Kerugian yang di terima Houston kali ini hampir membuat kedoknya sebagai seorang pemberontak hampir terbuka.
Ketua dari pembunuh bayaran di bawa ke ruang interogasi. Namun sayangnya ia tak mau membuka mulut, bahkan setelah di siksa di ruang pengakuan, kuku tangannya di ambil paksa satu persatu ia tetap bersih keras menutup rapat mulutnya, ia akhirnya lebih memilih mengakhiri hidupnya dengan menggigit lidahnya setelah semua orang mulai lengah.
Setelah mendapat bonus point dari misi ini, aku menyerahkan calon Saintess itu Ihar(informan guild) untuk di bawa ke gereja. Akan sangat membahayakan jika mereka mengetahui akulah penyelamat Saintess. Aku tak ingin pengorbanan ku sia-sia. Aku masih membutuhkan beberapa hal, sampai akhirnya aku dapat pergi meninggalkan kastil.
Meskipun aku tak dapat membongkar kedok Marques Houston, aku merasa senang karena hal ini membuatku selangkah lebih maju dengan jalanku menghancurkan keluarga Houston.
Pada malam itu aku menginap di salah satu desa terdekat, aku menyewa sebuah kamar di sebuah penginapan. Setelah Ihar menyerahkan Violet ke gereja, ia kembali menemuiku di pagi hari untuk melapor.
Pagi di desa dekat bukit, desa ini terlihat asri, orang yang berlalu lalang sangat ramah, mereka menyapa satu sama lain dengan senyum. Teringat kembali nama desa yang pertama kali dilanda wabah, desa Aglios, ini adalah wilayah terluar dari kekuasaan Marques Houston. Jika aku menggunakan kereta kuda membutuhkan waktu 3 jam untuk sampai di tempat ini. Di negara ini masih banyak tempat yang susah di lalui kereta kuda, namun wilayah kekuasaan Marques Houston merupakan wilayah yang mudah di lalui.
Aku melihat Ihar yang sedaritadi melihatku dengan raut wajah keheranan.
"Jika ada sesuatu yang ingin kau katakan, lebih baik kau bergegas mengatakannya! jangan kau memandangku seperti itu! lama kelamaan akan ada lubang di muka cantikku!" kataku ketus.
"Hahahahaha,,,,,, Baru kali ini saya melihat wanita semenarik diri anda, nona manis!" katanya sembari tertawa terbahak.
"Jadi, bagaimana dengan Violet?" tanyaku.
"Saya telah mengantarnya ke gereja, saya rasa dia baik-baik saja." katanya tak terlalu peduli.
'Sepertinya ada yang salah, seharusnya Ihar yang melihat wanita cantik seperti Violet tercengang melihat kecantikan yang ia miliki. Apa karena semalam adalah malam hari? Kalau di pikir lagi, orang yang akan menyelamatkan Violet dalam novel juga Ihar, hanya saja mereka datang saat Violet telah di sekap selama seminggu, tentu saja aku tak ingin membiarkan hal itu terjadi. Emmm apakah aku merubah jalan cerita ketika aku membantu menyelamatkan Violet? Ahh, aku hanya mempercepat prosesnya, cepat atau lambat ia pasti akan jatuh hati pada Violet sesuai dengan novel yang ku baca.' pikirku
"Anda selalu termenung untuk beberapa saat, dan kemudian mengeluarkan ekspresi yang aneh," katanya lagi sembari tersenyum.
Kalau di teliti, perlakuan Ihar seperti seorang bangsawan, ia selalu berbicara dengan lembut dan sopan, namun aku selalu berbicara kasar padanya, ah aku tak peduli akan hal itu, hal terpenting adalah misi ini telah selesai dengan baik.
Setelah sarapan bersama, Ihar pamit untuk undur diri, ia berkata ada suatu hal mendesak yang harus ia lakukan, kemudian memberi sebuah kertas kecil padaku.
Isi kertas itu adalah "Anda akan menemukannya di bukit jika anda pergi ke sana sebelum makan siang."
Desa Aglios, tempat seindah ini akan sangat di sayangkan jika tempat ini di karantina, dan terjadi pertumpahan darah karena wabah. Aku masih memiliki satu misi penting untuk mencari Ben! Lebih baik aku segera pergi ke bukit, kemudian menjalankan misiku.
Aku berjalan pelan menyusuri ladang para petani, terlihat tanaman tumbuh subur memenuhi ladang, pohon banyak berbuah lebat,
'Sepertinya masih belum ada tanda gagal panen, sebenarnya keadaan ini sangat mengganggu, di mana aku melihat sekeliling, mereka orang yang sangat ceria dan bahu membahu, dalam perjalanan ini aku melihat seorang bapak tua tengah memperbaiki atap rumah, sementara seorang ibu dan anak di bawah, yang satu melihat bapak tua itu, dan mengatakan untuk berhati-hati sembari menjaga tangga kayu yang di gunakan untuk naik ke atap, sementara yang lainnya menyiapkan minum dan makanan untu mereka santap ketika telah selesai dengan pekerjaannya. Ada lagi pedagang yang kewalahan mendorong gerobak kayu untuknya membawa hasil tani ke pasar, beberapa orang yang lewat kemudian membantunya, dan bercengkerama sepanjang jalan dengan wajah semringah.
Sangat berebeda dengan kawasan tempat tinggalku, mereka saling acuh dan mementingkan ego masing-masing. Bahkan untuk saling menyapa hanya beberapa orang dalam kalangan tertentu yang mau untuk saling sapa.
Kini aku telah berada di lereng bukit, aku menunggu Ben sembari mencari tanaman obat, sebenarnya aku juga mencari tanaman obat di sini beberapa kali ketika aku menjadi Sierra, namun aku tak pernah bertemu Ben karena aku datang setelah makan siang. Andai aku datang lebih awal, aku pasti dapat bertemu dengan Ben.
Aku mempelajari ilmu kedokteran di waktu kuliah di kehidupan ku terdahulu, kalian pasti bingung bagaimana anak seperti ku mempunyai pendirian yang tak jelas. ketika kecil hingga sekolah menengah aku selalu memenangkan segala jenis olimpiade yang menggunakan otot, baik itu judo, panahan, boxing, karate, dan cabang olah raga lain. Namun ketika kuliah, aku menuruti kata bibiku karena dialah yang membiayai uang kuliahku. Namun ketika aku lulus, bibiku berkata untuk menggapai mimpi, apapun keinginanku, pekerjaan apapun itu akan membuat bibiku bahagia, untuk itulah aku menjadi seorang jurnalis, walaupun saat kuliah aku sering mendapat penghargaan, dan lulus dengan predikat cum laude, namun aku tetap tak ingin melihat orang meninggal di depan mataku, mungkin itu menjadi trauma yang tak dapat aku hilangkan hingga saat ini. Bahkan aku sedikit gentar ketika melihat pembunuh bayaran itu pingsan, padahal aku sendiri yang mengoles ramuan tertentu pada belati yang ku gunakan, namun aku tetap tak terbiasa melakukan hal itu.
Aku terbiasa membuka catatan jika melihat tanaman baru yang tak pernah ku temui, melihat apakah itu berguna untuk kesehatan, ataukah beracun. Jika tak dapat ku temukan dalam catatan, maka aku akan mengambil sample, kemudian ku asingkan dengan sebuah plastik kecil, tanaman itu nantinya akan ku tunjukkan ke alchemist yang ada di kastil, bertanya apa nama dan kegunaan tanaman itu. Untungnya alchemist yang berada di kastil sangat baik, ia selalu membantuku ketika dalam kesusahan, bahkan ia yang memberikan obat-obatan yang selalu di bawa Lova untukku. Memang tak semua orang yang ada di kastil itu buruk, aku pun mempunyai kenangan baik di sana, hanya saja aku terlalu banyak mendapat kekerasan dan memory buruk tentang Sierra menghantui ku.
"Siapa kau?" Teriak seseorang yang tengah berjalan menuju atas bukit.
"Oh aku Sierra, aku di utus tuan Marques untuk mengambil tanaman obat." jelasku.
"Ternyata kau adalah orang yang selalu di sebut seorang bidadari oleh para orang desa!" Serunya.
'Apa maksudmu?" tanyaku.
"Ah, apa aku tak sengaja mengucapkannya?" gumam pria itu.
"Emmm, tak apa!" katanya sembari menggaruk rambutnya yang tak gatal.
"Jadi siapa kau?" tanyaku.
"Perkenalkan, aku Ben." Katanya sembari mengulurkan tangan.
Aku menerima jabatan tangan pria itu, pria yang terlihat lebih muda dari umurnya. Pria berambut hijau, dengan kacamata tebal menambah kesan menawan untuk pria itu. Senyumnya lebarnya membuat wanita terpana, tentu saja bukan aku, pasalnya aku di kehidupan terdahulu lebih tua delapan tahun darinya.
Misi ku ialah untuk mendekatkan diri dengannya, kemudian menyembuhkan penyakit yang di derita adiknya, serta membantunya mempelajari wabah yang akan menyerang tempat ini.
Aku harap bantuanku akan berguna.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments