Nara masih berdiri di tempatnya, merasakan detak jantungnya yang tidak beraturan. Angin di atap sekolah berembus pelan, namun tidak cukup untuk menenangkan pikirannya yang kacau.
Aku juga nggak suka lihat kamu dekat sama Lio.
Kata-kata Aksa tadi terus terngiang di kepalanya. Apa maksudnya? Kenapa Aksa mengatakan itu? Apa ia hanya bercanda, atau ada sesuatu di baliknya?
Nara menghela napas panjang, mencoba mengabaikan perasaan aneh yang menyelimutinya. Namun, semakin ia berusaha melupakan, semakin kuat debaran di dadanya.
Tanpa sadar, jemarinya mencengkeram ujung roknya erat.
"Tidak mungkin..." gumamnya pelan.
Tidak mungkin Aksa memiliki perasaan yang berbeda padanya. Mereka tumbuh bersama, tidur di bawah atap yang sama, makan dari masakan Tante Agnes yang sama. Tidak mungkin ada sesuatu yang lebih dari sekadar hubungan saudara angkat.
Tapi jika memang begitu, kenapa setiap kali Mishel mendekati Aksa, hatinya terasa sakit? Kenapa setiap kali Aksa bicara dengan nada rendah padanya, ia merasakan sensasi aneh di perutnya?
"Ugh! Kenapa aku jadi begini sih?!" Nara meremas rambutnya frustasi.
"Begitu apa?"
Suara itu membuat Nara terlonjak. Ia berbalik cepat, mendapati Lio berdiri di ambang pintu atap dengan ekspresi penasaran.
"K-Kak Lio?"
Lio menyilangkan tangan di dada, bersandar santai di ambang pintu. "Kenapa kayak orang habis ketahuan nyuri?" tanyanya dengan nada menggoda.
Nara mengerucutkan bibirnya. "Aku nggak nyuri apa-apa."
Lio terkekeh dan melangkah mendekat. "Terus, kenapa kamu terlihat kayak orang yang lagi banyak pikiran?"
Nara mengalihkan pandangannya, menatap langit yang cerah. "Nggak ada apa-apa..."
Lio menghela napas. Ia duduk di pagar pembatas atap, menatap Nara dengan ekspresi serius. "Jangan bohong. Aku tahu ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu."
Nara menggigit bibirnya, ragu apakah ia harus bercerita atau tidak. Tapi ini Lio. Kakaknya. Orang yang selalu ada untuknya.
"Kalau..." Nara menarik napas dalam sebelum melanjutkan, "kalau ada seseorang yang selalu ada di dekat kita, dan kita mulai merasa aneh kalau dia dekat sama orang lain... itu kenapa ya?"
Lio mengangkat alisnya. "Aneh gimana?"
"Ya... kayak... perasaan nggak nyaman, kesal, tapi nggak tahu kenapa."
Lio tersenyum miring. "Itu cemburu."
Jantung Nara mencelos.
"Tapi itu juga tergantung, kamu cemburu karena sayang sebagai keluarga... atau sebagai seseorang yang lebih dari itu?" Lio menatap Nara tajam, seolah bisa membaca isi hatinya.
Nara membuka mulutnya, ingin menyangkal. Tapi tidak ada kata-kata yang keluar.
Lio terkekeh pelan. "Aku sih nggak heran kalau kamu mulai menyadarinya sekarang."
Mata Nara membesar. "Menyadari apa?"
Lio tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dan berdiri dari duduknya. "Aku duluan, nanti keburu bel masuk."
Lalu, sebelum pergi, ia menepuk kepala Nara pelan. "Jangan terlalu dipikirin. Kadang, perasaan itu baru terasa jelas saat kita hampir kehilangannya."
Nara terdiam.
Kata-kata Lio menggetarkan sesuatu di dalam dirinya.
Aku hampir kehilangan Aksa?
Tiba-tiba, bayangan Mishel yang merapikan kerah seragam Aksa tadi pagi kembali terlintas di pikirannya.
Ia mengepalkan tangannya.
"Enggak," gumamnya. "Aku nggak mau kehilangan dia."
Dan saat itu juga, Nara sadar—perasaannya terhadap Aksa bukanlah perasaan biasa.
Jantungnya berdebar lebih cepat, dadanya terasa lebih hangat, dan untuk pertama kalinya, ia mengakui apa yang selama ini ia abaikan.
Ia menyukai Aksa.
Bukan sebagai kakak.
Tapi sebagai laki-laki.
Namun, satu pertanyaan besar kini menghantuinya.
Apakah Aksa juga merasakan hal yang sama?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments