Melihat Bu Mayang yang menangis di pelukannya membuat si pria itu khawatir, lalu si pria itu melepas pelukannya dan menatap wajah Bu mayang untuk memastikan keadaannya.
"Mamih kenapa menangis seperti ini." Menatap cemas wajahnya Bu Mayang.
Selesai menatap Bu Mayang si pria itu pun kembali menatap tajam kearahku. Merasa takut ditatap oleh nya aku pun dengan cepat menundukkan kepalaku.
"Mamih ayo bilang sama Ryan mamih kenapa, apa wanita itu yang sudah menyakiti mamih." Sembari menunjuk ke arahku.
Merasa disalahkan aku pun dengan cepat mengangkat kepalaku untuk melihat pria itu bingung.
Bu Mayang yang melihat anaknya menunjuk ke arahku dengan cepat dia menepis tangan anaknya itu.
"Apa yang sudah kau kata kan." Memukul pelan tangan anaknya itu.
"Mamih nangis karena wanita itu kan mih." Bertanya kembali kepada Bu Mayang.
"Bukan, malahan tadi dia yang nolongin mamih dari kecopetan." Jelasnya kepada pria itu.
Mendengar Bu Mayang yang kecopetan seketika wajahnya menegang, dan kemudian dia pun berubah menjadi cerewet untuk menanyai keadaan Bu Mayang.
"(Melebarkan matanya), apa kecopetan terus keadaan mamih gimana apa ada yang terluka, apa penjahatnya bawa senjata, mamih tidak ada yang cidera kan, semua nya aman kan mih, apa perlu kita pergi ke dokter untuk memeriksa semua kondisi mamih." Ucapnya dengan sangat bawel.
Karena terlalu bawel Bu Mayang pun menutup mulut anaknya itu agar bisa berhenti bicara.
"Haishh... bawelnya mulutmu ini (sembari membekap mulutnya), kau dengar ya mamih itu baik-baik saja. Jika kau ingin mengkhawatirkannya sebaiknya kau mengkhawatirkan keadaan tiara saja karna yang terluka di sini adalah dia." Sembari menunjukku.
"Hahh... Dia terluka? Kenapa dia bisa terluka mih." Tanyanya bingung.
"Dia terluka karena habis menolong mamih, dia mengejar para pencopet yang sudah mengambil tas nya mamih, eh tanpa dia ketahui ternyata pencopet itu bawa senjata tajam terus mereka melukai bagian lengannya tiara." Ucap Bu Mayang sembari menjelaskan semua kronologinya kepada Ryan anaknya.
Lalu Ryan pun merasa terkejut setelah tau semua kejadiannya lalu dia pun menghampiriku dan menanyakan keadaanku.
"Ya ampun maafkan aku sudah salah paham kepadamu tadi." Menundukkan kepalanya karena merasa bersalah kepadaku.
"Tidak apa-apa tuan." Jawabku sembari tersenyum ke arahnya.
"Apa lukanya sakit? Apa mau aku antarkan ke rumah sakit."
"Tidak usah Tuan lagian tadi ibu anda sudah membawa saya ke klinik kok, jadi tidak perlu khawatir."
Mengetahui keadaanku yang baik-baik saja, pria itu kembali menatap ke arah amplop lamaran kerja yang aku bawa di dalam tasku ini.
"Kamu lagi cari pekerjaan ya, soalnya aku lihat ada amplop coklat di tas mu." Tanyanya tiba-tiba.
"Eoh..(menatap tasku yang terbuka), iya saya sedang mencari pekerjaan."
"Kalau begitu bekerjalah bersamaku."
"Eugh..(Kaget), Kalau boleh tau kerja apa ya."
"Tidak berat, kamu hanya perlu merawat dan menemani mamihku saja, karna setelah aku lihat mamihku sangat nyaman berada bersamamu."
"Tapi tuan.." Ucapku bingung.
Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku Ryan langsung dengan cepat memotongnya.
"Aku akan membayarmu 5 kali lipat melebihi UMR karyawan perkantoran, jadi mau yah."
Mendengar tawaran gaji nya, yang begitu besar membuatku tak bisa menolaknya. Aku pun dengan cepat menerima tawarannya itu, karna bagaimana pun saat ini aku benar-benar membutuhkan banyak uang untuk bayar biaya rumah sakit nenekku.
"Ya sudah tuan saya mau."
Bu Mayang yang mendengar persetujuanku, merasa sangat senang sekali apalagi mengetahuiku akan tinggal bersama dengannya.
"Kalau begitu sekarang kamu ikut saya pulang, karna sekarang kamu akan tinggal bersama dengan kami." Ajaknya kepadaku.
"Baik.. Kalau begitu saya akan pulang dulu untuk membawa pakaian saya."
"Ah.. Itu tidak perlu, karna semua kebutuhanmu akan disiapkan, jadi kamu tinggal ikut saja."
"Oh baiklah Tuan jika memang seperti itu." Jawabku patuh kepada pria itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments