Setelah Lio pergi dari kelasnya, Nara masih termenung di bangkunya. Perkataan Lio tadi terus terngiang-ngiang di kepalanya.
"Kamu mulai suka sama Aksa?"
Nara menggeleng cepat, berusaha menepis kemungkinan itu. Tidak, itu tidak mungkin. Aksa hanyalah kakaknya—meskipun bukan kakak kandung. Mereka tumbuh bersama di bawah asuhan Tante Agnes dan Om Devon. Bagaimana mungkin ia menyukai seseorang yang sudah seperti keluarganya sendiri?
Tapi…
Kenapa ia merasa sesak saat melihat Aksa bersama Mishel?
Kenapa ia merasa tidak terima ketika tangan Mishel menyentuh lengan Aksa?
Nara menghela napas berat. Ia menyandarkan kepalanya di meja dan menutup matanya rapat-rapat.
Namun, istirahatnya terganggu oleh suara seorang teman sekelas yang memanggilnya.
"Nara! Ada yang nyariin di luar!"
Nara mengangkat kepalanya dengan malas. "Siapa?" tanyanya sambil mengerutkan kening.
"Siapa lagi kalau bukan Mishel?"
Mendengar nama itu, Nara langsung berdiri. Ia keluar kelas dengan perasaan tidak enak.
Begitu tiba di koridor, ia melihat Mishel berdiri dengan tangan terlipat di dada dan ekspresi wajah yang tidak bisa dibilang ramah.
"Ada apa?" tanya Nara langsung.
Mishel tersenyum kecil, tapi jelas ada nada sindiran di baliknya. "Aku cuma mau ngobrol sebentar."
Nara mengangkat alis. "Ngobrol soal apa?"
Mishel melirik sekeliling, lalu menarik tangan Nara untuk membawanya ke tempat yang lebih sepi.
Setelah yakin tidak ada yang mendengar, Mishel menatap Nara dengan tatapan tajam. "Aku nggak suka kamu dekat-dekat sama Aksa."
Jantung Nara berdegup lebih cepat. "Apa maksudmu?"
Mishel mendekat, suaranya lebih pelan namun penuh ancaman. "Aku tahu kamu tinggal serumah sama dia. Aku tahu Aksa mungkin perhatian sama kamu karena kalian tumbuh bersama. Tapi, jangan salah paham. Dia bukan milikmu."
Nara terdiam.
"Aksa itu ketua OSIS, dia populer, dan banyak cewek yang suka sama dia," lanjut Mishel. "Aku salah satu dari mereka, dan aku nggak akan biarkan ada yang menghalangi."
Nara mengepalkan tangannya. "Aku nggak pernah berniat menghalangi siapa pun."
Mishel terkekeh pelan. "Bagus kalau begitu." Ia mendekat sedikit lagi. "Jangan terlalu nyaman di dekat Aksa, Nara. Karena bagaimanapun juga, kamu cuma anak yang diasuh oleh keluarganya, bukan bagian dari mereka."
Kata-kata itu menusuk hati Nara seperti belati.
Selama ini, ia memang tahu kalau dirinya bukan anak kandung Tante Agnes dan Om Devon. Tapi mereka selalu memperlakukannya seperti anak sendiri. Ia tidak pernah merasa berbeda—setidaknya sampai sekarang.
Nara mencoba menahan emosinya. "Kalau kamu sudah selesai, aku pergi dulu," katanya sebelum berbalik meninggalkan Mishel.
Tapi baru beberapa langkah, suara Mishel kembali terdengar.
"Kamu tahu nggak, kalau Aksa sebenarnya lebih suka cewek yang dewasa dan elegan? Bukan cewek kekanak-kanakan yang suka mengeluh sepertimu."
Nara berhenti di tempatnya, tapi ia tidak membalas.
Ia menggigit bibirnya, menahan rasa sesak di dadanya sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya kembali ke kelas.
Sepulang sekolah, Nara berjalan ke parkiran dengan langkah pelan. Biasanya, Aksa sudah menunggu di sana dengan motornya. Tapi kali ini, ia melihat Aksa masih berbicara dengan beberapa teman OSIS.
Dan di sampingnya, berdiri Mishel.
Nara langsung mengalihkan pandangannya. Ia berjalan ke arah Lio, yang sudah duduk di motornya dengan santai.
"Aku naik sama Kakak aja," katanya cepat.
Lio menoleh, sedikit heran. "Aksa belum selesai?"
"Bodo amat," jawab Nara ketus sambil langsung naik ke motor Lio.
Lio menahan tawa. "Kamu kenapa sih? Mukamu bete banget."
"Jalan aja, Kak!"
Lio hanya menggeleng sebelum menyalakan motor dan membawa Nara pergi dari sekolah.
Di belakang mereka, Aksa yang baru saja selesai berbicara dengan teman-temannya melihat pemandangan itu.
Alisnya sedikit berkerut saat melihat Nara yang biasanya selalu menunggunya, kini memilih pergi bersama Lio.
Mishel, yang menyadari perubahan ekspresi Aksa, segera berkomentar. "Nara makin dekat sama Lio, ya?"
Aksa tidak menjawab. Ia hanya diam, tapi ada sesuatu di dadanya yang terasa tidak nyaman.
Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu.
Ia tidak suka melihat Nara pergi bersama Lio.
Sesampainya di rumah, Nara langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia melempar tasnya ke kasur lalu membenamkan wajahnya ke bantal.
Kata-kata Mishel masih terngiang-ngiang di kepalanya.
"Jangan terlalu nyaman di dekat Aksa, Nara. Karena bagaimanapun juga, kamu cuma anak yang diasuh oleh keluarganya, bukan bagian dari mereka."
Matanya terasa panas.
Apa yang Mishel katakan memang benar. Ia hanyalah seseorang yang kebetulan diasuh oleh keluarga Aksa dan Lio. Ia bukan siapa-siapa.
Tapi kenapa kata-kata itu terasa begitu menyakitkan?
Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintunya.
"Nara?" Itu suara Aksa.
Nara tidak menjawab.
"Nara, aku tahu kamu di dalam."
Masih tidak ada jawaban.
Aksa menghela napas sebelum akhirnya berkata, "Aku nggak tahu kamu kenapa, tapi kalau ada yang mengganggumu, aku ada di sini."
Suara Aksa terdengar lembut, berbeda dari biasanya.
Nara menggigit bibirnya, berusaha menahan air matanya.
Tapi ia tetap tidak membuka pintu.
Ia takut, kalau ia melihat wajah Aksa sekarang, perasaannya akan semakin kacau.
Aksa menunggu beberapa detik sebelum akhirnya menyerah.
"Baiklah," katanya. "Kalau kamu butuh aku, aku di kamar."
Langkah kakinya terdengar menjauh.
Nara akhirnya bangun dari kasurnya dan berjalan pelan ke pintu. Ia menyandarkan kepalanya di sana, mencoba menenangkan hatinya.
Ia tidak bisa terus begini.
Ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya ia rasakan.
Karena jika tidak, perasaan ini akan semakin mengganggunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments