"Mas.. Kenapa semua barang nya malah dibawa kesini." Tanya ku dengan bingungnya kepada Ryan.
"(Tersenyum kepadaku)", ini semua adalah pakaian untukmu, sengaja ku belikan sebanyak ini, supaya kamu bisa memiliki baju ganti yang cukup.
"Ta..tapi apakah ini tidak terlalu berlebih."
"(menggelengkan kepalanya pelan), tidak sama sekali." Sembari tersenyum.
"Saya merasa jadi tidak enak."Menundukkan kepalaku dihadapannya.
Ketika aku menundukkan kepalaku, tiba-tiba saja Ryan berjalan mendekatiku dan kemudian dia mengangkat daguku untuk menatapnya.
"Ini semua pantas untuk kamu dapatkan, apalagi setelah aku tahu bahwa kamu sudah menyelamatkan mamihku, mungkin lebih dari ini pun pasti akan aku berikan padamu Tiara." Ucapnya sembari menatapku dengan lembut.
"deg"
"Astaga jantungku kenapa berdetak sekencang ini, tatapan ini Ya ampun tatapannya hangat sekali, dan dia juga terlihat begitu tampan jika dilihat sedekat ini." Umpatku dalam hati.
Merasa konyol dengan semua isi pikiranku aku pun menyadarkan diriku dari halusinasi yang ku buat.
Karena saat ini jarak kami begitu dekat aku pun mencoba untuk memberi jarak antara aku dan Ryan.
"Tidak usah seperti itu mas." Sedikit memundurkan langkahku.
"Aku hanya ingin berterima kasih kepadamu Tiara." Kembali mendekatkan dirinya kearahku.
"Saya menolong mamih ikhlas kok mas jadi tidak usah memperlakukanku secara berlebihan seperti ini." Mengalihkan pandanganku untuk menatap semua paper bag pemberiannya itu.
"Iya saya percaya itu, mmm.. hari ini kamu pasti merasa lelah kan."
"Iya lumayan mas."
"Ya sudah istirahatlah, supaya nanti keadaanmu bisa cepat membaik juga." Ucapnya dengan penuh perhatian kepadaku.
"Iya mas."
"Ya sudah kalau begitu saya tinggal dulu ya, soalnya saya harus kembali lagi ke kantor."
"Iya mas hati-hati." Sembari menganggukkan kepalaku pelan.
Melihat kepergian Ryan dari kamarku, aku pun langsung membuka satu per satu paper bag yang ada di kasurku. Ryan membelikanku begitu banyak pakaian dengan harga yang terbilang begitu mahal.
"Astaga bajunya mahal-mahal sekali, apa Mas Ryan tidak akan takut rugi jika membeliku pakaian semahal ini." Umpatku terkejut melihat label harga yang masih menempel pada pakaian tersebut.
"Kayaknya aku harus hati-hati deh sama semua baju mahal ini, supaya gak pada rusak kan sayang." Sambungku, sembari melipati semua pakaian yang diberikan oleh Ryan tadi.
Selesai melipati semua pakaiannya, aku pun menatanya kedalam lemari pakaianku.
Setelah itu aku pun kembali membaringkan tubuhku dengan hati-hati karena takut luka jahitnya kenapa-kenapa.
Karena sudah menemukan posisi yang nyaman, seketika aku pun merasakan kantuk yang begitu berat, sehingga aku pun tak bisa lagi menahan mataku untuk tertidur.
Setelah beberapa saat ku coba menahannya ternyata aku tak bisa menahannya, hingga akhirnya aku pun mulai tertidur nyenyak tanpa kusadari.
...****************...
Pada sekitaran pukul 3 sore, Karena tak sengaja menindih lenganku yang terluka membuatkuaku terbangun dari tidurku karena merasakan nyeri yang begitu hebat pada luka nya. Aku sempat merasa takut jika luka jahitannya itu terbuka tapi pas ku cek ternyata semuanya baik-baik saja.
Karena merasa tak enak sebab tidur terlalu lama,aku pun memutuskan turun kebawah untuk menghampiri Bu Mayang yang saat ini sedang asik menonton tv diruang tengah.
"Mamih..." Panggilku dengan suara khas bangun tidur.
"Eh tiara sudah bangun ya, ayo sini duduk di samping mamih." Menepuk-nepuk bagian kursi yang ada di sebelahnya.
"iya mih." berjalan ke arah kursi yang ditunjuknya.
"Kamu pasti kelelahan banget ya sampe tidur nya pules banget tadi." Tanya nya sembari merapihkan bagian rambutku yang kusut.
"Iya mih, kayaknya efek aku minum obat dari dokter tadi deh makanya aku tidurnya bisa pules."
"Mmm.. Lukanya pasti sakit banget ya." Tanya nya khawatir.
"Iya mih lumayan apalagi pas tadi aku tidur,aku ngga sengaja nindihin tanganku yang terluka." Jawabku sembari memegangi bagian tanganku.
"Hah..(Ucapnya kaget), lukanya tertindih, apa kamu mau mamih antarkan ke dokter biar luka nya bisa cek soalnya mamih takut jahitannya lepas." Paniknya sembari memerhatikan bagian tanganku yang terluka.
"Eh tidak usah mih, sekarang rasa nyerinya dah mendingan kok." Bohongku, sembari menenangkan Bu Mayang yang saat ini sedang panik dengan kondisiku.
"Syukurlah kalau begitu." Ucapnya merasa lega.
Setelah tau keadaanku baik-baik saja kini Bu Mayang pun mulai memelukku erat sembari sesekali mengusapi bagian rambutku.
Terlihat begitu jelas bagiku bahwa Bu Mayang sangatlah menyayangiku dengan begitu tulus, layaknya seperti kasih sayang seorang ibu kepada anak perempuannya.
Aku pun merasa begitu senang sekali karena bisa merasakan hangatnya dekapan seorang ibu, setelah sekian lamanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments