Setelah pertemuan itu aku yang telah mengumpulkan banyak ramuan obat-obatan berpamitan dengan Ben, aku banyak belajar tentang ramuan dan tumbuhan yang berguna untuk kesehatan padanya.
Sore harinya aku kembali ke penginapan, mengambil beberapa barang, kemudian berencana check out. Sebelum aku pergi, pemilik penginapan menyarankanku untuk mengunjungi pusat desa. Ia bilang ada festival tani yang di selenggarakan untuk menghormati para leluhur serta ajang bagi mereka untuk berbagi, pasalnya mereka akan membawa hasil tani, kemudian mereka masukan kedalam tungku besar yang akan di masak dan di makan bersama, bahkan tak sedikit orang dari desa sebrang yang mengikuti tradisi ini. Para anak kecil yang tinggal di gereja mendapat bagian yang cukup untuk mengisi perut mereka.
Malam itu mereka menari, tertawa bersama, anak kecil berlarian mengelilingi tungku yang sedang memasak bahan makanan untuk mereka santap. sementara di pinggir jalan tak jauh dari tempat itu, ada pedagang yang menjajakan makanan serta pernak pernik untuk oleh-oleh, dan banyak hal lain yang menarik perhatianku.
Aku membeli anting untuk Lova, kancing baju dengan giok warna biru untuk alchemist kami, serta bross warna hijau untuk penjaga gerbang. Aku melihat sebuah belati kecil dengan giok warna merah yang tertanam di badannya, melihat benda itu aku teringat oleh Ihar.
"Berapa harga benda ini?" tanyaku pada seorang pedagang yang mengenakan jubah hitam.
"Aku tak menjual benda itu!" katanya acuh.
"Lantas mengapa kau bawa kemari!" aku bersungut.
"Itu barang yang di kutuk!" ucapnya.
"Bagaimana jika aku membeli dengan harga seperti ini?" tanyaku sembari menyodorkan keping uang emas padanya.
Ia dengan sigap membuka jubah yang menutupi kepalanya, kemudian secepat kilat mengambil koin emas itu, dan memberi belati itu padaku, terlihat mukanya yang bahagia,
'Aku tak sedang terjebak trik marketing, kan?' pikirku.
'Ah, harusnya aku menawar dulu,' aku mulai menyesali keputusanku, namun aku rasa harga itu pantas untuk belati ini. Tak lupa aku membelikan biji bunga matahari untuk Tom, aku yakin ia akan menyukainya. Aku kembali melanjutkan perjalananku untuk pulang ke kastil.
Baru saja aku melangkahkan kaki ke gerbang kastil, Lova sudah mengomel padaku, ia mulai merundungku dengan seribu pertanyaan,aku hanya diam dan akhirnya aku memberikan oleh-oleh itu untuknya.
"Ah, nona, apakah ini untuk saya?" tanyanya dengan mata berbinar.
"Ya!" jawabku.
"Saya akan menyimpan benda berharga ini, ini kali pertama nona memberikan sesuatu untuk saya, akan saya simpan dan menjadi perhiasan turun temurun bagi keluarga saya!" katanya terharu.
'Aku merasa bersalah ketika mempunyai uang cukup banyak, dan tak memberi sesuatu untuknya yang tulus menjagaku.' pikirku.
"Tak perlu sampai seperti itu Lova, aku akan memberikan sesuatu yang lain jika kau menikah nantinya." kataku
Ia memelukku erat, kehangatan ini hanya aku rasakan jika Lova memelukku. Ia layaknya seorang keluarga bagiku.
"Ini untukmu Sean." ku berikan kotak hadiah itu untuk penjaga gerbang kastil, pria dengan tinggi 175 cm berbadan tegap berumur 21 tahun itu menerima dengan riang.
"Aku harus pergi menemui Zayn, di mana dia?" tanyaku sembari mengedarkan pandangan.
"Saya tadi melihat tuan Zayn berada di lab. Sepertinya ia tengah serius dengan penemuan barunya." jelas Lova.
"Tidak lagi." Kataku sembari menggaruk rambutku yang tak gatal.
Aku rasa semua alchemist atau ilmuan sudah pada gila. Aku tau mereka selalu menggunakan hewan sebagai kelinci percobaan, namun Zayn terlalu tergila-gila dengan tikus yang ia punya. Sekarang di dalam labnya mempunyai 38 tikus dengan jenis yang berbeda, ada yang tidak berbulu, ada yang berbulu lebat, ada yang tak mempunyai ekor, ada yang berekor panjang, bermata satu, berekor dua, dan masih banyak lagi. Kegilaan itu tak berakhir disitu, pasalnya Zayn menamai ke tiga puluh delapan tikusnya dengan nama yang berbeda. Setiap hari ia habiskan dengan menemani tikus-tikus itu, mengajak mereka ngobrol, minum teh bersama. Aku rasa jika ada perempuan yang bisa menjelma menjadi tikus, ia akan segera menikahinya.
Aku berjalan cepat menuju lab, terlihat asap hitam telah menutupi ruangan itu. Entah apa yang manusia itu lakukan, aku harap ia tak melakukan eksperimen gila seperti bulan lalu, memberi tikus sebuah ramuan untuk dapat berdansa. Alih-alih tikus itu dapat berdansa, ia harus kehilangan nyawa karena dosis yang di suntik tidak sesuai dengan takaran, alhasil tikus kesayangannya mati satu, ia bahkan mengebumikan tikus itu, dan berkabung selama seminggu, ku dengar ia bahkan mogok makan, aku rasa jika aku tak menemukannya di lab dengan kondisi buruk waktu itu, ia sudah lama meninggal.
Aku membuka pintu lab, masuk kedalam kepungan asap,
"Zayn! Apa yang kau,,,," tak sempat aku menyelesaikan perkataan ku, aku telah melihatnya dengan wajah sedih, tak hanya itu, sekujur tubuhnya penuh dengan noda hitam.
"Hahahhaha,,,,, Kau kenapa?" Tanyaku sembari tertawa terbahak. Ekspresi yang ia keluarkan sangat unik.
"Bukankah anda sangat berlebihan, Nona?" katanya sembari melihatku.
"Maaf Zayn, namun keadaanmu sangat,, hahahhahaha. Maaf, aku tidak tahan," kataku dengan suara tawa renyah.
"Jadi untuk apa nona mencari saya?" tanya nya sembari mengibaskan debu yang ada di badan, kemudian mengelap kacamata putihnya yang telah berubah warna menjadi hitam.
"Aku mempunyai hadiah untukmu, nah, ambil lah." kataku sembari memberikan kotak hadiah untuk Zayn.
"Terimakasih Nona Sierra, saya akan menggunakannya dengan baik." katanya sembari menyimpan kotak itu.
Kami berbincang sejenak, kemudian aku memberikan hasil hunting tanaman obatku untuknya.
"Saya dengar nona pergi ke bukit hingga menginap." selidiknya.
Biarpun ia adalah pria yang baik, namun terkadang ia seperti orang tua yang menasehati anaknya jika sedang bersamaku.
Aku yang merasa bersalah hanya memalingkan pandangan, sembari mengangguk. Aku mulai memainkan jariku karena gugup.
"Nona, saya tau anda sangat suka dengan ramuan obat, namun anda tidak perlu menginap hanya untuk memberi ramuan sebanyak ini, saya sangat berterimakasih atas kebaikan hati anda, akan saya gunakan tanaman ini dengan sebaik mungkin," katanya sembari memegang tanganku.
Aku tau ini sebuah kesalah pahaman, namun aku tak ingin menjelaskan situasi yang aku hadapi padanya, jika Lova sampai mendengar bahwa aku pergi untuk melakukan sesuatu yang berbahaya, ia bisa pingsan di tempat. Dan memang benar aku membawa tumbuhan untuk Obat dua kali lebih banyak dari biasanya, ini karena ada sesuatu yang ingin ku uji coba.
"Untuk tanaman yang aku bawa, aku meminta satu permintaan, bisakah kau mencampurkan tanaman yang telah aku asingkan ini menjadi sebuah obat untuk menurunkan panas, dan tanaman ini di racik untuk menghilangkan rasa sakit? Aku telah menuliskan komposisi yang di butuhkan dan cara membuatnya di kertas jurnalku." pintaku.
Zayn melihatku sejenak, mengernyitkan dahinya, ia menatapku dalam, ia mengangguk tanpa banyak bertanya. Hal ini sering terjadi ketika aku meminta ia membuatkan ku obat, satu sisi ia pasti bingung dari mana aku tau komposisi serta jenis tanaman yang di butuhkan, sisi lain ia tetap menjalankan pekerjaan itu dengan baik selama aku tak memintanya untuk membuat racun, dan aku selalu berkata padanya untuk jangan bertanya, lakukan saja sebisanya. Alhasil ramuan yang ku minta selalu jadi dan di luar expetasi.
Hari berlalu begitu cepat, hari ini tiba saatnya keluarga Houston pulang ke rumah.
Aku mendengar akan ada tamu yang datang, sehingga aku mulai tinggal di kastil, dan mengenakan baju yang layak ku gunakan. Aku mulai tinggal di lantai dua minggu lalu, dan saat mereka pulang, aku di wajibkan untuk menyambut kedatangan keluarga Houston.
"Selamat datang Marques, Marchioness, dan Cherry." Sambutku ketika mereka bertiga turun dari Kereta kuda.
Namun betapa terkejutnya aku melihat sesosok pria sebayaku yang mengekor di belakang mereka.
"Ya, Sierra, ini Claude, anak dari Duke Calton, ia akan tinggal di sini beberapa waktu ke depan, tolong terima dia dengan baik." kata marques Houston.
Deg,,,
Aku terkejut bukan main, pasalnya anak itu adalah pria yang memberi gelang pada saat pesta ulang tahun Ronald!
Bagaimana bisa aku tak mengenali tokoh yang ku dambakan di dalam novel? tapi jika di lihat lagi tak ada kemiripan antara Claude yang sekarang dengan ia yang di deskripsikan ketika dewasa.
'Ah, sepertinya aku tak akan dapat menghindari hidup di antara para pemeran yang ada di novel' gerutuku dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments