Perasaan yang Berusaha Disangkal

Sejak malam itu, Nara tidak bisa berhenti memikirkan jawaban Aksa.

"Aku nggak tahu, Nara."

Kata-kata itu terdengar jujur, tapi juga penuh kebingungan. Dan anehnya, itu membuat dada Nara terasa sesak.

Di sekolah, Aksa masih menjaga jarak. Ia tetap menjalankan tugasnya sebagai ketua OSIS, tetap serius seperti biasa. Tapi setiap kali Nara mencoba mendekat atau sekadar berbicara dengannya, Aksa hanya menjawab seadanya lalu pergi.

"Kak Aksa aneh banget," gumam Nara sambil membuka kotak bekalnya di kantin.

"Kenapa?" tanya Cinta, yang ikut duduk di depannya. Cinta merupakan sahabatnya sejak awal ia masuk SMA.

Nara menyendok nasi gorengnya dengan malas. "Dia kayak… ngehindarin aku."

Cinta mengangkat alis. "Loh? Biasanya kalian ribut tiap hari, kok sekarang malah diem-dieman?"

"Itu dia!" Nara meletakkan sendoknya dengan kesal. "Aku juga nggak ngerti kenapa."

Cinta menyipitkan mata, lalu mencondongkan tubuhnya mendekati Nara. "Jangan-jangan…"

"Jangan-jangan apa?"

"Dia lagi suka sama seseorang?" Cinta berkata pelan, seolah membisikkan sebuah rahasia besar.

Nara terdiam. Hatinya terasa aneh mendengar itu.

Suka sama seseorang?

Aksa?

Tidak. Itu tidak mungkin.

Bukan karena Aksa tidak bisa jatuh cinta—tentu saja dia bisa. Tapi… entah kenapa, Nara tidak suka membayangkan itu.

Nara menggeleng cepat. "Nggak mungkin."

Cinta menatapnya curiga. "Kamu kok yang panik?"

"Aku nggak panik!" Nara buru-buru menyendok nasi gorengnya lagi, mengalihkan perhatian.

Tapi sayangnya, pikirannya tetap tidak bisa fokus.

Sementara itu, di salah satu sudut lapangan sekolah, Lio menatap Aksa dengan tatapan penuh tanya.

"Jadi lo serius?"

Aksa menyandarkan tubuhnya ke pagar lapangan, menatap kosong ke depan. "Serius apa?"

Lio mendengus. "Serius mau menjauh dari Nara."

Aksa mengepalkan tangannya, tapi tetap berusaha terlihat tenang. "Gue cuma butuh waktu."

Lio tertawa kecil, tapi nada suaranya terdengar tajam. "Waktu buat apa? Buat bohongin diri sendiri?"

Aksa mengalihkan tatapannya. "Nggak ada yang gue bohongin."

Lio mendekat, lalu menepuk bahu kakaknya. "Lo bisa bohong ke siapa pun, Sa. Tapi nggak ke gue."

Aksa diam.

Ia tahu, Lio benar.

Tapi bagaimana bisa ia mengakuinya?

Bagaimana bisa ia menerima perasaan yang seharusnya tidak ada?

Lio menghela napas, lalu menyandarkan tubuhnya ke pagar di samping Aksa. "Sa, gue tahu lo selalu ngerasa harus jadi yang paling bertanggung jawab, yang paling dewasa. Tapi lo juga manusia."

Aksa tetap diam.

Lio melanjutkan, "Kalau lo terus begini, lama-lama Nara bakal sadar. Dan kalau dia sadar lo sengaja menjauh, lo pikir dia bakal gimana?"

Aksa memejamkan mata sesaat. Ia tahu Lio benar, tapi ia juga tahu kalau dirinya tidak bisa membiarkan perasaan itu tumbuh lebih jauh.

Malamnya, Nara berbaring di kasurnya, menatap langit-langit kamar.

Hatinya gelisah.

Kenapa ia jadi kepikiran soal Aksa terus? Kenapa rasanya tidak enak melihat Aksa menjauh darinya?

Dan kenapa…

Kenapa kata-kata Mishel tentang Aksa menyukai seseorang begitu mengganggu pikirannya?

Nara menutup wajahnya dengan bantal, berteriak pelan.

"Apa sih ini?! Kenapa jadi begini?!"

Di kamar sebelah, Aksa duduk di tepi ranjangnya, menatap lantai dengan pandangan kosong.

Dalam diam, ia juga bertanya hal yang sama.

Dan di suatu tempat di rumah itu, Lio duduk bersandar di kursi dengan senyum kecil di wajahnya.

Karena di antara mereka bertiga, hanya Lio yang tahu ke mana semua ini akan berakhir.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!