Aku kembali menemui ibu yang kecopetan tadi, untuk mengembalikan tas miliknya itu. Dan dia pun merasa senang saat melihatku membawa kembali tas milik nya itu.
"Huff.. (napas yang tersenggal-senggal), nih bu tas nya." Memberikan kembali tasnya tersebut.
" Ah.. terima kasih nak, karna kamu akhirnya tas saya bisa kembali." Sembari mengambil tasnya dari tanganku.
"Iya bu sama-sama, lain kali ibu hati-hati ya kalo sedang jalan sendirian soalnya sekarang tuh lagi rawan banget." Jawabku sembari memegangi luka sayatan dari si pencopet tadi.
Melihat ada noda darah di bajuku si ibu itu langsung mendekatiku dan menyingkirkan tanganku. Karena darahnya begitu banyak si ibu pun merasa terkejut melihatnya.
"Astaga nak kenapa banyak sekali darah dibajumu, dan kenapa tangan mu bisa terluka seperti ini hmm." Menatapku khawatir.
"Oh.. Ini, tadi pas saya mau ambil balik tasnya ibu tiba-tiba saja si pencopetnya ngeluarin pisau dan pas saya mau nyelamatin diri saya eh si pencopetnya malah melukai tangan saya. Tapi untung nya ada yang nolongin saya dari jeratan para pencopet itu." Jelasku pada ibu tersebut.
Mendengar kejadian itu terlihat wajah ibu itu begitu terkejut mendengar ceritaku.
"Astaga.. Ya sudah kalo gitu ayo ikut saya sekarang. Kita harus secepatnya mengobati lukamu itu." Sembari menarik pelan tanganku.
"Eh tidak usah repot-repot bu, lagian ini cuma luka kecil kok."
"Mau itu luka kecil tetap harus di obatin juga, jadi menurutlah." Jawab ibu itu sambil kembali menarik tanganku.
Karena tak bisa menolak, akhirnya aku pun mengikuti ibu tersebut.
Si ibu itu membawaku ke klinik terdekat. Lalu dokter disana pun langsung menangani lukaku. Karena lukanya begitu dalam mau tak mau lukanya harus di jahit. Dan dokter itu pun memberikan 3 jahitan kepada lukanya.
Selesai di tangani, aku pun sudah di perbolehkan pulang oleh dokter, dengan berbekalkan beberapa obat dan juga salep untuk ku bawa pulang.
"Nak.. maafkan ibu ya karna demi menolong ibu kau sampe terluka separah itu." Menunduk sedih melihatku.
" Jangan seperti itu bu, ini semua bukan salah ibu kok. Mungkin udah takdirnya aja." Jawabku sembari tersenyum ke ibu tersebut.
"Kamu memang anak yang baik nak, Kalo ibu boleh tau siapa kah namamu nak." Tanyanya sembari menatapku hangat.
"Nama saya tiara Bu."
Mendengarku mengucapkan namaku, ibu itu langsung tersenyum sembari mengusap lembut ranbutku.
"Namanya yang begitu cantik, begitu pun dengan orangnya." Ucapnya sembari mencubit kecil bagian pipiku.
Mendengar pujian ibu tersebut, membuat pipiku sedikit merona karena malu dengan pujian tersebut. Untuk menutupi semburan merah di pipiku, aku kembali menanyakan nama si ibu itu.
"Oh iya... Kalau ibu sendiri siapa namanya."
"Kamu bisa memanggilku mamih mayang."
"(mengerutkan keningku) Ma..Mamih.." Ucapku ragu-ragu.
"(Tersenyum melihat ekspresiku), orang-orang memang biasa memanggilku dengan sebutan mamih baik itu orang rumah, tetangga, atau siapa pun juga yang mengenalku." Jawabnya sembari sedikit terkekeh.
Mendengar penjelasannya Bu mayang membuatku sedikit terkekeh karena lucunya.
Disaat kami sedang asik-asiknya mengobrol, tiba-tiba saja ada sebuah mobil mewah yang berhenti tepat di depan kami.
Dan tak selang lama, ada seorang pria yang keluar dari dalam mobil dan kemudian berlari kecil menghampiri kami berdua.
"Mamih.." Panggilnya dengan penuh ke khawatiran.
Pria itu langsung memeluk Bu Mayang erat dan bu mayang pun membalas pelukan pria tersebut sembari menangis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments