Vino tersenyum sambil mengangguk, dan dia berdiri di depan Callie dengan tatapan yang cerah.
Buk!
Tubuh Callie melekat di tubuh Vino, memeluk Vino dengan perasaan yang lega.
Ternyata mereka tidak berpisah begitu cepat setelah insiden yang terjadi pada mereka berdua.
Sebelumnya, Vino tidak memberi tahu apa yang akan ia lakukan, sebuah foto dalam apartemennya dimintai oleh Vino untuk sesuatu, sama sekali Callie tidak mengerti dengan tujuan Vino.
Tidak mengira Vino akan muncul di dalam apartemennya dengan cara misterius.
"Bagaimana kamu bisa ke dalam apartemen, Sayang?" tanya Callie yang duduk di sofa dalam apartemen bersama Vino.
Vino meletakkan barang belanjaannya di lantai dekat sofa, dan menjawab dengan senyum simpul, "Sebuah rahasia. Aku tidak bisa memberi tahu kamu tentang ini."
Muach!
Sebuah ciuman mendarat di pipi Vino, Callie memandangnya dengan tatapan menggoda. "Bagaimana dengan itu? Kamu bisa memberi tahu aku apa caranya."
"Tidak, aku masih belum bisa memberi tahu kamu tentang itu," kata Vino dengan sikap yang tegas dan menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana dengan yang satu ini."
Tubuh Callie memanjat Vino dan kemudian duduk di atas pangkuan Vino dengan pose yang seduktif. Ruangan tiba-tiba menjadi panas.
Sayangnya, sikap Vino tidak berubah, dia menggelengkan kepalanya lalu mengangkat tubuh Callie ke sofa lagi.
"Ini terlalu rahasia, Sayang. Aku tidak bisa memberi tahu hal itu."
"Humph!" Callie mendengus kesal melihat Vino yang sangat kukuh dengan pendiriannya.
Bersandar di sofa, Callie bersikap marah sambil memalingkan wajahnya tanpa mau melihat Vino di sebelahnya.
Vino menghela napasnya, wanita ini ternyata memiliki sifat yang keras kepala juga, tetapi dia memang tidak bisa memberi tahu tentang ini, Vino masih belum bisa tebih tepatnya.
"Mungkin suatu saat nanti, aku akan memberi tahu tentang itu kepadamu, asalkan kamu tidak marah padaku."
"Aku tidak marah, aku hanya sedang kesal."
Ucapan Callie tidak sinkron dengan sikapnya yang sekarang. Lihat saja, dia masih duduk di sofa menghadap arah lain.
Mengingat dengan tugasnya sebagai pacar sewaan, pikiran Vino berputar untuk mencari cara supaya Callie tidak kesal kepadanya.
Sebuah lampu menyala di atas kepala Vino, dan dia memiliki ide untuk ini.
Dengan begitu, Vino mencoba mendekati diri ke Callie secara perlahan, kemudian memeluknya dari belakang.
"Maaf, aku memang tidak bisa memberi tahu alasannya kepadamu. Namun, aku butuh pengertianmu saat ini. Aku berjanji akan memberi tahumu nanti," kata Vino dengan nada suara yang dalam dan intonasi yang terdengar lembut.
Dengan kelembutan dan kontak fisik yang memberikan kehangatan luar biasa, Callie yang kesal menjadi luluh, dan dia membalikkan tubuhnya untuk memeluk Vino.
Dalam sekejap, Callie mengubah sifatnya yang keras menjadi manja. "Sayang, aku ingin berpelukan seperti ini sampai waktu sewa berakhir."
"Memangnya berapa lagi waktu yang tersisa?" Vino menoleh mencari jam yang ditempel di dinding.
"Aku memesan kamu di jam delapan pagi, di jam enam sore seharusnya pacar sewaan sudah selesai. Sekarang sudah jam empat sore."
Callie menunjukkan ponselnya yang menampilkan waktu terkini.
"Masih ada dua jam lagi, kamu yakin ingin terus memelukku seperti ini dalam waktu dua jam ke depan?" Vino bertanya untuk memastikan lagi keinginan Callie.
Waktu 2 jam bukan waktu yang sebentar, terlebih kegiatan mereka hanya diam dan menunggu waktu, makin terasa lamanya.
Menatap kedua mata Vino yang menawan dan terlihat lembut, Callie mengangguk pelan dan menjawab, "Aku yakin. Aku sangat merindukan pelukan hangat."
Setelah kata-kata Callie jatuh, dia memeluk Vino dengan erat hingga Vino bisa merasakan benda kenyal serta lembut yang menempel di dadanya.
"Supaya kamu tahu, aku sudah lama tidak bertemu keluargaku. Mereka sangat sibuk berkerja, saudara dan saudariku jarang bertemu satu sama lain. Pelukan seperti ini sudah lama aku tidak rasakan lagi. Sekarang umurku tiga puluh empat tahun dan belum menikah, aku rindu dengan suasana keluarga," beber Callie yang menceritakan sedikit tentang hidupnya.
Namun, Vino yang merasa sedih pada awalnya menjadi tersentak, dan tubuhnya mematung beberapa saat.
"Kamu sudah berumur tiga puluh empat tahun?" tanya Vino sambil memandang tubuh Callie dengan tatapan yang tidak percaya.
Callie mengangguk di pelukan Vino, menjawab dengan jujur, "Benar. Kamu pasti tidak menyangka aku sudah cukup berumur."
Apa yang dikatakan Callie benar.
Sejak awal pertemuan, Vino menganggap Callie sepantaran dengannya karena wajahnya masih terlihat muda dan segar.
Namun, tubuhnya memang lebih berkembang dari tubuh wanita muda yang lainnya.
Mengetahui fakta ini, sebuah pikiran terngiang-ngiang di kepala Vino.
'Tunggu, aku sedang berpacaran dengan seorang Milf? Aku sedang disewa oleh seorang tante-tante hot?!'
Kalimat itu yang melayang di kepala Vino, dia masih belum menerima dirinya berhubungan dengan seorang wanita yang umurnya terpaut jauh.
Vino baru berumur 20 tahun, tepat di satu bulan yang lalu dirinya ulang tahun.
Ada selisih 14 tahun di antara umur keduanya, terbilang cukup jauh.
Saat ini, Vino bingung harus berbuat apa. Jadi, dia hanya diam dan terus memeluk wanita yang sudah ia ketahui umurnya, memeluk wanita yang sangat dewasa.
Waktu 2 jam terasa cepat bagi mereka berdua, dan jam 6 sore tiba begitu saja.
[Ding! Waktu sewa sudah habis!]
[Anda diperbolehkan untuk pulang dan berpisah.]
Ting!
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Callie, pemberitahuan dari Aplikasi Rent Boyfriend bahwa waktu sewa telah habis.
Pemberitahuan yang berisikan ucapan terima kasih juga ditampilkan, bersamaan dengan sebuah kolom ulasan terhadap performa dan pelayanan Vino.
"Kamu ingin aku beri bintang lima?" Alis Callie menatap Vino yang berdiri di depannya dengan mata yang seduktif.
Vino mengangguk cepat. "Tentu saja."
"Kamu harus memberikan jejakmu pada tubuhku, aku akan memberi kamu ulasan bintang lima."
"Jejak?" tanya Vino yang tidak paham dengan maksud Callie.
"Cium dan gigit sedikit leherku. Ayo cepat lakukan, Sayang!" jawab Callie yang gemas dengan kepolosan Vino.
Demi bintang 5 yang akan diberikan oleh Callie, Vino memberi tanda atau jejak di leher Callie dengan cepat.
Terlihat ada tanda berwarna merah di leher Callie, bekas dari ciuman dan sedikit gigitan yang menimbulkan bekas merah.
"Oke, aku sudah memberikan bintang lima padamu."
Vino mengangguk dan tersenyum pada Callie. "Aku pergi sekarang. Senang menjadi pacarmu untuk hari ini. Selamat tinggal!"
Setelah mengatakan itu, Vino keluar melalui pintu dalam pandangan mata Callie.
Sosok Vino menghilang dan dia benar-benar pergi dari apartemennya.
Rasa kehilangan dan rasa bahagia bercampur aduk di hati Callie. Pengalaman menyewa seorang pacar bisa sehebat ini baginya.
"Tunggu, bagaimana caranya dia pergi?!"
Callie baru sadar dengan Vino yang muncul tiba-tiba di dalam apartemennya yang terkunci sebelumnya.
Bagaimana caranya dia pergi tanpa masuk dari luar?
Begitu Callie memeriksa ke dalam apartemen, sosok Vino sudah menghilang tanpa ada jejak yang ditinggalkan.
Dengan rasa penasaran, Callie turun menggunakan lift dan keluar dari gedung apartemen. Dia masih tidak bisa menemukan Vino.
"Pria tampan yang misterius," gumam Callie sambil memandang jalan di depannya.
[Misi Sewa Berhasil Diselesaikan! Silakan memilih satu hadiah permanen!]
[Terdeteksi Anda mendapatkan ulasan bintang lima! Sistem memberi tuan rumah untuk memilih satu hadiah lagi!]
[Hadiah yang tersedia: Wajah Tampan Dasar, Tubuh Kalistenik, Tinggi 182 cm, Temperamen Lembut, Keterampilan Bahasa Inggris Master, Keterampilan Komunikasi Profesional, Kulit Putih Mulus.]
[Silakan pilih 2 hadiah dari hadiah yang tersedia!]
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
bubur ayam
aku juga mau😋😋
2024-06-07
1
Hades Riyadi
Lanjuuuuutt Thor 😛😀💪👍🙏
2023-11-10
1
Hades Riyadi
Waktu pesanan berakhir, Vino mendapatkan bintang 5 dan ada 2 hadiah menanti untuk dipilih...🤔🙄😩😛💪👍👍
2023-11-10
1