Bisa Dihindari

Langkah kaki Nara semakin cepat saat ia melewati koridor sekolah. Hatinya gelisah, bukan hanya karena Aksa menghilang, tapi juga karena kata-kata Mishel tadi.

Mishel khawatir pada Aksa.

Dan itu membuat Nara merasa aneh.

Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak peduli. Tapi semakin ia mencoba, semakin kuat rasa tak nyaman di dadanya.

"Lio, kita nyari ke mana dulu?" tanya Nara sambil melirik kakaknya.

Lio menghela napas, tangannya dimasukkan ke saku celana. "Aksa suka tempat sepi kalau lagi nggak mau diganggu. Lapangan belakang mungkin?"

Nara mengangguk, lalu tanpa menunggu lebih lama, ia langsung berlari menuju lapangan belakang sekolah.

Di belakangnya, Lio hanya bisa tersenyum kecil sebelum mengikuti langkah adiknya itu.

---

Di lapangan belakang, Aksa masih duduk bersandar di batang pohon besar. Ia tidak ingin berada di tengah keramaian, apalagi bertemu dengan seseorang yang bisa membaca pikirannya hanya dengan tatapan—Nara.

Sejak kecil, gadis itu selalu bisa melihat lebih dari yang ia tunjukkan.

Dan itu bahaya.

Karena Aksa sudah terlalu banyak menyimpan perasaan yang seharusnya tidak pernah ada.

Ia mendesah pelan, menutup mata, membiarkan pikirannya kosong.

Namun ketenangannya hanya bertahan sebentar.

"Nah, ketemu!"

Aksa membuka matanya dan langsung melihat Nara berdiri beberapa meter darinya, napasnya sedikit terengah karena berlari.

Aksa buru-buru mengalihkan pandangan. "Ngapain ke sini?"

"Kamu ngapain sendirian di sini?" Nara balas bertanya.

"Diam."

"Serius, Kak. Kamu kenapa?"

Aksa mengusap wajahnya, berusaha menahan frustrasi yang mulai muncul. "Aku nggak kenapa-kenapa, Ra. Aku cuma pengen sendiri."

Nara mengerucutkan bibir. "Kamu aneh akhir-akhir ini. Menghindar dari aku, terus tiba-tiba menghilang pas jam istirahat."

Aksa tidak menjawab.

Nara melipat tangan di depan dada. "Kak, kalau kamu ada masalah, ceritalah. Aku ini adikmu!"

Aksa tersentak.

Adik.

Kata itu terasa seperti pukulan telak.

Ia menghela napas, menekan perasaannya yang mulai memberontak. "Ra, tolong. Aku cuma pengen sendiri. Itu aja."

Nara menatapnya dengan ekspresi tidak puas, tapi akhirnya ia mendesah dan duduk di sampingnya.

"Kalo kamu nggak mau cerita, ya udah," gumamnya. "Tapi aku juga nggak bakal ninggalin kamu sendirian."

Aksa melirik gadis itu dari ekor matanya.

Nara menatap langit, seolah tidak menyadari tatapan Aksa.

Angin berembus pelan, membawa aroma rumput basah setelah hujan.

Jarak antara mereka sangat dekat.

Terlalu dekat.

Dan Aksa tidak tahu apakah ia bisa terus bertahan dengan batas yang mereka ciptakan sejak dulu.

---

Dari kejauhan, Mishel berdiri diam di sudut gedung sekolah, memperhatikan mereka berdua.

Tangannya mengepal erat.

Ia datang untuk mencari Aksa.

Tapi yang ia temukan adalah Aksa dan Nara—berdua, duduk bersama di bawah pohon, seperti hanya mereka yang ada di dunia ini.

Ada sesuatu dalam cara Aksa memandang Nara yang membuat hati Mishel terasa nyeri.

Tatapan itu.

Bukan tatapan seorang kakak kepada adiknya.

Mishel mengepalkan tangan lebih erat. Ia tahu ia menyukai Aksa, bahkan sejak awal masuk kelas 11. Tapi selama ini, ia tidak pernah berpikir bahwa Aksa bisa menyukai seseorang—apalagi Nara.

Kenapa harus dia?

Nara hanyalah anak yang diadopsi oleh keluarga Aksa. Ia bukan siapa-siapa.

Mishel menggigit bibirnya, dadanya terasa sesak. Ia ingin pergi dari sana, tapi kakinya seakan tertanam di tanah.

Ia terus memperhatikan bagaimana Aksa dan Nara duduk berdampingan. Bagaimana Nara bicara dengan leluasa, tanpa canggung, tanpa ragu. Bagaimana Aksa tidak mengusirnya meskipun jelas-jelas ingin sendiri.

Dan bagaimana Aksa menatapnya dengan cara yang berbeda.

Tidak.

Mishel tidak bisa membiarkan ini terjadi.

---

Di bawah pohon, Aksa masih berusaha menjaga pikirannya tetap jernih.

Namun, semakin lama Nara berada di dekatnya, semakin sulit baginya untuk tidak menyerah pada perasaan yang selama ini ia pendam.

"Aku masih nggak ngerti kenapa kamu berubah," ujar Nara pelan, menatap rerumputan di depannya. "Tapi aku harap, apapun itu, kamu nggak menjauh dariku lagi."

Aksa mengernyit. "Kenapa?"

Nara menoleh, lalu tersenyum kecil. "Karena aku butuh Kak Aksa yang dulu."

Hati Aksa mencelos.

Ia ingin mengatakan bahwa ia masih Aksa yang sama. Tapi kenyataannya, ia bukan lagi orang yang sama.

Dulu, ia bisa dengan mudah bersikap biasa di dekat Nara.

Sekarang?

Setiap kali gadis itu tersenyum, hatinya bergetar.

Setiap kali mereka bersentuhan, ia merasa gugup.

Dan setiap kali ada laki-laki lain di dekat Nara, ia merasa ingin menjauhkan mereka sejauh mungkin.

"Kak Aksa?" suara Nara membuyarkan lamunannya.

Aksa menelan ludah. Ia tidak boleh terus seperti ini. Ia harus tetap menjaga batas.

Ia berdiri, menepuk celananya, lalu menatap Nara dengan ekspresi datar. "Udah siang. Ayo balik ke kelas."

Nara mengerutkan kening. "Kak—"

"Ayo," potong Aksa, suaranya lebih tegas.

Nara mendengus pelan, lalu ikut berdiri. Ia tahu Aksa sedang menghindar lagi, tapi kali ini ia tidak akan memaksa.

Namun, satu hal yang pasti—ia tidak akan berhenti mencari tahu apa yang sebenarnya disembunyikan Aksa darinya.

Sementara itu, dari kejauhan, Mishel tersenyum miring.

Jika Aksa memang menyukai Nara, maka ia harus melakukan sesuatu sebelum semuanya menjadi lebih buruk.

Karena ia tidak akan membiarkan gadis itu merebut Aksa darinya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!