Marley memasuki ruangan kerja Damian dengan wajah berseri-seri, mungkin penyebab nya karena habis mendapat kan service nikmat dari Vanya. Ya walaupun awal nya Marley membayangkan Ruby, tapi tak apa pria itu juga suka dengan service dari Vanya.
Pandangan pertama yang menyambut Marley adalah Damian yang sedang bercumbu mesra dengan Sarah
"Setidak nya kunci pintu dulu" Ucap nya, seketika sepasang suami itu menghentikan kegiatan panas mereka, Sarah sangat malu kepergok oleh Marley.
"Dan juga kalau bertamu itu ketuk pintu dulu" Timpal Damian, Marley tertawa kecil.
"Ada apa ini? Kenapa Sarah datang ke kantor mu?" Tanya Marley, selama lima tahun menjadi istri dari Damian Salvatore, baru kali ini Sarah menemani Damian bekerja.
Bukan karena dilarang oleh sang suami, tapi Sarah merupakan tipe yang tidak suka mengekor suami.
"Kau kepo sekali Marley" Cibir Sarah, ia berjalan kearah sofa lalu mengambil tas selempang nya.
"Kau mau kemana sayang?" Tanya Damian
"Aku akan ke rumah sakit, ini jadwal terapi untuk ku sayang" Jawab Sarah, Damian bangkit dari tempat duduk nya lalu memeluk istri nya erat.
"Apa perlu ku temanin? Biar Rian yang menggantikan posisi ku nanti"
"Tidak perlu.. Kau tetaplah bekerja, aku bisa sendiri"
Sarah pamit kepada sang suami lalu pergi, tinggallah Damian dan Marley dalam ruangan itu.
"Kok tumben Sarah ikut bekerja?" Tanya Marley, Damian menghela napas panjang lalu kembali duduk di bangku kebesaran nya.
"Aku ketahuan selingkuh dari nya, itu benar-benar merubah nya menjadi wanita yang posesif" Jelas Damian, Marley terkejut setengah mati.
"Untung nya kalian tidak bercerai.."ujar Marley, ia merasa kasihan kala melihat Damian yang terlihat gelisah dan tidak semangat sama sekali.
" Kau kenapa?"tanya Marley lagi, Damian bingung harus berkata jujur atau tidak dengan temannya itu.
"Aku memutuskan untuk benar-benar setia kepada Sarah, walaupun dia tidak bisa melayani ku dalam hal ranjang tapi setidaknya itu bukan kemauan nya,aku harus tahu dan mengerti dengan posisi dirinya" Jelas Damian panjang lebar, sekarang Marley tahu kenapa Sahabat nya itu kusut begitu.
"Aku yakin pasti Sarah akan segera sembuh, dan kembali menjadi wanita yang sempurna seperti dulu" Ucap Marley memberi semangat kepada sahabat nya.
Damian mengangguk setuju, ia juga mendoakan kesembuhan Sarah disetiap harinya.
"Ruby.. Wanita itu tidak mau melayani pria lagi, aneh bukan" Celetuk Marley, seketika Damian yang sedang fokus membaca dokumen terhenti, ia menatap Marley intens.
"Aku sudah datang ke Apartemen nya, dan menawarkan harga dua kali lipat, tapi dia tetap saja menolak" Lanjut nya, Damian tersenyum tipis.
"Pasti wanita itu ingin membuktikan janji nya kepada ku" Gumam Damian didalam hati.
"David mengatakan jika posisi women on top sangat mahir dilakukan Ruby.. Aku ingin sekali dia bergerak di.. "
"Ah sudahlah, kau bicara hal yang tidak penting" Potong Damian, ia tidak ingin mendengar kan perkataan Marley lebih jauh.
Sementara Marley memandang Damian penuh curiga, kenapa sahabat nya ini selalu marah jika membahas Ruby
"Kau menyukai ruby?" Tanya Marley to the point, membuat Damian menatap nya tajam.
"Aku hanya menyukai dan mencintai Sarah saja" Jawab Damian cepat, Marley pura-pura percaya saja.
"Baiklah.. Terserah Damian Salvatore saja, aku mau pergi bekerja" Ucap nya, Damian tidak menanggapi justru malah sibuk dengan dokumen di tangannya.
Marley melangkah keluar dari ruangan Damian
"Senang nya dalam hati, punya istri duaa"
Marley menyanyi dengan suara yang terbilang kuat, Damian merasa tersindir dengan nyanyian itu.
"Siapa yang punya istri dua tuan?" Tanya Rian, ntah sejak kapan pria itu masuk.
"Mungkin Marley" Sahut Damian asal.
"Ha tuan Marley? Jangankan dua, satu saja dia tidak punya" Ejek nya, Damian tertawa kecil.
"Sudahlah jangan terlalu kau pikirkan"
"Baik tuan"
Rian heran kala melihat Damian yang seperti sedang kehilangan semangat nya.
"Tuan.. Kau ini kenapa?" Tanya Rian
"Tidak papa, aku hanya kelelahan saja"
"Kau seperti orang yang kurang bergairah" Celetuk nya, Damian mengiyakan itu.
"Kau cari tahu pengobatan terbaik untuk Sarah, dimana pun seberapa pun biaya nya akan ku beri asal Sarah ku sembuh" Ucap nya, Rian mengangguk mengerti.
Hampir seratus persen masalah hidup Damian, Rian tahu. Rian merupakan orang kedua yang penting bagi Damian setelah ibu nya dan Sarah.
••
Ruby memandang layar Handphone nya yang tertera nama Damian, ia mencoba menghubungi pria itu.
Panggilan itu tersambung, tapi sayang nya Damian tidak juga mengangkat panggilan nya, membuat Ruby semakin penasaran.
"Ada apa dengan pria itu? Apa ada masalah sampai dia mengabaikan ku seperti ini?" Tanya Ruby pada dirinya sendiri, ia menghela napas kasar.
Ruby berniat akan datang ke perusahaan pria itu, tapi Ruby tidak tahu ada dimana, tiba-tiba Ruby teringat dengan ucapan Vanya.
"Tuan Damian sangat kaya Ruby.. Kau ketik saja nama nya di Google maka segala tentang nya akan ada disana"
Ruby baru ingat
"Damian seorang CEO, pasti akan tertera dimana perusahaan utama nya" Ucap Ruby, ia mengetik nama Damian Salvatore.
Dan benar saja, segala informasi yang tidak terlalu detail muncul, Ruby membaca nya dengan teliti.
Ruby merasa lega karena di Biodata Damian, pria itu belum menikah. Setidaknya ada kesempatan untuk nya, begitulah batin Ruby.
"Salvatore corp" Ucap nya, Ruby menulis alamat itu, ia berniat akan datang malam saja.
"Semoga aku menemukan mu disana" Ucap nya, Ruby bergegas membersihkan diri.
•••
Cahaya senja Tidak membuat Damian terhenti dari pekerjaan nya, ia sangat fokus dengan dokumen yang menumpuk.
"Tuan, apa malam ini akan lembur?" Tanya Rian, Damian mengangguk.
"Kau pulang saja, aku akan mengurus nya sendiri" Ucap nya, Rian mengangguk mengerti.
"Baiklah tuan, jika ada masalah hubungi aku"
"Hmm"
Rian berlalu pergi, sementara Damian kembali sibuk dengan dokumen nya.
Saat Rian berada diparkiran, ia terkejut saat melihat Ruby yang datang dengan memakai dress berwarna merah.
"Mau apa wanita itu?" Tanya nya pada diri sendiri, Rian tahu bahwa Ruby adalah wanita yang membuat Damian uring-uringan.
"Maaf nona.. Kau mau kemana?" Tanya Rian agak sedikit berteriak agar Ruby mendengar nya.
Ruby berjalan mendekati Rian, ia tidak mengenal siapa pria ini
"Aku adalah asisten pribadi tuan Damian, kau mau apa datang kesini? Ini sudah lewat jam kerja"
"Aku ingin bertemu dengan Damian, dimana dia?" Tanya Ruby, Rian merasa tuan nya tidak ada bercerita akan bertemu dengan Ruby.
"Apa sudah membuat janji dengan tuan muda?" Tanya Rian, Ruby mengangguk saja, padahal tidak.
"Tuan muda ada didalam, sebaiknya aku menelpon tuan dulu agar.. "
"Eh tidak perlu, izinkan aku masuk saja, kau tidak perlu repot repot begitu" Ucap Ruby, Rian yang mungkin sudah lelah pun akhirnya percaya dengan Ruby yang telah melabui dirinya.
"Baiklah nona, kau masuk saja nanti akan ada security yang menunjukkan jalan pada mu" Ucap Rian, Ruby mengangguk mengerti.
"Terimakasih" Ucap nya, Rian membalas ucapan Ruby dengan senyum lebar.
Rian menggeleng kan kepala nya kala melihat Ruby yang memasuki kantor dengan diiringi security.
"Baru kemarin tuan muda mengatakan akan bertobat, tapi apa buktinya.." Cibirnya.
"Soal nafsu itu emang sulit" Batin Rian, ia masuk ke dalam mobil,lalu melaju dengan kecepatan sedang.
Rian sekarang tahu alasan Damian lembur dan menyuruh nya pulang terlebih dahulu, semua itu karena tuan nya ingin menghabiskan malam dengan Ruby.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Liie
buaya darat🤭
2024-09-08
0