"Ya sudah kalo gitu kamu duduk aja ya disini, soalnya mamih mau masak dulu di dapur, Karena kan sebentar lagi suami dan anak-anaknya mamih bakalan pulang dari kantor jadi mamih harus masak makan malam untuk kita semua." Sembari bangkit dari duduknya.
Pada saat Bu Mayang ingin melangkah pergi, aku dengan cepat menahannya. Hingga langkahnya pun terhenti.
"Ada apa sayang, apa tangannya sakit lagi." Sambil kembali duduk di sebelahku.
"Eh tidak mih, Tiara baik-baik saja kok."
"Terus kenapa Tiara nahan tangannya mamih hemm." Tanyanya padaku.
"M-mmm ini mih, Tiara cuma mau bantuin mamih buat masak,apakah boleh." Gugupku.
"Tapi kan tangan kamu lagi terluka sayang." Larangnya
"Tidak apa-apa mih, lagian walaupun tangan Tiara terluka Tiara masih bisa kok melakukan pekerjaan apa pun." Jawabku meyakinkan Bu Mayang.
"Ya sudah kalau begitu boleh." Sahutnya tersenyum.
Mendapat ijin darinya Aku dengan cepat mengikuti Bu Mayang ke dapur, lalu aku pun mulai membantu semuanya dengan begitu semangat dan gesit.
Karena pada pasalnya memasak adalah hobiku. Melihat ketelatenanku dan kecepatan kerjaku dalam memasak membuat Bu Mayang merasa kagum kepadaku.
Setelah semua masakannya selesai ku masak aku pun mulai menata semuanya di atas meja makan. Saat semuanya sudah beres disiapkan, Tiba-tiba saja bel rumah berbunyi.
Mendengar suara bel yang berbunyi Bu Mayang pun dengan cepat membuka pintu tersebut.
Lalu setelah itu masuklah 3 orang pria yang saat ini sedang bergantian memeluk Bu Mayang.
"Eh.. kalian bertiga sudah pulang yah." Ucap Bu Mayang sambil membalas pelukan mereka secara bergantian.
Kemudian mereka pun berjalan kearah meja makan sembari menatapku asing.
"Siapa wanita ini, apa dia pembantu baru dirumah ini." Tanya pria paruh baya tersebut.
"Oh dia ini Tiara pih, dan tiara ini adalah Pa Bagas suaminya mamih. Kamu boleh kok panggil dia papih juga biar kita bisa lebih akrab lagi." Ucap Bu Mayang sembari memperkenalkanku kepada suaminya itu.
"(sembari menyalim tangannya), nama saya Tiara pa." Sembari memperkenalkan namaku kepadanya.
"(menerima jabatan tanganku dengan baik), Oh jadi perempuan ini yang kamu ceritain ke papih tadi Ryan." Sembari menoleh ke arah Ryan.
"Iya Pih.." Angguknya kepada Pa Bagas.
Melihat anggukan kepala Ryan, Pa Bagas pun kembali menatapku. Merasa canggung akan hal itu, perlahan aku pun menundukkan kepalaku.
"Kami benar-benar berhutang budi kepadamu Nak." Ucap Pa Bagas.
Mendengar itu seketika aku pun mengangkat kepalaku untuk menatap Pa Bagas.
"Bapa tidak usah berkata seperti itu." Ucapku merasa tidak enak.
Kemudian Pa Bagas pun bangkit dari duduknya dan berjalan mendekatiku.
"Saya ucapkan terima kasih banyak ya, karena kamu sudah mau dengan senang hati menolong istri kesayangan saya ini." Sembari merangkul pundak Bu Mayang.
"Jangan seperti itu pak." Merasa tak enak mendengar ucapan Pa Bagas.
"Katanya tanganmu terluka juga ya saat menolong istri saya."
"Ah.. iya pa tapi tidak begitu sakit kok." Sembari memegang lenganku yang terluka.
Melihatku memegangi lenganku Pa Bagas pun berpindah posisi ke sebelah kiriku, karena dia ingin melihat dengan jelas bagian lenganku yang terluka itu.
Saat Pa Bagas sedang memperhatikan lukaku, tak sengaja dia mengangkat tanganku secara mendadak sehingga membuatku meringis kesakitan.
"Argh.." Lirihku
Mendengar lirihanku membuat semua orang yang disana terkejut. Dan membuat Bu Mayang sedikit marah dengan tindakan yang dilakukan oleh Pa Bagas.
"Ih papih pelan-pelan dong itu kan lukanya belum kering betul." Marah Bu Mayang sembari memukul lengan Pa Bagas.
"Aduh maafin papih tadi papih ngga sengaja loh mih, apa begitu sakit." Ucapnya dengan raut wajah yang merasa bersalah.
"Tidak apa-apa kok pa." Senyumku untuk meyakinkan mereka.
"Sudah-sudah sebaiknya sekarang kita makan saja sayang nanti makanannya dingin." Ucap Bu Mayang sembari menuntunku untuk duduk di sebelahnya.
Kemudian kami berlima pun mulai memakan makanan kami sampai habis, selesai makan aku langsung merapihkan piring bekas makannya dan kemudian mencucinya.
Terlihat saat ini semua orang sedang berkumpul di ruang tengah, aku yang baru selesai mencuci piring langsung ikut beegabung bersama mereka.
Melihat kedatanganku mereka menyambutku dengan baik.
"Eh sayang ayo sini duduk deket mamih sama papih sini." Sembari menggeser duduknya sedikit.
Tak bisa menolaknya aku pun langsung duduk ditengah-tengah Pa Bagas dan Bu Mayang.
Saat aku duduk diatara mereka berdua kini bu mayang mulai memain-mainkan bagian rambutku sembari tersenyum.
Beberapa saat setelah itu Bu Mayang pun mulai menitikkan air matanya, dan aku yang menyadari itu pun langsung menatapnya bingung.
"Mamih kenapa menangis." Tanyaku kepada Bu Mayang
Yang lainnya saat ini sedang asik menonton tv, lalu pas mereka mendengar Bu Mayang sedang menangis. Mereka langsung mematikan tv nya dan mendekat kearah Bu Mayang.
"Mamih kenapa." Ucap Ryan dan Marcell bersamaan
"Kamu kenapa nangis sayang." Tanya Pa Bagas yang saat ini sedang berlutut di hadapan Bu Mayang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments