Baru beberapa menit berpelukan, kini nenek pun mulai melepaskan pelukannya dariku.
Lalu setelah itu nenek perlahan-lahan bangkit dari duduknya. Kemudian nenek melangkah pergi dari sisiku.
Merasa takut ditinggalkan oleh nenek aku pun mencoba menghentikannya dengan terus-menerus memanggilnya untuk kembali lagi ke sampingku.
"Eugh..nenek kembalilah nek, nenek kumohon jangan pergi nek." Ocehku dalam keadaan mata yang masih tertutup.
Suster yang saat ini sedang menanganiku pun merasa sedikit terkejut karena melihatku yang sedang melantur. Karena takut aku terjebak di dunia mimpiku suster pun mencoba untuk membangunkanku.
"Mba.. apa mba denger saya, kalau mba mendengar saya tolong buka matanya." Ucapnya sembari menepuk-nepuk pelan bagian lenganku.
"(Masih mengigau) nenek kembali,kumohon." Ricauku lagi sembari sedikit memberontakkan tubuhku.
Dan suster yang menanganiku pun tak henti-hentinya mencoba untuk membangunkanku.
"Mba..sadarlah mba." panggilnya lagi sembari sedikit memberikan sentakan ke bagian tubuhku.
Merasa terusik dengan hal yang dilakukan suster tersebut, seketika aku pun tersadar dari mimpiku.
Karena sentakan yang diberikan suster tersebut, itu membuat kepalaku begitu sakit, lalu aku mencoba untuk bangun dari tempatku dan menatap sekelilingku yang terlihat begitu asing.
"(memegangi kepalaku), Eugh.. sus kenapa saya malah ada disini." Tanyaku bingung.
"Mba tenang ya, tadi itu mba nya pingsan makanya sekarang mba ada disini juga, dan tadi dokter aldo yang membawa mba kesini." Jelasnya.
"Kalau begitu aku harus secepatnya keluar dari sini, karna nenekku pasti sangat membutuhkanku." Ucapku panik sambil melepas paksa selang infus yang sedari tadi terpasang di tanganku.
Khawatir melihat tindakanku, suster itu pun mencoba untuk menghalangiku.
"Mba jangan lakukan itu, saat ini keadaan mba kurang baik jadi istirahatlah." Ucapnya sembari menahan tangaku.
"Tidak sus, saya sudah merasa sehat sekarang jadi tolong jangan halangi saya."
Setelah melalui perdebatan panjang dengan suster tadi akhirnya aku pun di ijinkan keluar olehnya.
Aku mulai berjalan keluar dari ruanganku, tapi baru juga jalan sampai pintu keluar mendadak kepalaku terasa pusing lagi. Tapi demi menemui nenekku kucoba sekuat mungkin untuk menahannya.
Aldo yang melihatku berjalan sembari memegangi kepala dengan cepat dia pun menghampiriku.
"Tiara kenapa kamu malah disini, harusnya kamu itu istirahat karna saat ini kondisimu begitu buruk Tiara." Katanya dengan wajah yang sedikit khawatir padaku.
"Ah..tidak ( ucapku bohong), keadaanku sudah mulai mendingan kok." senyumku sembari mencoba meyakinkannya.
"Apa kamu sungguh-sungguh sudah baikkan sekarang." Tanyanya lagi untuk memastikan.
"Iya Aldo, aku sungguh-sungguh merasa sangat baik sekarang( sambil tersenyum tipis kepada Aldo), Oh iya bagaimana keadaan nenekku sekarang ini." mengalihkan pembicaraan.
"Keadaannya sekarang sangatlah kritis, tapi kita berdoa saja ya supaya nenekmu bisa sesegera mungkin melewati masa kritisnya."
"(Mengangguk pelan) hmmm iya do makasih." Ucapku dengan sedihnya.
"Ya sudah kalau begitu aku tinggal dulu ya, soalnya masih ada beberapa pasien lagi yang harus aku tangani."
"Baiklah.." Jawabku lesu.
Saat Aldo berjalan pergi meninggalkanku, tiba-tiba saja kepala ku kembali terasa pusing, karena tak kuat menahannya aku pun memutuskan untuk duduk sebentar di kursi tunggu yang ada di depan ruangan nenek.
Ketika aku sedang sibuk memijati bagian pelipis kepalaku, tiba-tiba saja ada seorang suster yang datang menghampiriku.
"Permisi mba, apakah benar anda ini kerabat dari pasien yang bernama Ibu Nuri." Tanyanya padaku.
"(Bangkit dari dudukku) Oh... iya benar, ada apa ya sus."
"Oh kalau begitu saya ingin memberitahukan bahwa sekarang ini mba sedang ditunggu di bagian administrasi rumah sakit."
"Mmm... baiklah nanti saya kesana."
"Baik, kalau begitu saya permisi dulu ya mba." Ucapnya sambil tersenyum ramah padaku.
"Oh iya silakan, dan makasih buat infonya."
"Iya sama-sama mba." Jawabnya sambil melangkah pergi meninggalkanku.
Merasa mendingan, aku pun sesegera mungkin pergi ke bagian Administrasi.
"Maaf, katanya tadi saya disuruh datang kebagian administrasi." Tanyaku kepada petugas administrasi tersebut.
" Iya benar sekali bu, ini saya hanya ingin memberikan berkas rincian biaya perawatan milik Ibu Nuri." Jawabnya sambil memberiku beberapa lembar kertas tagihan rumah sakit.
"Oh baiklah mba, terima kasih." Aku pun mengambil berkas tagihan tersebut dari tangannya.
Kubuka berkas tersebut perlahan dan betapa terkejutnya aku setelah melihat total keseluruhan biaya yang harus ku lunasi nantinya.
"Apa 150 juta, Ya tuhan dari mana aku bisa dapat uang sebesar ini. Bagaimana caraku melunasi semua ini." Batinku sembari membaca ulang kertas tagihan tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Aiur Skies
sadisnya biaya kesehatan didunia ini, sembuh belum tentu, apalagi kasus nenek Nuri ini jelas faktor Usia dan penyakit yang dideritanya ckckckck
2024-01-30
1
Aiur Skies
sepertinya untuk kesopanan dan menghargai profesi, alangkah pantasnya jika panggilan nya "dokter"
2024-01-30
0
Nellista Siregar
maaf untuk bab 12 nya terjadi doubel up karena ada sedikit gangguan tadinya. 🙇
2023-09-05
0