Ketika Sarah sampai tepat di depan pintu Mansion, Damian langsung memeluk erat istri tercintanya. Perasaan rasa bersalah benar-benar menyakiti diri nya sendiri, Damian benar-benar menyesal dengan segala perbuatan nya.
Sarah membalas pelukan Damian tak kala erat, ia ingin sekali marah dan menumpahkan segala kekesalan nya pada sang suami, tapi ketika mengingat kekurangan nya membuat Sarah mengurungkan niatnya.
"Mas benar-benar minta maaf pada mu sayang.. Jujur mas terbawa oleh nafsu saja, tidak ada perasaan lain antara aku dengan ruby" Jelas nya, Sarah melepaskan pelukan Damian, menatap mata tajam suami nya lekat-lekat.
"Aku tahu, kau pria yang sehat dan bugar, kau pasti merasa sangat tersiksa menahan hasrat itu sehingga kau memilih jalan yang tidak benar" Ucap sarah, Damian meraih tangan sarah membawa sang istri memasuki kamar pribadi mereka.
Sesampainya di kamar, sarah duduk di pinggiran ranjang, Damian berlutut dikaki Sarah. Merebahkan kepala nya diatas pangkuan wanita itu
"Kau tidak merasa jijik kepada ku?" Tanya Damian, Sarah mengelus lembut rambut tebal sang suami.
"Tidak, kau juga menerima masa lalu ku dulu, lalu kenapa aku tidak bisa melakukan hal yang sama" Sahut Sarah.
"Jujur selama ini aku mencari kepuasan dengan wanita diluaran sana, aku tidak bisa menahan hasrat ku Sarah.. Sekali lagi maafkan aku.." Ucap nya, Sarah menatap langit langit kamar, menahan agar air matanya tidak jatuh.
"Pukul aku sarah! Kau berhak memukuli ku atau bahkan membunuh ku!"pinta Damian sambil mengarahkan tangan sarah kedada bidang nya.
Sarah menggelengkan kepalanya sambil menangis, ia tidak bisa menahan kesedihan dihatinya. Damian semakin merasa bersalah, apa lagi saat melihat Sarah yang menangis sesenggukan seolah Damian tahu bagaimana sakit yang dirasakan istrinya itu.
Damian memeluk Sarah dengan erat, mengucapkan kata maaf berulang kali.
Sarah tidak menyalahkan suami nya itu, justru kejujuran Damian membuat nya sadar akan kekurangan nya.
Setelah puas menumpahkan segala kesedihan,Damian dan sarah berbaring diatas kasur sambil berpelukan satu sama lain. Mereka saling berperang dengan pikiran mereka masing-masing.
"Dari mana kau tahu Ruby?" Tanya sarah, Damian menghela napas panjang karna pertanyaan sang istri.
"Dari klub Kate" Sahut Damian singkat, seketika sarah menatap Damian yang kini juga menatap nya sambil mengelus rambut nya.
"Dia pelac**?" Tanya sarah, Damian mengangguk. Sarah tidak percaya,apa lagi ia melihat bahwa Ruby wanita baik dan juga penuh sopan santun.
"Itu bukan hal penting, aku ingin tahu mengapa kau bisa ada di Apartemen Ruby"
"Kenapa? Kau membayangkan apa yang terjadi jika seandainya aku tidak berada disana ha?! pasti malam ini kalian sedang enak-enak"cibir sarah, Damian melihat wajah kesal sang istri, ingin sekali ia tertawa melihat wajah sarah yang marah.
" Maaf kan aku.. Aku tidak akan melakukan hal bodoh itu lagi, aku janji"ucap Damian, sarah selalu percaya dengan janji pria itu, karena Damian adalah tipe pria yang menepati janji.
Sepanjang malam mereka saling bercerita, sesekali juga Damian dan sarah saling berkecup mesra, dan menukar saliva satu sama lain. Sarah tidak bisa melayani sang suami dengan menyeluruh, penyakit nya membuat nya menjadi wanita yang tidak sempurna.
Damian bertekad akan menemani sarah dalam proses penyembuhan nya agar istrinya itu kembali menjadi seperti dulu. Dan juga berusaha menjauhkan pikiran nya dari Ruby, wanita itu benar-benar membuat nya menjadi candu.
"Aku tidak akan menyakiti wanita ku lagi" Tekad nya, ia tidak mau menyakiti sarah lagi. Bukan hanya untuk Ruby tapi Damian juga tidak mau menyentuh wanita manapun selain istrinya.
•••
Sudah tiga hari waktu berlalu, selama itulah Ruby merasa kehilangan akan kehadiran Damian. Ruby sudah berusaha menghubungi pria itu, tapi Damian tidak menjawab panggilan nya.
"Seperti nya tidak ada kesalahan antar kami, tapi kenapa Damian berubah? Kemana dia? Apa dia sedang sangat sibuk?" Tanya Ruby pada diri sendiri, hal ini membuat Ruby tidak berselera melakukan apapun.
Tiba-tiba Vanya datang dengan membawa banyak makanan atas permintaan Ruby, karena Damian menghilang begitu saja membuat Ruby jadi tidak berselera makan.
"Ini pesanan mu" Ucap Vanya, Ruby yang sedang melamun seketika terkejut, ia menatap malas sahabat nya itu yang masuk tanpa mengetuk pintu atau memberi kode apapun.
"Taruh saja disana" Sahut nya, Vanya menatap Ruby kesal.
"Kau tahu, gara gara ulah mu, aku jadi diamuk sama momy Kate" Keluh nya, Ruby tahu itu.
"Kenapa kau tidak mau menerima klien? Sebenarnya apa si yang kau pikirkan?" Tanya Vanya dengan wajah kesal, sontak Ruby langsung menunduk menatap lantai, ia bingung harus jujur atau tidak dengan sahabat nya.
"Posisi mu sangat berpengaruh disana, banyak para pria kaya yang menanti mu.. Ayolah jangan abaikan kesempatan besar begini"
"Aku tidak akan kembali kesana Vanya.. Tubuh ku hanya boleh disentuh oleh pria itu saja" Ucap Ruby dengan nada tegas, Vanya sudah menebak, pasti hal itu yang membuat Ruby begitu.
"Siapa? Marley? David? Atau jangan-jangan.." Vanya menghentikan ucapannya, ia menatap Ruby intens.
"Kau jatuh cinta dengan Damian Salvatore?" Tanya Vanya, Ruby mengangguk ragu, mau bagaimana lagi ia sudah kepergok oleh sahabat nya itu.
"Aduh Ruby.. Itu tidak mungkin"
"Kenapa?"
"Kau masih nanya? Sadarlah.. Kita hanya pelac**, tidak pantas mendapatkan cinta, kita hanya butuh kepuasan dan uang saja" Jelas Vanya, Ruby menggeleng kan kepalanya tidak setuju dengan ucapan sahabat nya itu.
"Itu sebabnya aku akan meninggalkan pekerjaan ku demi pria itu, dan kau jangan menghentikan ku"
"Kau keras kepala sekali! Sekarang apa yang akan kau katakan kepada momy Kate ha?!" Tanya Vanya.
"Aku akan menjelaskan kepada nya nanti, aku akan datang malam ini ke klub untuk membatalkan kontrak ku" Ucap Ruby, vanya menghela napas berat.
"Tidak semudah itu, yang ada kau akan dijebak oleh Kate, biarkan aku saja yang mengatakan nya nanti" Ucap Vanya, ia menghargai keputusan Ruby.
"Terimakasih" Ucap Ruby, Vanya memberikan jempol nya saja.
Tiba-tiba bel pintu berbunyi, Ruby dan Vanya saling menatap satu sama lain
"Mungkin itu Damian" Ucap Vanya asal, Ruby langsung bangkit dan berlari untuk membuka pintu.
Ruby merasa sangat bahagia, tapi kala ia melihat siapa yang datang membuat senyum nya pudar
"Hai Ruby" Sapa pria itu, dan ya pria itu adalah Marley.
"Ada apa tuan?" Tanya Ruby, ia malas sekali menanggapi pria itu.
"Izinkan aku masuk dong" Ucap nya, Ruby mempersilahkan Marley untuk masuk kedalam Apartemen nya.
Marley duduk disofa bersebelahan dengan Vanya
"Hai.. Kalian temenan?" Tanya nya, Vanya dan Ruby mengangguk.
"Waw.. Bagaimana kalau kita.. "
"Aku sudah tidak bekerja sebagai pelac** lagi" Potong Ruby, Marley menampilkan wajah kecewa, padahal ia berencana akan bermain bersama Ruby.
"Aku bisa membayar dua kali lipat" Rayu Marley, Ruby tetap menolak ajakan pria itu.
Ruby ingat janji nya dengan Damian, ia ingin membuktikan kepada pria itu bahwa dirinya berbeda dengan pelac** pada umumnya.
"Lalu kedatangan ku akan sia-sia?" Tanya Marley, Ruby menaikkan bahu tanda ia tidak peduli.
Sementara Vanya langsung membuka resleting gaun nya, Ruby ternganga melihat Vanya yang bersikap bar-bar.
"Ayo bermain dengan ku tuan, aku tidak kalah nikmat kok dari Ruby" Ucap Vanya dengan manja, sambil mengelus dada bidang Marley.
Marley menahan rasa geli nya, apa lagi saat tangan Vanya sudah meraba senjata nya.
Ruby benar-benar tidak habis pikir dengan ulah Vanya yang tanpa malu berhubungan didepan mata nya.
Ruby pun meninggal kan dia makhluk yang asik bercinta itu, bahkan saat Ruby naik ke kamar nya yang ada dilantai atas, suara percintaan mereka masih terdengar ditelinga Ruby.
Ruby menahan hasrat nya setengah mati, ia benar-benar membutuhkan Damian, hanya pria itu yang boleh menyentuh nya sekarang.
"Damian.. " Lirih nya, Ruby menahan rasa rindu yang sangat dalam, ia teringat adegan panas yang terjadi saat bersama Damian.
"Aku harus segera menjadi kan Damian sebagai milikku, agar aku tidak kehilangan dan merindukan nya setengah mati begini" Ucap Ruby, tekad nya semakin bulat sekarang untuk menjadikan Damian sebagai milik nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Sunarmi Narmi
Rasanya Sakit Sekali baca kisah ini Thor...Sarah wanita baik di sakiti Damian krn kurang sempurna...Rubi jg baik krn suatu hal harus jdi benalu di rmh tangga orang tnpa dia sengaja....semoga Rubi segera dpt yg terbaik
2024-02-11
2
Sunarti
tunggu aja apa benar Damian akan tinggal kan Ruby
2023-11-02
0
Qorie Izraini
bkn dlh Ruby mengharap kan Damian
karena dia tau klu Damian ylh berklrga
2023-10-15
0