Hari itu hujan turun membasahi permukaan tanah gersang di musim semi. Awalnya rintik kecil memenuhi daun hijau yang berada di taman luar kastil, ia terus mengisi daun tersebut hingga air mulai luruh, menuruni daun demi daun, ranting, kemudian menyesap ke akar pepohonan. Rumput kecil yang tadinya kering, mulai basah, gulma yang ada di sekitar bangunan tua mulai menari.
Aku mengintip dari lubang pintu, angin dingin menyisip melewati lubang-lubang kecil di antara pintu kayu tua yang lapuk. Bahkan dinding tua yang terbuat dari kayu itu tak dapat menahan kuatnya hantaman angin yang membabi buta menerjang ruang sempit dengan aku sebagai seorang penghuni kecil tanpa seorang pun yang mempedulikan.
Malam itu aku kembali terbangun setelah merasa sesak untuk beberapa kali, badanku terasa panas. Ironi, jam pun tiada berdetak mengisi relung hampa malam setelah hujan melanda. Ini merupakan hari ke -5 setelah perjanjian ku dengan seorang informan bernama Ihar.
Entah mengapa di malam itu aku merasa gelisah,
'Mungkin aku butuh udara segar setelah hujan berhenti' gumamku sembari menapakan kaki jenjangku ke lantai kayu tua yang menemani hariku.
''Krak,,, krak,,, krak,,,' setiap pijakan kakiku mengeluarkan bunyi seirama dengan langkah kaki kecilku.
'Kriet,' Suara pintu tua kini terbuka lebar.
Hamparan ilalang dan gulma terlihat di setiap mata memandang. Aku mengingat sebuah danau buatan di belakang kastil yang selalu dipuji Cherry.
Langkah gontaiku menarikku ke arah danau buatan yang hanya bisa ku nikmati kala malam hari, tanpa ada siapapun yang melihat.
Pantulan cahaya rembulan tercetak cantik berada di danau buatan itu. Pepohonan rindang tumbuh menjulang di sekeliling danau, begitu juga dengan semak belukar yang tumbuh liar layaknya rumah baginya. Terkadang itu semua membuatku iri, mereka tak di beri akal namun mereka hidup berdampingan, saling mengisi, saling membantu. Tak seperti manusia yang menikam sesama manusia, yang menikmati penderitaan orang lain, dan tertawa melihat betapa bodohnya kehidupan orang lain. Aku menyelam dalam lamun tanpa tujuan.
Lamunanku terhenti ketika mendengar sesuatu di antara semak-semak. Suara yang semakin jelas, sesuatu ada di balik semak belukar di depanku.
Dengan sekali sergap ia menangkapku dan menindih tubuhku dengan badan besarnya. Napasnya berat, air liurnya keluar di antara rongga gigi taring tajam yang ia punya. Bola matanya mengisyaratkan untuk menyerah. Bulu hitamnya yang tebal, serta lolongan panjang itu membuatku tercengang beberapa saat.
'Akankah hari ini menjadi hari kematianku? Bagaimana dengan pengorbanan ku selama ini? Apakah akan sia-sia?'
Aku memejamkan mata karena tak tau apa yang akan terjadi sejurus kemudian, hingga endusan hewan buas itu semakin dekat, aku kini dapat mencium napas makhluk buas yang tinggal di hutan berantara, sejenak terbersit di pikiranku yang semakin kacau.
'Bagaimana bisa dia melewati penjagaan para prajurit yang tinggal di kediaman ini? Bukankah para Mage telah memasang perisai pelindung agar tak sembarang orang maupun binatang buas masuk ke wilayah kastil? Aku rasa tak seoranpun di dalam kastil memelihara serigala buas.'
Pikiran kacauku hilang ketika lidah kasar dari binatang buas itu menyapu pipiku. Layaknya seekor anak anjing ia mengibaskan ekornya. Serigala itu menggoyangkan kertas yang terpasang di kalung yang melingkar di lehernya.
Aku melucuti tali yang mengikat pada kertas itu, kemudian mengambil kertas, dan membaca seksama.
Isi kertas itu ialah pernyataan dari Ihar yang telah mendapat informasi tentang hal yang aku butuhkan, serta kabar tentang dirinya yang telah berhasil memperoleh Red Crystal yang ia cari. Ia menulis kapan waktu pengambilan uang yang dijanjikan, serta pertukaran informasi yang ku butuhkan.
Jujur aku masih bingung tentang serigala yang kini ada di hadapanku.
'Bagaimana bisa ia menembus dinding sihir dari Mage di kediaman Marques Houston?' pikirku.
Mage di kastil ini adalah Mage yang mempunyai keterampilan khusus, tak banyak yang dapat lolos dari dinding sihir miliknya, jika makhluk ini dapat masuk ke lingkungan kastil, artinya kekuatan yang dimiliki Ihar lebih tinggi dari Mage kami, namun sepengetahuanku, hanya segelintir orang yang melampaui kekuatannya. Dan jika ia lebih baik dari Mage kami, tentu ia orang yang sangat terkenal, dan tak mungkin meluangkan waktu untuk seorang wanita sepertiku.
'Misterius,' gumamku.
Aku kembali ke anex building (tempat yang ku tinggali, sekaligus tempat beristirahatku) setelah menyuruh serigala itu pergi. Anehnya ia menurut begitu saja setelah aku menyebut nama Ihar. Kali ini waktunya aku mengistirahatkan badanku yang letih.
Lusa adalah pertemuan kedua kami, aku sangat menantikan uang hasil dari pertukaran informasi itu, aku juga menantikan saat di mana Putri Mahkota datang ke kota, sehingga aku dapat melihat perkembangan pesat di toko Rainbow Cake. Terlebih aku memberi sugesti untuk memberi topping di beberapa menu dan menyarankan mereka untuk memasak kue donat layaknya makanan ringan di abad ke -21. Terobosan baru itu perlu di coba, aku harap mereka mempraktikan resep yang ku berikan dengan baik. Sejujurnya saja aku juga mendapat bonus dari misi rahasia menjadi investor toko kue tersebut. Entah mengapa misi demi misi kini mudah ku jalani, mungkin karena duo kakak beradik itu tak menggangguku beberapa waktu ini. Akhirnya aku dapat menikmati hari yang tenang.
Hari yang di tunggu telah tiba, aku bergegas pergi meninggalkan kastil dengan alasan klasik untuk membeli keperluan dapur. Jika bukan karena bantuan storage dari System, aku kewalahan membawa semua belanjaan yang menggunung, namun untungnya kusir selalu tertidur ketika ia menungguku membeli keperluan dapur. Aku rasa selama ini ia tak menaruh rasa curiga terhadapku, namun aku tetap harus waspada.
Pagi itu pertemuan singkat dengan Ihar adalah di sebuah tempat makan, alasannya ia ingin membelikan sarapan untukku. Karena ia telah mengetahui identitasku, maka aku rasa tak perlu lagi aku menggunakan ramuan perubahan seperti pertemuan pertamaku. Seorang informan guild pasti tau jika aku adalah anak dari hasil perselingkuhan Marques Houston.
Setelah memasuki sebuah restaurant, pelayan langsung menyapa, dan mengantar ke suatu meja reservasi paling ujung, seorang pria telah duduk menungguku. Pria dengan bulu mata yang lentik, bola matanya berwarna merah seperti ular berbisa, sorotan mata tajam, memiliki hidung mancung, dan jari tangan yang indah.
'Bagaimana bisa orang yang mempunyai gaya elegant itu bukanlah seorang bangsawan?' Sekali lagi pertanyaan itu berputar di benakku.
'Huhhh' aku mendengus kesal karena ketidakadilan yang ada di dunia ini.
'Semua pria tampan adah orang berbahaya yang harus aku hindari, namun semakin aku menghindar, mereka akan muncul, lalu menghantuiku satu persatu!' keluhku.
Ihar telah menyadari keberadaaku, ia berdiri, kemudian mempersilakan aku duduk, seperti seorang bangsawan, ia menyapaku dengan tangan kanan ia letakkan di dada kiri, membungkuk, kemudian mencium punggung tanganku.
"Senang dapat melihat anda kembali, nona Sierra de Houston,"
Aku tersipu malu untuk beberapa saat, selama hidupku aku tak pernah mendapat perlakuan manis seperti ini. Setelah berbincang cukup lama, kamipun mengakhiri perjumpaan itu, kemudian ia menawarkanku untuk menemani berkeliling, namun aku menolak dengan halus,karena tak mau mengambil resiko terburuk di masa depan.
Selepas pertemuan itu, aku pergi ke Rainbow Cake Shop, aku ingin melihat bagaimana kemajuan yang mereka dapatkan. Sebelum itu aku meminum ramuan perubahan ketika hendak bertandang ke tempat itu.
Mengejutkan melihat perbedaan yang cukup segnifikan setelah satu minggu tak pergi ke wilayah ini.
Beruntung dulunya mereka hanya menggunakan separuh dari bangunan yang ada, sehingga setelah mendapat modal, dengan antusias mereka memenuhi seluruh bangunan dengan interior baru, nuansa baru, serta mendekor pintu depan supaya terlihat lebih indah.
Untuk lantai satu dekorasinya seperti toko kue biasa, namun di belakang toko, terdapat taman yang sengaja pemilik gunakan sebagai ruang santai. Aku memanfaatkan ruang tersebut untuk tempat bersantai para bangsawan muda, mendekor dengan beberapa interior berwarna putih, memberi meja berwarna putih, kursi kayu senada, menghias meja dengan vas bunga yang cantik, serta memberi tempat berlindung di setiap meja yang tertata rapi. Aku menyarankan untuk membuat tempat bersantai para bangsawan, jadi kami membuat beberapa mini pavilion di taman itu.
Tempat seperti ini sangat di sukai oleh orang di abad ke 21, terutama kaula muda yang sedang melakukan pendekatan atau bahkan mereka yang ingin melakukan sesi foto atau lamaran. Dalam waktu singkat, penjualan naik berlipat, Putri Mahkota bahkan sangat menyukai tempat ini, dan ia menjadi tamu reguler setiap minggunya.
Sejujurnya aku ingin berkunjung dan melihat sendiri bagaimana Putri Mahkota mengagumi tempat itu, dan menyantap kue tersebut. Namun, mengingat ia adalah seorang Putri Mahkota, orang sepertiku tidaklah penting berada di sini. Cukup mendengar cerita dari pelayan toko sudah membuatku semangat.
Baron sedang tidak ada di toko, sehingga aku dapat pergi dengan cepat dan tenang. Setelah mengetahui ia adalah peran pria yang dekat dengan protagonist, aku ingin menghindar darinya sekuat tenaga. Ku harap tak ada lagi kisah buruk menimpa ku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments