Bab 18

Mengingat Claude dengan tatapan kecewa padaku, jika saja tubuh ini tak mengalami PTSD, aku akan dengan mudah membalikan keadaan, tidak, aku sebenarnya dapat dengan mudah mengalahkan mereka, namun di saat mereka masuk ke kamarku, aku mendapat misi baru dari sistem.

'Misi spesial, meningkatkan rasa iba kepada Claude.'

Dalam misi ini aku terpaksa menerima semua perlakuan Cherry, namun bukan berarti aku menerima ketika ia mengambil barang pemberian orang lain, bonus yang di beri ini cukup banyak jika aku dapat menyelesaikannya dalam kurun satu minggu.

Tujuan utama goddess sistem ini adalah menyelesaikan sebuah teka teki aneh dari sistem. Teka teki itu adalah "Anak yang tak sepantasnya mati harus tetap hidup." namun hingga sekarang aku tak tau siapa anak yang ia maksud.

Banyak misi asburd yang ia berikan, aku terkadang tak mengetahui apa maksudnya, namun dari misi asburd itu aku mendapat point dan bonus chip yang banyak, sementara misi yang membuatku bersusah payah hanya mendapat point sedikit. Apakah sistem itu mempermainkanku? Namun untuk apa? Ah aku tak tau lagi.

Aku tak dapat memejamkan mata hingga pagi harinya. Luka di sekujur tubuhku terasa ngilu, beruntung mereka tak menyentuh bagian wajahku. Atau mereka sengaja tak menyentuhnya? Kini aku duduk di ranjangku, memijakkan kaki di lantai dingin berwarna putih dengan ukiran lambang keluarga Houston di tengah ruangan. Berjalan perlahan, kemudian membuka tirai jendela kamarku. Terlihat para prajurit sedang latihan mengayunkan pedang di pagi hari, di antaranya ada Claude yang sedang berlatih dengan serius. Aku tak percaya anak selembut dia dapat mengayunkan pedang, namun perbedaan dari orang itu sangat segnifikan, aku tak yakin ia anak yang pernah ku temui. Ia lebih dingin dari pertemuan kami sebelumnya, aku melihatnya yang berlatih dengan baik, desiran angin membuai rambutnya, peluh dari badannya luruh membasahi baju yang ia kenakan, dari apa yang aku lihat ia cukup piawai dalam mengayunkan pedang. Namun beberapa sisi dari gerakan tubuhnya masih memiliki celah, mungkin karena ia masih anak kecil, dan baru belajar, lagipula tak akan ada anak yang langsung menjadi master pedang di dunia ini, semua membutuhkan proses, dan butuh waktu yang cukup lama untuk mencapai titik tertinggi, namun di dalam novel setelah Claude mengikuti perang menakhlukan beberapa negara, ia menjadi master pedang dan di juluki iblis pembantai karena dia sendiri layaknya seribu prajurit. Walaupun ia masih cukup muda, dan baru berumur 20 tahun kala itu, ia telah menyandang Grand Duke termuda, dan memenangkan sejumlah peperangan, setelah itu setiap tahunnya ia akan memimpin expedisi memberantas monster yang ada di pesisir wilayah kekuasaannya. Di samping ia adalah pemimpin yang sangat dingin, dan tidak mempunyai hati, rakyat yang di wilayahnya sangat bahagia, dan makmur, mereka sangat menghormati Claude, walaupun tak sedikit yang takut karena tatapan sinisnya.

Claude menatapku, aku rasa dia sadar bahwa sedaritadi aku melihatnya berlatih, aku melambaikan tanganku, namun ia memalingkan pandangannya.

"Huh apa-apaan dia? Apa dia kesal karena gelang itu di ambil Cherry? Dasar kekanakan! Aku tak ingat apa yang ia katakan malam tadi, namun aku tau ia melihatku sebelum aku tidak sadarkan diri. Apakah ia dapat bertenang diri melihat temannya terluka? Hah, tak punya hati!" aku bersungut.

Setelah bergelut dengan ocehan Lova di pagi hari, aku berjalan keluar kamar, rasanya aku tak terbiasa duduk dan tak melakukan apapun, bahkan hari itu aku sarapan pagi di kamar. Kamar yang ku tinggali memanglah tak sebagus Cherry, namun itu beribu kali lebih besar dari anex yang ku tinggali, kamar yang ku tepati memiliki desain rustic. Lampu yang tak terlalu terang, pilar besar mengelilingi ranjang untuk penyangga kelambu, kamar empuk yang ku idamkan, bahkan lebih empuk dari kasur yang ku gunakan di kehidupan ku sebelumnya.

Aku bertemu Cherry dan Claude yang tengah duduk di pavilion, mereka terlihat sangat serasi, namun aku melihat wajah canggung di muka Claude. Cherry mulai jatuh cinta kepada Claude sejak pertemuan pertamanya, ia mulai terobsesi dengan segala tentangnya setelah Claude pergi ke medan perang.

'Aku melihat pergelangan Cherry yang mulai mengenakan gelang pemberian Claude. Kita lihat, apa yang bisa kita perbuat kali ini,' pikirku sembari tersenyum.

"Ahhhh Cherry, kau menemukan gelangku! Terimakasih!" Seruku mendekati Cherry kemudian memegang tangannya.

ia menepis tanganku kemudian berkata, "Apa maksudmu? Bukankah kau memberikan ini padaku?" Tanyanya tak mau kalah.

Claude yang tadinya memegang segelas teh, meletakkan teh nya, kemudian tersenyum,"Seingatku Sierra berkata ia kehilangan gelang itu semalam, apakah anda yang mengambilnya Cherry? Aku yakin Sierra bukanlah tipe orang yang memberikan barang pemberian kepada orang lain. Bukankah itu sifat yang buruk?" Sindirnya dengan senyum sinis.

"Ah, aku,,,,!" Cherry menunduk, mukanya memerah.

Aku yakin ia sangat malu untuk mengakui hal itu, namun karenanya ia terpaksa melepas gelang dan mengembalikan benda itu padaku, aku melihat raut wajahnya berubah amarah ketika menyerahkan gelang itu.

Setelah mendapatkan gelang itu aku mulai undur diri, kemudian pergi ke danau buatan. Siang itu begitu terik, aku berbaring di rerumputan di tepi danau, semilir angin kala itu sangat sejuk, daun mulai gugur satu persatu.

Tak lama ku mendengar suara jejak kaki datang, suara itu terhenti di balik pepohonan.

"Keluarlah!" kataku sembari duduk melihat arah di mana orang itu berhenti.

Orang itu keluar dari balik pohon, kemudian bersandar di pohon rindang tepat di sampingnya,

"Aku tau kau mempunyai kekuatan khusus, sebagai seorang mage harusnya kau dapat melawan mereka dengan mudah! Namun untuk apa kau berpura-pura? Aku yakin pada pertemuan pertama kita kau belum mempunyai kekuatan ini. Apakah benda di lehermu yang memberikan kekuatan? Aku dapat merasakan mana di dalamnya." tanyanya dengan penuh tanya.

"Untuk seorang anak kecil sepertimu, kau cukup jeli, aku tak perlu menyembunyikan hal ini padamu. Aku mempunyai alasan untuk tetap berdiam diri, sebaiknya kau tak mencampuri urusanku!" kataku sinis.

'Aku tak ingin mengeluarkan kata kasar dari mulut ini untuk Claude, anak kecil manis yang sangat menggemaskan, namun mulutku ini tak dapat ku hentikan, dasar bodoh.' gerutuku dalam hati.

"Justru aku senang mengetahui hal ini, karena aku telah mengetahui rahasiamu, apakah sekarang kau mau menerimaku menjadi teman baikmu?" Tanyanya yang kini menjulurkan tangan di hadapanku.

"Akan ku pikirkan itu!" kataku kemudian, aku meraih tangannya, namun memalingkan pandangan. kini aku tak ada bedanya dengan seorang anak berumur 11 tahun.

Selama Claude tinggal di sini kami bersama mempelajari beberapa hal, tentan etiquette, mage, dan alchemist. Guru Mage kami dengan mudah mengetahui kemampuan yang aku miliki, namun ia tak banyak bertanya mengapa aku menyembunyikan kemampuanku. Guru itu cukup professional di bidangnya, tiap kali aku melakukan kesalahan ia tetap tersenyum namun melempar sindiran padaku pasalnya ia tau aku sengaja melakukan kesalahan itu, berbeda dengan kelas alchemist yang memang aku mengenalnya, aku dapat dengan baik mengikuti kelas. terlihat Cherry yang tak suka dengan kedua kelas itu, ia mengabaikan guru, malah menatap dalam Claude, alhasil ia sering mendapat tugas tambahan, walaupun tetap saja bukan ia yang mengerjakan tugas itu. Entah mengapa melihat Cherry aku merasa cantik saja tak cukup untuk ada di dunia ini, selain aku cantik, aku harus mandiri, punya banyak kemampuan, dan yang paling penting ialah mempunyai banyak uang. Sehingga aku dapat hidup tenang tanpa memikirkan apapun.

Claude adalah seorang anak dengan banyak musuh, pasalnya dia merupakan anak angkat dari grand duke Gerrard de vonce yang akan mewarisi keturunan grand duke, tentu saja banyak keluarga dari Grand duke mengincar kursi tersebut, dan mengupayakan untuk membunuh Claude. Itulah alasan utama Grand duke menitipkan Claude ke kastil ini, terlebih dengan kondisi Claude yang tak memungkinkan karena kutukan turun temurun itu. Iapun terpaksa menjadi orang dewasa sebelum waktunya, menjadi orang yang unggul dalam segala bidang. Dalam kelas alchemist ia mempelajari hal dasar dengan mudah, ia membutuhkan pengetahuan untuk mengetahui jenis-jenis racun, pasalnya tak sedikit orang yang sengaja menaruh racun dalam makanan ataupun minumannya di setiap harinya. Namun karena ia telah mempunyai kekebalan akan racun dari dini, tentu hal itu sia-sia. Claude di paksa oleh ibunya Duchess Satine de vonce untuk meminum racun setiap harinya untuk membentuk kekebalan dalam diri, awalnya Claude merasa panas, pusing, mual, muntah darah, dan banyak hal lagi, seiring waktu berjalan, dosis racun itu di tambah hingga tingkat kekebalannya meningkat, namun itu mendorong kutukan yang ada di tubuh Claude sering tak terkendali, ia bisa dengan mudah membantai siapapun yang ada di depannya karena ia dalam posisi setengah sadar. Namun setelah mendapatkan perawatan dengan devine power(kekuatan dewa untuk penyembuhan dan banyak lagi) dari Violet, ia mulai berangsur membaik, awalnya Violet ketakutan melihat kondisi Claude yang di ambang batas, namun akhirnya dengan ketulusan dan hati suci Violet, Claude dapat di tenangkan, dan akhirnya sembuh setelah mendapat perawatan Violet.

Aku tak sabar melihat kedua tokoh itu bertemu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!