"Benar, dia Vino."
Frengki menelan ludahnya, mengambil napas yang kian stabil. Wajahnya masih memutih karena pucat, takut dengan Vino yang dapat membuatnya babak belur.
Pegawai wanita memiliki wajah yang mekar dengan keterkejutan yang dalam.
Vino, seorang pegawai pria yang kerap di-bully oleh mereka semua di tempat kerja ini.
Mengingat kembali perbuatan yang pernah mereka lakukan kepada Vino.
Menyingkirkan tentang bagaimana caranya Vino berubah dalam beberapa hari. Vino yang tampan sudah ada di depan mata, mereka tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.
Dua pegawai wanita yang cukup cantik dengan tubuh yang lumayan berisi ini berjalan bersama menuju gudang toko.
"Kalian berdua mau ke mana?" panggil Frengki yang melihat dua wanita cantik idaman pegawai pria IndoAgus ini berjalan pergi meninggalkannya.
Salah satu dari keduanya menjawab, "Pergi bertemu Vino yang tampan."
Mendengar jawaban mereka, Frengki yang takut kepada Vino menjadi kesal. Tangannya ada di atas kasir mengepal sembari memandang kedua wanita itu dengan ekspresi yang licik.
"Aku harus melawan."
Pada saat bersamaan, Vino berbicara dengan atasannya yang seorang pria tua kepala botak.
Keduanya tampak tenang, berdiri saling berhadapan dengan ucapan yang terbilang ramah.
"Aku masih tidak percaya kamu adalah Vino. Tidak perlu untuk membayar denda, anggap saja kamu dipecat, aku yang akan mengurusinya."
Mendengar ucapan atasannya, Vino sedikit membungkuk dengan rasa terima kasih.
"Terima kasih, Pak Nana. Sekali lagi, saya minta maaf yang sebesar-besarnya karena saya memutuskan untuk mengundurkan diri. Ini demi mencari tujuan hidup dan jati dirinya sendiri.
"Saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Pak Nana karena sudah bersedia membimbing saya selama ini dan memaklumi kekurangan saya selama bekerja. Saya tahu ini merupakan tindakan yang tidak bijaksana. Terima kasih banyak, Pak Nana."
Kalimat yang terlontar dari mulut Vino membuat Pak Nana makin ingin membantu Vino. Sebenarnya, hanya Pak Nana yang baik kepadanya, tetapi dia memang tidak tahu sifat buruk karyawannya. Mereka bermain terlalu pintar dan sembunyi-sembunyi.
Pak Nana menepuk bahu kiri Vino dan tersenyum. "Aku mengerti, Vino. Kamu boleh pergi sekarang. Aku harap kamu menemukan pekerjaan yang lebih baik."
Kepala Vino mengangguk mengerti, kemudian dia berpamitan kepada Pak Nana tanpa melihat dua wanita yang berdiri di belakangnya.
Saat Vino melewati mereka, kedua wanita ini tiba-tiba menyambar tangan Vino, seketika langkah kaki Vino berhenti dan menoleh menetap mereka.
"Vino, kami ingin meminta maaf." Salah satu wanita menatap Vino dengan mata yang bersalah.
"Tidak perlu, aku sudah memaafkan kalian." Vino melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan mereka berdua.
"Sungguh? Jadi, kami berdua bisa berteman dan melakukan hubungan yang lebih lanjut?" kata pegawai wanita yang lain dengan agresif.
"Tidak tahu. Maaf, aku sedang sibuk. Pak Nana, aku pergi dahulu."
Tangan Vino melambaikan tangannya ke Pak Nana yang diam tengah mencerna obrolan dia dan kedua wanita barusan.
"Hati-hati di jalan."
Pak Nana mengangguk dan membalas lambaian tangan pada Vino.
Kedua wanita ini tertegun menyaksikan Vino yang pergi menjauh dari ruang gudang.
Tepat ketika mereka berdua ingin mengejar Vino, suara Pak Nana membuat mereka menahan niatnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi antara kalian dengan Vino?"
"Anu, kita berteman baik, Pak, memang sebelumnya kami punya masalah. Sekarang kita sudah baikkan."
Menyipitkan matanya, Pak Nana merasa curiga dengan kedua pegawai wanita ini.
Terlihat dari gerak-gerik mereka yang tidak biasa, terasa keduanya sedang berbohong dan mengatakan hal yang tidak sesuai dengan kejadian yang sebenarnya.
"Kalian panggil pegawai yang lain dan suruh mereka berkumpul di sini." Wajah Pak Nana menjadi tidak enak dipandang, wajahnya menghitam.
"Ba–baik, Pak!"
Pada saat ini, Vino sudah berjalan menjauh dari tempat kerjanya.
Sebelum keluar dari toko, sosok Frengki tidak terlihat di kasir, mungkin dia ke ruangan lain. Vino tidak peduli dengan Frengki, tetapi dia sempat melihat teman-teman pegawainya.
Mereka tidak berani menatap matanya secara langsung, mereka juga tidak mengenal dirinya siapa.
Sebelum kembali ke rumah, Vino pergi ke mesin ATM untuk mengirimkan uang kepada orang tuanya di kampung.
Uang yang diberikan Vino sebesar 1,5 juta rupiah, tersisa 150 ribu untuk berjaga-jaga.
Dia tinggal menunggu uang gaji yang kemarin dikirim ke rekeningnya oleh perusahaan karena Pak Nana akan mengurusi keluarnya dia dari pekerjaan.
Mungkin karena dia dilihat cukup baik dengan Pak Nana sehingga kesan baik tersebut terbentuk dari lama.
Gajinya 3,5 juta bekerja di bagian gudang. Cukup besar dan juga melelahkan, di sana diperlakukan seperti pembantu oleh pegawai yang malas.
Maka dari itu, di kesempatannya mendapatkan Sistem, Vino lebih memilih keluar dari pekerjaan.
Di sebuah apartemen yang mewah, wanita cantik sedang terbaring di sofa dengan pakaian yang minim.
Mengerucutkan bibirnya, wanita itu menatap langit ruangan dengan wajah yang kesal.
Penampilan wanita ini begitu cantik, rambut hitam berkilau terurai lembut ke bawah dari tangan sofa. Wajah oval yang manis terpampang dengan bando menahan rambut depannya, kulitnya sangat mulus bahkan nyamuk pun kesulitan untuk mendarat.
Bibir ceri berwarna pink terlihat sangat menggemaskan, seolah bisa menarik seluruh perhatian pria untuk memandang bibirnya.
Paha dan betis mulus tanpa ada bekas luka goresan itu bergoyang di atas tangan sofa, seakan bisa menghipnotis mata pria yang melihatnya hingga melamun tak sadar.
"Bosan!" Wanita cantik itu bergumam kesal, wajahnya berubah di detik berikutnya. "Aku ingin jalan-jalan keluar, tetapi dengan siapa? Sendiri sangat membosankan."
Kim Lanly, seorang putri dari Keluarga Konglomerat di Korsel, dia juga adalah seorang yang terkenal di Korsel karena identitas lainnya.
Tepat ketika dia ingin menghubungi temannya melalui ponsel, sebuah aplikasi muncul secara mendadak dan memenuhi layar.
"???"
Tanda tanya muncul di dahi Kim Lanly. Tanpa berbicara apa-apa, dia menjadi sangat penasaran dan melihat ada apa dengan aplikasi yang muncul di ponselnya ini.
Setelah 3 menit melihat dan membaca yang ada di tampilan awal serta peraturan aplikasi, Kim Lanly menampilkan senyuman, aplikasi ini datang di saat yang tepat.
"Pria yang bisa disewa ... cukup menarik." Kim Lanly mengangguk sambil menyentuh dagunya. "Aku ingin tahu, apakah aplikasi ini bisa menemukan pria yang aku inginkan."
Setelah Kim Lanly mengatakan itu, daftar tipe dan keinginan pria yang dipesan banyak yang ditekan olehnya.
"Aku ingin pria yang tampan, putih, bermain musik, dan ... tinggi juga," kata Kim Lanly sambil menekan pilihan yang ia inginkan.
Lebih dari 2 menit memilih, Kim Lanly menakan tombol setuju, dan mengonfirmasi pesanannya.
"Sembilan ratus ribu won terbilang sangat murah jika memang benar ada pria yang memenuhi keinginanku."
Kim Lanly bersandar di sofa untuk menunggu kedatangan pria yang ia pesan. "Sepuluh menit? Aku bisa membuat mie instan sambil menunggunya datang ke sini."
Bangun dari sofa, Kim Lanly pergi ke dapur untuk membuat makanan.
Di sisi lain, Vino yang melihat pesanan Sistem kali ini tertegun karena kemauan pelanggan satu ini sangat banyak.
[Permintaan: Tinggi 186 cm, Wajah Tampan Dasar, Kulit Putih Bersih, Tubuh Wangi, Temperamen Menarik, Mata Menawan, Keterampilan Bahasa Korea Selatan Master, Bernyanyi Master, Menari Salsa Profesional, Bermain Piano Master, Seni Bela Diri Taekwondo Profesional ....]
[Waktu Sewa: 1 hari]
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Ivanderty
bjir amat malah makasi dianggap dipecat, kalo di rl rusak resume mu soalnya ada jejak dipecat daripada mengundurkan diri
2024-05-05
2
Ven
butuh visual fix entah cewe atau cowonnya
2023-11-21
1
Kang Kuli
ngelag gw tdi kirain korut
2023-10-25
3