Bab 4

   Setelah pergi dari informan guild aku membeli keperluan yang di butuhkan. Berjalan menyusuri lorong lain untuk sekedar melihat-lihat. Tak terduga sangka informasi yang ku berikan mendapat uang yang sangat banyak. Mata uang di negara ini masih menggunakan koin emas dan perak, satu koin emas seharga 100 koin perak. Harga yang lumayan fantastis untuk sepotong informasi. Di dalam novel, Ihar merupakan orang misterius yang jarang menampakkan diri. Setauku dia merupakan ketua dari informan guild. Beruntung aku menemuinya kali ini.

Tak lama kemudian, aku melihat sebuah plakat kayu toko kue yang sedang di jual. Toko kue yang bernama Rainbow Cake Shop, aku tertegun dan berdiri cukup lama di depan toko tersebut. Tetiba teringat bahwa toko Rainbow Cake Shop adalah toko akan booming setelah Putri Mahkota tak sengaja membeli sepotong kue dari toko tersebut. Di ambang kebangkrutan toko tersebut, mereka berhasil meraup keuntungan setelah kunjungan Putri Mahkota, ku rasa kejadian itu seminggu lagi.

Aku memasuki toko tersebut, salah seorang karyawan menyambut hangat.

"Selamat datang di Rainbow Cake Shop, Ada yang bisa saya bantu?," Tanyanya dengan senyum lebar.

Tempat itu terlihat rapi dari dalam, namun memprihatinkan di luar, kini aku mengerti kenapa toko ini tidak bertahan lama. Aku memilih beberapa menu, seperti cookies, cheese cake, dan unggulan Rainbow Cake yang di makan Sheryl/Putri Mahkota saat ia berkunjung.

Tempat ini tidak terlalu luas untuk ukuran toko kue dengan tempat duduk. Jika seorang bangsawan datang, mereka tak bisa duduk dan berbincang santai di tempat ini, sangat di sayangkan.

Aku mencoba menikmati kue yang ada di hadapanku.

 'Amazing,' Kue itu sangat lembut, dan cream yang melapisinya meleleh di mulut.

Aku sadar mengapa Putri Mahkota sangat menyukai tempat ini. Ia memprioritaskan rasa dan kualitas. Jika aku memberi uluran tangan terlebih dahulu, pasti akan menguntungkan.

Aku memanggil pelayan yang ada di meja kasir, kebiasaanku melambaikan tangan masih ku bawa di tempat ini. Beruntung sang pelayan mengetahui maksudku, ia datang menghampiri.

"Ya, ada yang bisa saya bantu, nona?" tanyanya keheranan.

"Bolehkah saya bertemu dengan pemilik toko ini?" tanyaku dengan senyum terbaikku.

Perempuan itu memandangku sesaat, mungkin ia bertanya-tanya, untuk apa orang sepertiku menemui pemilik toko. Lagi-lagi ia bertanya,

"Bolehkah saya tau apa keperluan anda?"

Aku meneguk teh yang di hidangkan percuma untuk tamu yang membeli Rainbow Cake di toko itu dengan elegant, menaruhnya kembali, kemudian menjawab pertanyaan pelayan itu dengan mantap.

"Katakan padanya seseorang dari kediaman Marques Houston datang untuk membicarakan sesuatu."

Ia sedikit terkejut, kemudian bergegas pergi, namun ia kembali mengingat bahwa ia belum mengatakan sesuatu terhadap ku. Ia mundur, kemudian berbalik ke arahku, membungkuk, sembari berkata,

"Mohon tunggu sebentar, nona."

 Sesaat aku melihat tengkuk dan telinganya memerah. Mungkin karena kulitnya yang putih, sehingga ekspresi yang ia tunjukan terlihat jelas.

 Secepat kilat ia meninggalkan ruangan tersebut, untuk sesaat terdengar kekacauan di ruang belakang.

Aku tersenyum melihat tingkah pelayan itu, ia sangat jeli, pandai, dan hati-hati dalam bertindak. Orang pandai mengerti ketika di hadapkan dengan suatu pilihan.

Tak butuh waktu lama, pemilik toko tersebut mempersilakanku untuk ke ruang tamu Vip. Di ruangan itu ada aku, seorang pelayan yang tadi melayani, serta pemilik toko yang ternyata cukup muda dan tampan.

Tentu saja umurnya terpaut jauh dariku yang sudah 27 tahun, jika mengingat umurku di kehidupan sebelumnya, kalau dilihat dari penampilan, mungkin dia berumur 18 tahun.

"Jadi, apa maksud anda kemari?" Selidik pemilik toko.

Seorang pria mengenakan kaos putih yang memiliki tali depan tak terikat, ia menampakkan dada bidangnya, badan yang cukup eksotis bagi seorang pemilik toko kue di pinggir kota. Badan yang ia miliki pasti sangat proporsional dan enak dipandang.

Ku tepis lamunan gila itu untuk sesaat, waktunya bekerja pikirku.

"Aku melihat plakat di depan, kau ingin menjual toko ini!" kataku melihatnya tajam.

Terbersit keraguan, kemudian dengan gugup ia menjawab,

"Betul, apakah anda ingin membeli toko ini?"

Sorotan matanya menunjukan rasa sedih, mungkin banyak kenangan di tempat ini. Sepertinya ia tak sampai hati untuk menjual toko.

"Tidak," Kataku

"Lalu?" Tanyanya mengernyitkan dahi.

"Pernahkah kau mendengar kata Investasi?"

"Maksud anda?"

'Ah bodohnya aku, di dunia ini tentunya mereka tidak mengetahui hal tersebut!'

"Jadi Investasi adalah ketika aku memberikan sejumlah uang untukmu, kemudian kau gunakan uang tersebut untuk biaya pengeluaran toko. Tentu saja aku akan mendapat persen dari hasil penjualan yang telah kau dapatkan. Setiap bulan anda wajib memberikan laporan keuangan bulanan kepadaku, kemudian membagi hasil keuntungan toko denganku. Apa kau mengerti?" Kataku menjelaskan sedetail mungkin, dengan kata yang mudah di pahami.

Mereka mengangguk pelan.

Sepertinya mereka memahami hal itu. Jika tidak aku harus menjelaskan lebih rinci lagi, dan itu sangat menyebalkan.

"Kalau begitu siapkan pena dan kertas. Kita akan membuat perjanjian," lanjutku.

Beberapa saat kemudian aku telah selesai menulis perjanjian yang kami sepakati bersama.

"Oke, perjanjian telah selesai, baca dengan seksama. jika ada yang ingin kau tanyakan, kau bisa bertanya padaku."

Ia membaca kertas perjanjian dengan seksama, kemudian matanya mulai berlinang.

"Hei, kenapa kau,,?" Kataku terhenti.

"Maaf, aku hanya terharu." Kata pria itu menyeka air mata yang membasahi pipi.

Tak ku sangka, aku dapat melihat hal seperti ini di kehidupan keduaku. Kalau dipikir, kapan terakhir kalinya aku melihat seseorang menangis di depanku seperti ini? Bukan menangis karena overtime, pekerjaan menumpuk melainkan karenaku yang meringankan beban di hatinya. Aku memang sering membantu juniorku dalam menyusun laporan dan berita, namun aku mendapat bayaran yang setimpal dari itu, terkadang mereka mentraktirku makan atau memberi uang imbalan. Namun kini aku bertindak sesuai keinginan, meskipun masih dengan imbalan yang berupa keuntungan untukku.

"Baiklah, jika kau telah membaca perjanjian itu, ini adalah uang yang aku janjikan sebagai investasi awalku."

Aku menyerahkan sekantong besar 150.000 keping koin emas.

Kami membubuhkan tanda tangan bergantian, aku membaca namanya dengan seksama.

'Baron Reza de Queso'

'Sial, aku bertemu dengan peran utama pria yang akan menjadi guardian Violet! bagaimana bisa aku bertemu dengan pria ini di toko kue? Dia adalah seorang ksatria! Untuk apa dia kemari?' aku perlahan mulai menyesali perbuatanku yang mendorong ku ke jurang curam.

Semua telah selesai, aku berpamitan mengingat masa perubahanku akan segera habis, lebih baik aku segera pergi, sebelum mereka melihat wujud asliku. Reza adalah seorang bangsawan, aku yakin cepat atau lambat ia akan mengetahui aku yang sebenarnya. Namun tidak ada salahnya untuk bermain peran saat ini.

Aku memberi salinan perjanjian itu kepada mereka, dan satu untuk ku simpan.

Sekembalinya pulang, banyak hal yang harus ku kerjakan, apalagi satu bulan kemudian adalah pesta ulang tahun Ronald yang telah menginjak umur 14 tahun. Di negara ini perempuan berumur 13 tahun wajib mengikuti kegiatan yang ada di kerajaan semacam debutan ball (pesta kedewasaan serta kemunculan di kalangan bangsawan), bahkan di umur belia bagi kehidupan ku sebelumnya, mereka para bangsawan sudah menerima surat lamaran bahkan di jodohkan dari usia dini. Sementara pria ketika sudah berumur 16 tahun, ia telah di nyatakan dewasa, dapat mengikuti pelatihan untuk menjadi kesatria ataupun ikut dalam misi menakhlukan monster. Mereka juga wajib mengikuti kegiatan yang ada di istana kerajaan setelah menginjak dewasa.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!