Di Mansion mewah bernuansa Eropa, seorang wanita sedang duduk santai sambil merangkai bunga mawar yang baru saja ia petik dari taman bunga tadi.
Wanita itu bernama Sarah, ia sangat suka dengan bunga mawar dan segala hal yang berkaitan dengan mawar.
"Nyonya.. Ada nona kinan" Ucap Intan, Sarah menatap kearah suara yang memanggilnya.
Kinan adalah sahabat nya, sudah lama sekali Sahabat nya itu tidak datang menemuinya, karena Kinan harus menjalani kuliah nya di Australia.
"Sarah.."panggil nya, Kinan memeluk Sarah erat, menumpahkan segala kerinduan yang menyiksa nya.
" Kinan.. Sejak kapan kau sampai di Indonesia?"tanya Sarah, Kinan melepaskan pelukannya lalu duduk disebalah Sarah, sementara Intan berlalu pergi untuk melanjutkan pekerjaan nya.
"Aku baru sampai di Indonesia kemarin, aku pindah ke Apartemen yang tidak jauh dari Mansion kedua orang tua ku" Jelas nya
"Pindah ke Apartemen? Emang nya kamu di usir sama orang tua kamu?" Tanya Sarah dengan wajah lugu nya, Kinan memberi cubitan kecil ditangan sahabat nya itu.
"Tidak.. Justru kau yang pindah ke Apartemen kan? Apa kau muak tinggal di Mansion mewah begini?" Tanya Kinan, Sarah tidak mengerti dengan arah pembicaraan Sahabat nya itu.
"Tepat di sebelah Apartemen ku, tadi aku ingin menemui mu disana tapi.. "
"Tunggu Kinan.. Aku tidak pindah atau tinggal di Apartemen yang kau maksud" Potong Sarah, Kinan tertawa kecil.
"Kau jangan bohong Sarah.. Aku lihat sendiri tadi malam Damian datang dan baru pulang pagi tadi" Jelas nya, Sarah menatap intens Kinan kala menyebut nama suami nya.
"Kau salah Kinan, bahkan Damian tadi malam saja berada di kantor nya" Sanggah Sarah, Kinan mengerutkan wajah nya, ia merasa seperti tidak salah melihat, itu benar-benar Damian.
"Tidak mungkin aku salah melihat Sarah.. Aku sangat mengenal Damian" Protes nya, Kinan benar-benar merasa ia tidak salah melihat.
"Jadi kau tidak pindah ke Apartemen?" Tanya Kinan memastikan, pikiran buruk tentang rumah tangga Sahabat nya menggerayangi pikiran nya.
"Tidak.. Untuk apa kami pindah ke sana Kinan, sementara kami memiliki Mansion seluas ini" Jelas Sarah, jujur ia pun menjadi kepikiran dengan suaminya, apa yang sedang disembunyikan oleh suami nya itu.
Kinan dan Sarah saling menatap intens satu sama lain
"Apa kau curiga dengan suami mu?" Tanya Kinan, Sarah mengangguk ragu.
"Dia tidak seperti biasanya, aku wanita lemah tidak bisa melayani dalam hal nafsu, apa mungkin dia mencari kepuasan diluar sana?" Tanya nya, Sarah menahan air matanya yang akan jatuh, Kinan menggenggam tangan Sarah dengan erat seolah-olah menguatkan sahabat nya itu.
"Tidak mungkin lah Sarah.. Damian adalah pria yang setia, mungkin tadi malam dia menginap di Apartemen salah satu rekan bisnis nya"
"Hal seperti itu tidak pernah dia lakukan sebelum nya, aku jadi ingin melihat siapa penghuni Apartemen itu" Ucap Sarah, Kinan juga berpikir sama.
"Aku saja yang melihatnya, kau istirahat lah dengan baik di sini"
"Tidak.. Aku ingin membuktikan nya sendiri, kau tahu.. Aku sangat takut suami ku tertarik dengan wanita lain" Lirih Sarah, jatuh sudah air mata yang ia tahan sedari tadi.
"Aku takut Kinan.. Aku sangat takut dia mulai mempermasalahkan tentang nafsu nya, sementara aku tidak bisa melayani itu" Lirih nya lagi, Kinan memeluk Sahabat nya itu dengan erat, ia prihatin dengan segala hal yang menimpa wanita sebaik Sarah.
"Ini hanya pikiran kita saja Sarah, kita bahkan belum lihat siapa penghuni Apartemen itu, mungkin saja pria.. Kita belum tahu kan?" Ujarnya menyemangati Sarah agar tetap ber pikir positif.
Sarah mengangguk pelan, ia menarik napas dalam agar pikiran nya tetap positif dan tidak mencurigai suami nya sama sekali.
"Aku bersiap siap dahulu yaa.. Kau tunggu aku" Ucap Sarah, Kinan mengangguk mantap.
Sarah berlalu pergi menuju kamar nya, sementara Kinan melanjutkan tugas Sarah tadi merangkai bunga mawar sambil menunggu Sarah bersiap siap.
••
Ruby sangat bahagia kali ini, bagaimana tidak, saat Damian berangkat kerja tadi, pria itu memperlakukan nya seolah-olah Ruby adalah istrinya.
Membayangkan kejadian tadi pagi semakin membuat Ruby menjadi salah tingkah, ia sedang mencuci pakaian Damian yang dipakai tadi malam.
"Aku benar-benar tergila-gila dengan pria itu, aku akan membuat mu menjadi milikku tuan" Ucap nya, Ruby tertawa kecil, ia benar-benar gila sekarang.
"Ruby.." Panggil seseorang, Ruby tahu bahwa itu adalah suara Vanya.
"Di dapur" Sahut nya, tak lama wajah Sahabat nya itu terlihat, dengan membawa sebuah amplop.
"Ini surat yang sangat berharga untuk mu, seperti yang kau katakan, Haris sangat lah perhitungan"
"Mengapa begitu?"
"Tadi kurir yang mengantar nya ke Apartemen ku, kau tahu segala biaya perceraian nya Haris meminta mu untuk membayar keseluruhan biaya" Jelas Vanya, Ruby tersenyum kecil.
"Dia tidak pernah berubah Vanya.." Sahut Ruby, ia terlihat santai saja.
"Kau terlihat bahagia sekali, apa karena surat ini sudah sampai?" Tanya Vanya, ia mendekati Ruby yang sedang memberi pewangi pada sebuah kemeja.
"Kemaja dan jas? Ini pakaian pria bukan?" Tanya Vanya, Ruby mengangguk mantap.
"Wah.. Apa tadi malam ada yang menginap di sini? Siapa dia?" Tanya Vanya, Ruby menatap Sahabat nya itu malas.
"Ih kau tidak mau memberi tahu ku?"
"Tidak!" Jawab Ruby cepat, Vanya berdecak sebal.
"Baiklah.. Paling juga nanti kau akan bercerita sendiri pada ku" Ucap nya, Ruby tersenyum manis kearah Vanya, membuat Sahabat nya itu tidak sampai hati untuk marah.
"Ini segera tanda tangani, setelah ini kau akan sah menjadi jamud"
"Jamud?"
"Iya janda muda"
Mereka pun tertawa bersama, Ruby mengajak Vanya untuk duduk di ruang tamu agar lebih senang untuk bercerita.
Ruby langsung tanda tangan di surat itu, bukannya merasa sedih atas perceraian nya yang ada hati Ruby sangat gembira karena terlepas dari pria seperti Haris.
"Aku ingin melakukan banyak hal padamu hari ini, tapi sugar daddy ku meminta ku untuk datang ke Mansion nya" Ucap Vanya, Ruby menautkan alisnya, pertanda ia tidak mengerti dengan ucapan Vanya.
"Istrinya lagi pergi, itu kesempatan ku untuk datang dan bermesraan dengan nya" Jelas Vanya.
"Astaga.. Kau pelakor?" Tanya Ruby, ia benar-benar terkejut, tidak menyangka selama ini Sahabat nya itu pelakor.
"Sebutan pelakor itu kalau aku berniat merebut dia dari istrinya, aku hanya ingin kepuasan dan uang nya, jadi jangan katain aku pelakor!" Jelas Vanya, Ruby tersenyum tipis.
"Itu sama saja dengan pelakor Vanya.. Awalnya saja mau uang nya pasti lama lama mau dengan orang nya" Sanggah Ruby, Vanya menggeleng kan Kepala nya cepat.
"Kau tahu wanita malam seperti kita tidak boleh berpikir begitu, pelanggan ya pelanggan! Kita tidak boleh mengharapkan pelanggan kita untuk menjadi milik kita seutuhnya" Ucap Vanya, Ruby merasa tersindir dengan kata-kata itu.
"Kau tahu, rata-rata yang suka bermain dengan wanita seperti kita adalah pria yang memiliki istri, seperti Pak.. "
Suara handphone Vanya membuat nya menghentikan ucapan nya, Ruby berdecak sebal, Vanya selalu berbicara separuh begitu.
Vanya pergi menjauh untuk mengangkat panggilan itu, sementara Ruby sibuk dengan ponsel nya juga.
"Ruby.. Lain kali kita akan bercerita lagi, aku harus pergi untuk memanjakan mimaw ku" Ucap nya, Ruby memberikan jempol nya saja.
Vanya tertawa lalu pergi, sementara Ruby ingin melanjutkan pekerjaan nya yang tertunda karena ulah Vanya.
Tapi saat ia ingin bangkit, suara bel berbunyi.
Ruby penasaran siapa yang datang di Apartemen nya, apa mungkin Damian? Atau mungkin Vanya iseng kepada nya?
Ruby menebak pasti ini ulah Sahabat nya itu, dengan perasaan malas ia berjalan untuk membuka pintu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Liie
mimaw🤭
2024-09-08
0
Wirda Wati
pasti sarah
2023-11-19
0
Sunarti
pasti Sarah istri Damian
2023-10-27
0