Nara Terusik

Pagi di rumah keluarga Aksa dan Lio berjalan seperti biasa. Suara alat makan beradu dengan piring terdengar dari meja makan, bercampur dengan aroma telur dadar dan roti panggang yang baru matang.

Nara duduk di kursinya sambil mengunyah roti, sesekali melirik Aksa yang duduk di seberangnya. Lio juga ada di sana, terlihat sibuk dengan ponselnya, sementara Tante Agnes dan Om Devon menikmati kopi mereka.

"Jangan main HP terus pas sarapan, Lio," tegur Tante Agnes lembut.

Lio mengangkat wajahnya sebentar. "Iya, Ma," jawabnya asal sebelum kembali menunduk.

Nara menahan tawa. Ia tahu Lio pasti sedang chatting dengan teman-temannya.

Sementara itu, Aksa hanya diam sambil sesekali menyeruput susunya.

Nara meliriknya lagi.

Kenapa dia merasa Aksa jadi lebih pendiam dari biasanya?

Tadi malam, setelah Aksa mengatakan "Jangan terlalu dipikirin," Nara terus bertanya-tanya maksud dari kata-kata itu. Apakah Aksa menyadari sesuatu?

"Nara, kok bengong?" suara Tante Agnes menyadarkannya.

Nara mengedip beberapa kali. "Eh, nggak, Ma!"

Tante Agnes tersenyum lembut. "Kamu habis dihukum lagi di sekolah?" tanyanya, setengah bercanda.

Lio langsung tergelak. "Kemarin dihukum sama Kak Aksa, Ma. Keliling lapangan lima puluh kali!"

Tante Agnes menoleh ke Aksa dengan alis terangkat. "Beneran?"

Aksa menatap Nara sekilas sebelum menjawab. "Iya. Dia bikin keributan di sekolah."

Nara langsung cemberut. "Yang bikin keributan tuh Mishel, bukan aku!" protesnya.

Lio tertawa makin keras. "Tapi kamu tetap dihukum, kan?"

Nara melempar tatapan tajam ke Lio.

Tante Agnes menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Ya udah, yang penting jangan diulangin lagi, ya."

"Iya, Ma," jawab Nara malas.

Setelah sarapan, mereka bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Aksa sudah berada di dekat motornya, menunggu Nara seperti biasa.

Tapi pagi ini, Nara ragu.

Ia melirik ke arah Lio.

"Naik sama aku aja," katanya tiba-tiba.

Aksa, yang tadinya sibuk memasang helm, langsung menoleh dengan dahi berkerut. "Kenapa?"

"Emangnya kenapa?" balas Nara, berusaha terlihat santai.

Aksa menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas. "Terserah."

Nara segera naik ke motor Lio.

Lio meliriknya dari kaca spion dengan tatapan penuh arti. "Kamu marah sama Aksa?" tanyanya pelan.

"Nggak," jawab Nara cepat.

Lio tersenyum kecil. "Kalau nggak, kenapa nggak mau naik sama dia?"

Nara menggigit bibirnya, tidak tahu harus menjawab apa.

Ia juga tidak mengerti kenapa ia bersikap seperti ini.

Yang ia tahu, ia masih merasa kesal setiap kali mengingat Aksa dan Mishel kemarin.

---

Sesampainya di sekolah, Nara berjalan ke kelasnya dengan langkah cepat.

Tapi saat melewati koridor kelas 11, ia tanpa sengaja melihat Aksa dan Mishel yang sedang mengobrol di dekat jendela.

Mishel tertawa kecil sambil menyentuh lengan Aksa.

Dan entah kenapa, melihat itu membuat hati Nara terasa... tidak nyaman.

Kenapa Aksa nggak menepis tangan Mishel?

Kenapa dia tetap diam saja?

Nara mengepalkan tangannya.

Apa dia benar-benar sesuka itu sama Mishel?

"Nara?"

Suara itu membuatnya tersadar. Ia menoleh dan melihat seorang teman sekelasnya menatapnya heran.

"Kamu kenapa? Kok melamun di sini?"

Nara mengerjapkan mata, lalu buru-buru menggeleng. "Nggak apa-apa. Aku ke kelas duluan, ya!"

Ia segera berlari menuju kelasnya tanpa menoleh lagi.

Tapi meskipun ia sudah masuk ke kelas dan duduk di bangkunya, bayangan Aksa dan Mishel masih terus bermain di pikirannya.

Dan kali ini, ia tidak bisa mengabaikannya lagi.

---

Sepanjang hari, Nara terus merasa gelisah.

Saat jam istirahat tiba, ia memilih tetap di kelas, tidak ingin bertemu siapa pun.

Namun, saat sedang asyik menatap jendela dengan pikiran kosong, tiba-tiba ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari Lio.

Lio: "Kamu di mana?"

Nara menghela napas sebelum membalas.

Nara: "Di kelas. Kenapa?"

Tak butuh waktu lama, pintu kelas terbuka, dan Lio masuk dengan wajah santai.

"Nah, ketemu," katanya sambil duduk di bangku sebelah Nara.

Nara meliriknya malas. "Kakak ngapain ke sini?"

Lio menyandarkan punggungnya ke kursi. "Nggak boleh?"

Nara hanya mendesah.

Lio menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berkata, "Kamu kenapa?"

"Aku baik-baik aja," jawab Nara cepat.

Lio mengangkat alis. "Masa?"

Nara terdiam, tidak tahu harus berkata apa.

Lio tersenyum kecil. "Ini tentang Aksa, ya?"

Jantung Nara berdetak lebih cepat.

"A-apa sih? Nggak ada hubungannya sama Aksa."

Lio terkekeh. "Kamu itu gampang banget ditebak, tahu nggak?"

Nara menatapnya dengan kesal.

"Tapi jujur aja deh," lanjut Lio. "Kamu marah sama Aksa karena dia deket sama Mishel, kan?"

Nara menggigit bibirnya.

"Atau…" Lio menatapnya lebih tajam. "Kamu mulai suka sama Aksa?"

Pertanyaan itu membuat kepala Nara langsung panas.

"Apa?! Nggak mungkin!" sahutnya cepat.

Lio terkekeh. "Oh, jadi nggak mungkin, ya?"

Nara berusaha menyangkal, tapi hatinya berkata lain.

Ia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri.

Yang ia tahu, ia tidak suka melihat Aksa bersama orang lain.

Tapi itu bukan berarti ia menyukai Aksa… kan?

Lio tersenyum kecil melihat ekspresi adiknya yang kebingungan.

"Kamu pasti lagi bingung banget sekarang," katanya santai.

Nara tidak menjawab.

Lio menepuk bahunya pelan. "Dengerin deh. Perasaan itu nggak bisa dipaksa. Tapi kalau kamu terus-terusan menghindar dari Aksa, itu cuma bakal bikin kamu makin bingung."

Nara menatap Lio dengan mata sedikit melebar.

"Kakak ngomong apa sih?" gumamnya.

Lio terkekeh. "Nggak usah dipikirin. Yang jelas, kalau kamu butuh cerita, kakak selalu ada, ya."

Nara terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum kecil.

"Iya, makasih," katanya pelan.

Lio tersenyum puas.

Tapi jauh di dalam hati Nara, kebingungan masih belum hilang.

Dan semakin ia berusaha mengabaikannya, semakin besar perasaan itu tumbuh di dalam dirinya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!