Fitur wajah seorang pria tampan yang diukir dengan baik disodorkan tepat di depan matanya, wanita ini merasakan kejutan yang luar biasa indah.
Melihat wajah pria di depannya sudah cukup untuk membuatnya tetap setia selama umur masih berlaku dalam hidupnya.
Wanita yang Vino tabrak terus menatap wajah baru Vino dengan tatapan nympho, kulit pipinya memerah dengan asap putih samar-samar melayang.
Seluruh perhatiannya tertuju pada wajah Vino yang tampan sehingga lambaian tangan dan suara Vino diabaikan.
Sorot mata wanita ini membuat Vino secara bertahap menjadi malu.
Pasalnya, wanita ini punya paras yang cukup cantik dan menarik. Terlebih lagi tahi lalat yang melekat di sudut matanya dekat pelipis membuat wanita ini terlihat cantik natural.
Bingung cara menyadarkannya, Vino menyentuh bahunya dan menggoyangkan sedikit.
"Halo? Kamu tidak apa-apa? Apakah ada yang sakit?" tanya Vino melihat wanita di depannya tersadar.
Saat ini, wanita yang ditabrak Vino menjadi panik dan malu di dalam hatinya, di permukaan dia memaksakan diri untuk menatap wajah Vino dan menjawab, "Ak–aku baik-baik saja, tidak ada yang terluka."
"Biar aku bantu."
Tanpa berlama lagi, Vino mengulurkan tangannya sambil berjongkok, kemudian wanita itu sedikit ragu-ragu memegang tangan Vino, dan keduanya bangun bersamaan.
Tangan Vino yang lain menuntun wanita itu bangun dari lantai tanpa menyentuh yang lain, cuma tangan saja.
Wanita tersebut makin terkejut lagi karena tubuh Vino sangat tinggi, untuk melihat dirinya saja perlu menunduk.
"Maaf, aku tidak sengaja, tadi aku baru keluar dari kamar dan menabrak kamu karena tidak melihat ke luar dahulu. Maaf," kata Vino sedikit membungkuk. "Kalau kamu terluka, kamu bilang saja, aku akan bertanggung jawab."
Sikap Vino yang jentelmen dan bertanggung jawab, ditambah dengan kesopanan, hati wanita itu terasa sedang dipanah oleh perasaan jatuh cinta.
"Tidak perlu. Aku hanya terbentur lantai, tidak ada yang terluka," balas wanita itu dengan gelengan kepala.
Mata Vino bergerak ke tubuh wanita di depannya dan tidak menemukan apa-apa, apa yang dikatakannya benar.
Namun, saat pupil mata menyorot ke bagian tubuh tertentu wanita tersebut, rona merah makin terang di wajah wanita itu. Sama sekali tidak berani bergerak karena terlalu malu, membiarkan Vino melirik tubuhnya.
Vino mengangguk sambil tersenyum, kemudian dia menggaruk-garuk kepalanya dan berkata, "Aku ingin ke kamar mandi dahulu. Maaf sekali lagi."
"Um, iya. Silakan saja."
Setelah wanita itu memberikan izin dan jalan, sosok Vino berjalan terburu-buru lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Lala, kamu kenapa teriak tadi?" Wanita berpakaian daster datang menepuk bahu wanita yang ditabrak Vino.
"Tidak apa-apa, aku tak sengaja menyenggol seseorang dan menabrak tembok. Anu, mengapa kamu lama sekali keluarnya? Dan ... untuk apa kamu memakai daster?"
"Sutt, aku ingin berbicara denganmu di luar."
Mereka berdua keluar dari rumah kosan untuk berbicara.
Beberapa menit berselang usai Vino masuk ke dalam kamar mandi, sosok Vino sudah kembali lagi ke kamar dengan pakaian yang masih sama.
Ia tidak berniat untuk mengganti baju dan celananya lagi, masih baru karena tidak lama dipakai tadi siang.
Di dalam kamar, Vino melihat sosoknya yang terlihat lebih baik dan bersih. Kulitnya tidak lagi terlihat kotor, tetapi tetap cokelat gelap.
Ting!
Ponselnya yang masih jelek dan usang bermerek Sungsang J2 Pro Max Prime Turbo berbunyi.
Vino melihat sebuah pesan masuk dari rekeningnya yang bertambah 950 ribu rupiah. Notifikasi sudah ada dari belasan menit yang lalu, tepat dirinya tiba di rumah.
Saldo rekening ada 1,6 juta rupiah, besok Vino berencana untuk mengambilnya.
Omong-omong, Vino belum resign dari pekerjaannya. Kebetulan bulan ini adalah bulan 12 dirinya bekerja di supermarket, bulan 12 adalah bulan terakhir Vino bekerja, sesuai dengan kontrak kerja yang ditandatangani.
"Gaji bulan kemarin belum dikirim lantaran belum tanggal sepuluh bulan ini. Kalau resign aku harus membayar denda. Ya, mumpung belum dikirim, aku harus resign besok. Jadi, denda bisa dibayar oleh uang gaji yang belum dikirim," pikir Vino sambil rebahan di atas kasur.
Denda atau penalti ketika pekerja kontrak menandatangani perjanjian kontrak kerja, tergantung perusahaan masing-masing. Di tempat kerja Vino harus membayar denda dengan uang sebesar 1 gaji bulan dikalikan sisa bulan sesuai yang ditandatangani di kontrak.
Jika masih ada sisa 3 bulan, Vino harus membayar uang setara dengan gajinya selama 3 bulan bekerja di perusahaan tersebut.
Kontrak, memang tidak manusiawi. Budak korporat hanya menjadi babi penghasil cuan.
Dengan rencana disimpan di dalam hatinya, ia harus mempersiapkan diri untuk bertemu dengan atasan.
Masuk dengan baik-baik, keluar juga dengan cara yang baik. Meskipun di tempat kerja ia sering dihina dan dijelekkan.
Sebelum tidur malam, Vino ingin berinteraksi dengan Sistem, rasa ingin tahu masih bersemayam di dalam hatinya.
"Mengapa para pelanggan tidak memberiku pesan atau menghubungiku, Sistem?"
[Sistem tidak mencantumkan nomor telepon tuan rumah karena ini privasi. Jadi, para pelanggan tidak bisa mengetahui informasi tentang Anda. Namun, Anda bisa berkomunikasi dengan para pelanggan yang pernah memesan melalui aplikasi Sistem.]
[Aplikasi Rental Boyfriend versi karyawan sudah dipasang di dalam ponsel tuan rumah.]
Mengambil ponselnya, menyalakan layar hitam ponsel, Vino langsung menemukan satu aplikasi baru.
Ia menekan logo aplikasi, antarmuka yang terlihat biasa saja ditampilkan.
Tampilan biasa ini menyematkan beberapa kolom yang memiliki fungsi masing-masing. Ada fitur pesan, profil pribadi, riwayat pesanan, dan pendapatan.
Di sana terdapat beberapa pesan masuk yang berasal dari Callie dan Alaine.
Alis Vino terangkat naik, senyuman terbentuk di bibirnya. Vino membalas pesan mereka selama belasan menit, dan Vino tertidur.
Keesokan harinya, Vino berangkat dengan mengenakan pakaian rapi, terdiri dari kemeja putih, celana hitam bahan panjang, dan sebuah pita kupu-kupu.
Penampilan Vino yang sekarang tampak tampan dan manis, lebih tepatnya pria yang hitam, tetapi tampak begitu manis senyumannya.
Vino sengaja berangkat di pagi hari saat jam berangkat kerja orang-orang. Pasalnya, atasan Vino sudah nongkrong di toko di pagi hari.
Saat keluar dari kamar, Vino mengobrol dengan salah satu teman kosan selama beberapa menit saja, membahas tentang wanita kemarin yang tak sengaja ditabrak oleh Vino.
Ternyata wanita itu bernama Lala, teman dari pacarnya di pria yang mengobrol dengannya ini.
Lala memberikan sebuah nomor kepadanya melalui pria ini.
Di perjalanan menuju tempat kerja, tangan Vino memegang secarik kertas berisi nomor dengan bimbang. Vino menimbang-nimbang ingin menyimpan nomor ini atau tidak.
Setelah dipikir lama, keputusannya adalah menyimpan nomor ini, rasa tanggung jawab atas kejadian kemarin masih terasa.
Pasalnya, wanita itu jatuh cukup keras hingga menimbulkan suara menyakitkan.
Sehabis disimpan, Vino belum ingin mencoba mengirim pesan karena tempat kerjanya sudah hampir dekat.
"Pria yang manis! Mengapa wajahnya begitu tampan?! Melihat dia terlalu lama, membuatku diabetes!"
"Pagi hari yang indah bisa melihat wajah tampan dari seorang pria yang gagah. Semoga saja besok pagi aku bisa melihat wajahnya lagi."
"Aku belum pernah melihat pria ini sebelumnya, tetapi mengapa aku merasa akrab, seolah pernah melihatnya di suatu tempat?"
"Jodohku, ini jodohku!!"
"..."
Para pegawai supermarket IndoAgus dan beberapa pelanggan mengomentari Vino yang perlahan masuk ke dalam toko.
Telinga Vino dengan jelas mendengar ucapan mereka, responsnya hanya diam.
Di depan kasir, mata Vino menatap Frengki yang ternyata bekerja di giliran pagi.
"Di mana Pak Nana?"
Suara Vino langsung mengubah wajah Frengki menjadi biru. Di dalam otak Frengki, kejadian dirinya dilempar ke tembok oleh Vino diputar ulang, dan membuat dirinya ketakutan.
"Ka–kamu, Vino?!" tanya Frengki hati-hati.
Vino tersenyum sinis dan menjawab, "Aku ayahmu. Cepat beri tahu aku di mana Pak Nana? Aku sedang terburu-buru."
"It–itu, di dalam gu–gudang." Frengki menunjuk ke suatu arah dengan tangan yang gemetar.
"Oke, terima kasih."
Setelah mendengar jawaban Frengki, Vino pergi ke ruang gudang.
Di belakangnya, para pegawai wanita yang masuk di pagi hari menjadi terkejut, kemudian menatap Frengki penuh rasa ingin tahu.
"Pria tampan itu adalah Vino?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
SweetiePancake
Merk Sam-Sung Jin-Woo J2 Prime
2024-02-01
0
Heppyagung Wicaksono
wakakakakaak hp aku bgt tuch
2023-11-08
2
Putra_Andalas
ganti dong Merk Sung Seng Sue Promax 😂
2023-11-04
1