"Hikss..(Tangis Bu Mayang), tidak apa-apa." Menghapus air matanya yang masih terus berlinangan.
"Terus kenapa mamih nangis." Tanya marcell.
"Mmm.. mamih hanya kangen saja sama mendiang adik kalian, karna pas tadi mamih mainin rambutnya Tiara tiba-tiba saja mamih teringat kembali kepada mendiang adik kalian Siena. Karna mamih lihat Tiara dan Siena itu memiliki beberapa kemiripan makanya pas awal mamih ketemu dengannya mamih langsung merasa akrab dan juga nyaman jika bersamanya, dan itu membuat mamih merasa sulit sekali untuk jauh dari Tiara karena mamih merasa bahwa Siena itu hidup kembali di dalam tubuh Tiara." Ucapnya sendu, sembari menyentuh pipiku.
Mendengar akan hal itu membuatku sedikit tertegun saat tau bahwa Bu Mayang memiliki seorang anak perempuan yang sudah lama tiada.
"Papih pikir hanya papih saja yang merasakannya, tapi ternyata mamih pun merasakannya juga ." Ucap Pa Bagas yang bangkit berdiri untuk kembali duduk di sampingku.
"Sebenarnya saat awal papih melihat Tiara hati papih selalu berkata bahwa gadis ini adalah Siena." Sembari mengusap lembut rambutku.
"Hiks.. Hiks.. mamih sangat menyayangimu nak." Ucap Bu Mayang sembari mendekapku lembut.
"Tapi saya Tiara bukan Siena mih."
"(Mengusap air matanya)..Mamih tau itu dan mamih benar-benar sangat menyayangimu, tapi sebagai Tiara bukan Siena." Tegas Bu Mayang sembari menopang pipiku.
"Kini kehadiranmulah yang bisa mengobati rasa kehilangan dan juga kerinduan kami kepada mendiang putri kami yang sudah lama tiada. Mmm... Tiara, apakah kamu bersedia jika kami mengangkatmu sebagai anak kami." Tanya Pa Bagas dengan sedikit memelas.
Merasa bingung harus menjawab apa, aku pun mencoba untuk mencerna semua perkataannya dengan baik. Saat aku sedang merenung untuk menjawabnya aku mencoba menatap ke arah Bu Mayang dan Pa Bagas sekilas. Terlihat di wajah mereka begitu sangat menginginkan jawaban terbaikku.
Karna tak ingin membuat mereka kecewa dengan jawabanku maka dengan berat hati aku menyetujui permintaan mereka itu.
"Emm... I-iya Sa-saya mau." Jawabku dengan begitu Gugupnya.
Terharu dengan jawabanku Bu Mayang dan Pa Bagas langsung memelukku secara bersamaan.
Dan kini kedua putra mereka, yang melihat moment manis tersebut pun mulai ikut tersenyum bahagia menyaksikannya.
Selesai dengan semua moment mengharukan itu, aku pun berpamitan pergi kepada mereka.
"Emm.. Mih.. Pih Tiara ke kamar dulu." pamitku
"Oh iya ." Ucap Bu Mayang dan Pa Bagas bersamaan.
"Tuan... Emm Mas Ryan. Saya ke kamar duluan ya." Sedikit membungkukkan badanku.
"Angguk mereka bersamaan."
Aku pun dengan cepat berjalan ke arah kamarku dengan perasaan yang campur aduk.
Sesampainya di kamar, aku mencoba untuk menenangkan diriku dengan duduk sendirian di dekat balkon kamarku, sembari menatap sendu kearah langit malam.
"Apakah semua ini benar Tuhan, pasalnya kedua orang tuaku masih hidup, tapi sekarang aku malah dengan mudahnya menerima tawaran Pa Bagas untuk menjadi anak angkatnya. Aku memang membutuhkan kasih sayang tapi aku menginginkannya dari ke dua orang tua kandungku bukan dari keluarga orang lain. Tuhan takdir apa yang saat ini aku jalani, apakah ini tidak berlebihan untuk ku jalani saat ini." Batinku dengan mata yang berkaca-kaca.
Lama ku menatap langit, kini tak terasa air mataku mulai berjatuhan karena mengingat semua siksa dan kepahitan batin yang telah keluargaku berikan dulu kepadaku.
Aku terduduk di lantai balkon dengan memeluk kuat kedua kakiku,sembari menangis terisak.
Disaat aku sedang menangis tanpa kusadari ada seseorang yang masuk ke dalam kamarku.
Melihat keadaanku yang begitu hancur, dia pun berjalan perlahan untuk menghampiriku.
"Tiara." Ucapnya pelan, sembari memegang pundakku.
"Mamih.." Menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Melihat kehadiran Bu Mayang aku pun langsung memelukknya sembari menangis tersendu-sendu.
Kasihan melihat keadaanku, dengan lembut Bu Mayang pun membalas pelukanku sembari memberiku sedikit ketenangan.
"Siapa yang sudah melukai hati kecilmu itu, sampai-sampai kamu harus dengan sukarela membuang semua berlian ini." Ucapnya sambari mengusapi air mataku.
Melihat air mataku yang terus berjauhan tanpa henti, kini Bu Mayang pun mulai tak sanggup melihatku menangis.
Bu Mayang yang mengerti akan keadaanku, langsung dengan cepat dia menarikku kembali kedalam dekapannya.
Merasakan ketenangan yang di berikan olehnya, tiba-tiba saja aku merasa rindu kepada Mamahku.
Tanpa aku arahkan kini di pikiranku mulai bermunculan bayangan wajah mamahku.
Karena begitu merindukannya kini aku pun kembali terisak di dalam pelukan Bu Mayang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments