Bab 19

Kini sebulan telah beralu, pada pertengahan musim semi ini, wabah akan mulai aku berada di perpustakaan kastil, membaca buku tentang kerajaan, obat-obatan, dan mage. Aku rasa pengetahuan yang ada di sini cukup untukku mengatasi masalah yang akan kami hadapi.

"Apa kau sudah selesai membaca? Hmmm?" tanya Claude sembari memainkan rambutku.

Selama satu bulan ini ia makin dekat denganku, ia sering mengagetkanku dari belakang, memainkan rambutku, memegang daguku, tidur di pundakku, hal ekstrim lain seperti memeluk dan mencium pipiku jika aku bukan orang dewasa, tentu saja aku telah terpesona dengan segala tingkahnya. Untung saja aku adalah wanita modern di abad ke 21, godaan anak seperti Claude tidak akan menggoyangkan ku. Namun semakin hari, ia semakin menggemaskan, andai aku memiliki adik sepertinya, aku pasti bahagia.

"Haaaahhhh, aku mulai lelah." kataku menyenderkan bahu ke kursi.

"Apakah kau mau aku memijit bahumu?" tawarnya.

"Ahh,,, tak perlu, bagaimana mungkin aku menyuruh anak seorang duke sepertimu untuk memijit pundakku. Lagipula tidak mungkin anak kecil sepertimu mempunyai tenaga untuk memijitku," kataku dengan gestur menolak.

'Ahhh, sepertinya aku mengatakan sesuatu yang salah, ia seperti seekor anjing murung yang tengah bersedih, aku rasa aku dapat melihat telinganya yang tertutup.' pikirku.

"Jadi, bagimu aku hanyalah anak kecil, bukankah aku tiga tahun lebih dewasa darimu? Aku merasa kau selalu menganggap ku sebagai anak kecil." katanya.

"Ahh, emmmm, karena kita anak kecil, maka dari itu aku memanggilmu anak kecil." kilahku gugup.

"Jadi, ketika aku dewasa nanti, apakah kau dapat menganggapku selayaknya seorang pria?" tanyanya penuh harap.

'Ah, rasanya hatiku meleleh, aku merasa ia seperti seekor anjing yang mengibaskan ekornya, ia terlihat menggemaskan.'

"Tentu!" kataku sembari tersenyum lebar.

Ia menjadi penurut dan riang seperti saat pertama kali kami bertemu setelah gelang ku di temukan, ah aku tak tau mana sifat aslinya, apakah mungkin ia kesal karena gelang itu tak ku gunakan?

"Aku dengar di kota akan di adakan festival bunga api tiga hari lagi, apakah kau mau ikut menjelajahi malam bersama?" tanyaku sembari memegang tangannya.

Ia menarik tangannya, terlihat wajahnya memerah, kemudian ia mengangguk perlahan.

'Apakah aku salah lagi?' tanyaku dalam hati, aku mengendikkan bahu, kemudian melanjutkan membaca buku.

Hari itu berlalu begitu saja, festival yang di adakan di kota di laksanakan pada malam hari, jika aku menyelinap aku rasa akan baik-baik saja. Namun bagaimana mengelabuhi Lova? Ia pasti panik jika ia tak melihatku di malam hari. Ah, itu gampang di pikirkan, namun setelah aku pindah di dalam kastil, aku tak pernah bisa menyelinap, satu sisi penjaga selalu ada dan siaga di setiap ujung koridor, mungkin jika aku sendirian aku dapat menyelinap keluar, namun aku pergi dengan Claude! Bagaimana bisa kami pergi? Di sisi lain aku yakin tak akan mendapat izin dari Marques jika aku mengatakan hal ini padanya.

Aku memikirkan bagaimana caranya aku mendapat izin dari Marques, aku lupa jika sekarang aku tengah berada di kelas.

"Ehem, apakah kau sudah menyelesaikan lamunanmu, nona Sierra?" Tanya Tucker Carlson ia adalah guru kelas sihir kami.

"Eh, iya. Maaf, saya tidak bermaksud untuk melamun." Kataku sembari memainkan jari.

"Aku rasa sehari ini kau tak fokus sama sekali, apa kau memikirkan tentang festival di kota?" tebaknya.

"Wah, apa anda bisa membaca pikiran?" tanyaku antusias.

"Bagaimana bisa aku tidak tau, satu lembar bukumu tertulis festival semua!" katanya ketus.

Mukaku memerah, aku menggaruk rambutku yang tak gatal, mengalihkan pandangan, itu selalu kulakukan ketika merasa bersalah, sementara dua orang di sampingku menertawakanku.

"Hehe, maaf." senyum kecut keluar begitu saja.

Risauku tak berhenti begitu saja, namun tawa mereka cukup pecah dan membuatku sedikit lupa.

Beruntung hari ini Cherry tidak mengikuti kelas karena ia mengalami demam setelah belajar menunggang kuda tempo hari, mungkin karena musim di dunia ini dengan duniaku sebelumnya sama, aku merasa cukup terbiasa, terlebih dulunya aku suka berpacu kuda dengan beberapa temanku, mungkin itu membuatku merasa biasa saja.

"Aku sudah izin dengan Marques, ia telah mengizinkan kita pergi bersama." kata Claude sembari melanjutkan tawanya.

"Ah, benarkah? mengapa kau tak memberitahuku?" kataku.

"Karena aku suka melihat ekspresi mukamu. Kau tau? hanya dengan melihat wajamu, aku tau segala isi hatimu." katanya menatapku.

Mukaku memerah, bagaimana bisa anak itu menggodaku seperti itu. Namun sejujurnya bukan hanya itu yang membuatku resah. Pada saat perayaan, akan ada segerombol orang yang menculikmu, dan aku harus tetap mengikuti alur cerita, perbedaannya adalah jika dalam novel Cherry yang mengajakmu pergi, kini aku yang memintamu untuk pergi ke festival.

'Jika di perhatikan lagi, dalak novel Claude hanya mengikuti alur, sejujurnya ia tak suka pergi ke tempat yang ramai, karena ia selalu di kucilkan di manapun ia berada karena kutukan yang ada dalam dirinya, apakah ia akan baik-baik saja? namun kediaman Duke Calton dengan Marques Houston cukup jauh, aku rasa tak akan ada orang yang mengenalinya di sini.' pikirku.

"Sudahlah, tak usah memikirkan hal yang tak berguna." Kata Claude.

Kami melanjutkan kelas dengan santai karena tak ada pengacau hari itu, seperti yang kalian tau, Cherry bukanlah orang yang memiliki keterampilan dalam hal magis, ia hanya menjadi penghambat dalam pelajaran, namun kami tidak mungkin melarangnya karena ia adalah anak Marques Houston, orang yang membayar guru sihir itu.

Jika kalian bertanya mengapa kami belajar di kediaman Marques namun Ronald bersekolah di sekolah sihir, itu karena di rumah ini kita hanya dapat mempraktikan sihir dasar, namun ketika di sekolah sihir, mereka akan membagi lagi kekuatan masinh-masing mage, dan sejauh mana sihir mereka berkembang tergantung otak dan mana yang mereka punya. Setauku Ronald hanya akan berada di Mage level 3. Dunia ini adalah dunia di mana sihir masih sangat di butuhkan, seorang mage menjadi arch mage ketika berada di tingkat level 7. Namun aku pernah membaca ada seorang mage yang sangat kuat berapa ribu tahun silam, ia dapat menguasai mage level 8, sampai sekarang tak ada yang dapat melampaui kekuatannya.

Hari ini hari di mana kami pergi ke festival, perasaanku semakin campur aduk, antara aku mengikuti alur, ataukah aku membatalkan rencana ini.

'Ah, dia pasti baik-baik saja.' pikirku kemudian.

Kami menaiki kereta kuda, semakin mendekati tempat itu, jantungku semakin berdegup kencang, rasa risauku bertambah parah, aku memainkan tanganku yang kini basah dengan peluh. Namun itu semua sirna ketika melihat Claude yang antusias memanggilku,

"Sierra, lihat, kita sudah sampai!" katanya dengan mata berbinar.

Aku tersenyum sembari mengulurkan tangan, "Mari kita berpesta!" kataku.

Di sana aku bertemu dengan Ihar,

"Wah, wah, pantas saja anda melupakan saya. Sekarang anda telah memiliki pasangan yang cukup tampan sehingga mencampakkan saya." kata Ihar menyindirku.

"Hei, apa yang kau bicarakan?" kataku ketus.

"Anda benar-benar tak punya hati." katanya pura-pura bersedih.

"Hentikan sandiwaramu sebelum aku memuntahkan seluruh makan malamku." kataku.

"Ah, anda begitu kejam, bagaimana bisa anda melakukan itu pada saya setelah apa yang kita lalui bersama malam itu!" katanya.

"Jaga ucapanmu itu, aku tak melakukan apapun denganmu!" kataku dengan wajah memerah, kali ini gurauannya keterlaluan, tentu saja ia tertawa terbahak melihatku salah tingkah seperti itu.

"Sudah lama saya tak tertawa lepas seperti ini. Terimakasih," katanya lagi.

Entah apa maksudnya, aku hanya bisa mengangguk.

"Ah, aku ingat," Aku merogoh saku dress ku, mengambil belati yang seharusnya menjadi oleh-oleh baginya.

"Aku ingin memberikan ini untukmu. Terimakasih atas bantuanmu tempo hari," kataku tersenyum.

"Ah, terimakasih, namun anda tak perlu merepotkan diri, hanya melihat wajah anda yang manis membuat saya bahagia," kata Ihar.

Pria ini memang selalu mengatakan omong kosong dan menggangguku dengan segala gombalan yang keluar dari mulutnya.

"Hei, apakah kau ini seorang playboy? Kau menggombal layaknya kau bernapas!" kataku ketus.

Aku merasa tatapan tajam dari belakang kepalaku, sepertinya aku melupakan sesuatu.

"Ah, aku lupa, kenalkan ini Claude, ia anak dari Duke Calton."

"Perkenalkan saya Ihar, senang bertemu dengan anda Claude de Calton." sapa Ihar dengan ramah, ia menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Claude.

"Saya tak tau mengapa orang seperti anda dapat berkeliaran di festival seperti ini." Sindir Claude mengabaikan tangan Ihar.

"Apa yang kau katakan?" tanyaku.

"Tanyakan saja pada pria di depanmu, benar kan? pa,,," Secepat kilat Ihar menutup rapat mulut Claude.

"Sepertinya masih ada hal yang harus say kerjakan, selamat malam Sierra, semoga harimu menyenangkan." kata Ihar yang kemudian mencium punggung tanganku dan pergi.

"Tu,,,, Ah,,,, mengapa ia pergi begitu saja." kataku kemudian.

"Kau harusnya lebih berhati-hati jika memelihara ular!" kata Claude. .

"Ular? Apa maksudmu?" tanyaku penasaran.

"Sudahlah, lupakan, mari kita pergi." Ajaknya

Beberapa saat setelah kami menghadiri festival yang ada di kota. Claude di culik oleh beberapa orang berjubah hitam. Ini adalah masa di mana para saint dan prajurit kerajaan di utus untuk mencari Claude yang di tawan oleh penganut kepercayaan hitam/ilmu sesat. Aku yang sudah mengetahui hal ini merasa kesal karena harus mengikuti alur cerita.

Tak lama kemudian status bar dari Goddess system keluar.

"Misi penyelamatan untuk Claude de Calton."

"Apa? apa kau gila? Bagaimana bisa aku menghancurkan pertemuan pertama Saintess dan Claude yang membuat Claude cinta pada pandangan pertama?" kataku sembari menggaruk kasar rambutku.

Aku tak habis fikir dengan sistem aneh yang membelengguku.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!