Selama lebih dari 7 jam mereka di rumah sakit untuk memeriksa kesehatan tubuh Kriss, semuanya diperbolehkan untuk pulang karena Kriss baik-baik saja dan aman untuk dipulangkan.
Di rumah sakit, Kriss berterima kasih kepada Vino yang telah menyelamatkannya dari maut. Dengan tubuhnya yang masih terkejut dan terasa lemah, ucapan terima kasih dan maaf terlontar dari mulut Kriss.
Meminta maaf atas sikapnya yang kurang baik di awal pertemuan kepada Vino. Permintaan maafnya diterima Vino, bahkan sebelum Kriss meminta maaf.
Sebuah fakta diberikan kepada mereka semua bahwa Vino yang menyelamatkan Kriss dari krisis tenggelam.
Jikalau saja Kriss tidak ditemukan lebih dari 15 menit lamanya, dikhawatirkan itu akan membuat Kriss tidak bisa ditolong.
Iva dan wanita yang lain mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Vino, Alaine pun berterima kasih juga kepada pacar sewaannya yang berani dan juga tegas.
Meskipun tahu bahwa mereka berdua buka pacar sungguhan, rasa sayang, kagum, dan kekhawatiran benar-benar datang dari hati Alaine.
Kembali ke hotel, mereka semua duduk di dalam kamar para pria yang disatukan. Ketiga pria tinggal di 1 kamar yang sama.
Tidak jauh berbeda dengan para wanita, di mana mereka tinggal di satu kamar untuk 2 orang.
Di kamar hotel, mereka semua menemani Kriss yang sedikit lemah di atas kasur.
Iva merupakan pacar yang baik lantaran dia selalu ada di samping Kriss dan melakukan apa pun diminta Kriss yang kondisinya masih sedikit lemas.
Sementara itu, Alaine, Tuva, dan Deena duduk di sofa kamar menemani Iva yang merawat Kriss.
Di belakang mereka ada Maddon dan Diell yang duduk di kursi lain dengan wajah yang lega memandang Kris di tempat tidur.
Mereka berdua masih belum bisa akrab dengan Vino, keduanya masih canggung dan kurang menyukai Vino sebagai pacar Alaine.
Bisa dilihat dari sikap mereka yang selalu menghindari Vino.
"Sayang, aku ingin berbicara padamu." Vino yang ada di dekat sofa para wanita menghampiri Alaine dan mengulurkan tangannya.
Alaine mengangguk, tangannya mengambil ukuran tangan Vino di depannya.
Di dalam pandangan teman-teman Alaine, keduanya pergi keluar dari kamar.
"Sudah banyak waktu yang dihabiskan, kamu tidak apa-apa berkencan seperti ini?" tanya Vino kepada Alaine di lift hotel.
Pertanyaan Vino ditanggapi dengan senyuman oleh Alaine dan menjawab, "Tidak masalah, terpenting kamu tetap berada di dekatku hari ini. Aku merasa senang karena kamu sudah membantu Kriss dan yang lainnya."
"Namun, bukankah ini menjadi tidak adil bagimu, aku merasa tidak memberikan sebuah pengalaman layaknya sebagai pacar kamu." Vino menatap kedua mata Alaine yang terfokus pada matanya.
Tangan Alaine terbuka, dia memeluk tubuh Vino dengan erat. "Dengan pelukan saja kamu sudah memberiku pengalaman luar biasa ketika memiliki pacar."
Pelanggan kedua kali ini memiliki hati yang lembut, Vino menghela napas, kemudian membalas pelukan Alaine. "Masih ada empat jam kurang sebelum masa waktu sewa pacar ini habis. Maukah kamu menghabiskan waktu bersamaku layaknya seorang pacar sungguhan?"
"Pacar sungguhan?" Alaine melepaskan pelukan Vino, menatapnya dengan ekspresi yang malu dan ingin tahu.
"Maksudku, kita tetap pacar sewaan, tetapi untuk sisa waktu pacar sewaan ini anggap saja kita berdua pacar sungguhan," jelas Vino dengan senyuman di bibirnya.
Kepala Alaine mengangguk. "Baiklah, aku mengabari mereka dahulu sebelum itu."
"Oke."
Tangan Alaine mengambil ponsel, mengirim pesan ke ketiga wanitanya tentang dirinya yang ingin kencan dadakan dengan Vino, pacarnya sendiri. Pesan itu dibalas kesetujuan oleh mereka semua.
Ding!
Lift berbunyi menandakan mereka berdua sudah sampai di lantai dasar.
Langit di luar sudah berbeda dengan di pagi hari sebelumnya, ini sudah agak meredup walau memang bercahaya terang.
Mereka berdua keluar dari hotel untuk pergi berjalan menuju sebuah restoran.
Rencananya mereka ingin menghabiskan waktu untuk mengobrol satu sama lain dan melakukan obrolan yang dalam.
"Sudah berapa lama kamu bekerja sebagai pria yang disewa?"
Alaine penasaran dengan pekerjaan Vino yang cukup tidak biasa dan umum.
Mengambil sendok dan mengutak-atik makanan sebelum diambil, Vino menatap Alaine dan berkata, "Kemarin aku baru memulai pekerjaan ini."
"Karyawan baru?" Pandangan Alaine berpindah ke wajah tampan Vino di depannya.
"Benar, aku baru menjalankan pekerjaan ini."
Meski baru memulai, Vino merasa pekerjaan ini sangat panjang. Banyak sekali pengalaman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Mengapa kamu memilih pekerjaan aneh ini?"
Mengaduk minumannya dengan tenang, senyuman halus muncul di wajahnya. "Aku hanya ingin memiliki banyak pengalaman."
"Pengalaman?"
Tanda tanya muncul di wajah Alaine dengan pipi yang merona.
Melihat ekspresi yang muncul di Alaine, sesuatu yang aneh disadari oleh Vino.
"Bukan pengalaman aneh, tetapi pengalaman hidup," terang Vino dengan wajah yang lurus.
Kepala Alaine tertunduk dan menyesap sedotan di gelas minumannya. "Um, aku tahu."
Alis Vino tersentak dan dia memandang Alaine dengan aneh.
Rona merah secara bertahap muncul di pipi putih mulus Alaine.
Setelah menghabiskan 2 jam di restoran, mereka saling bergandengan tangan untuk kembali ke hotel, kali ini mereka melihat pemandangan pantai dari halaman hotel.
Duduk di kursi pantai dekat kolam renang luar ruangan, Alaine bertanya kepada Vino yang duduk kursi pantai sebelah kanannya, "Aku ingin tahu, apakah kamu bisa breakdance?"
"Bisa. Aku tidak akan datang jika aku tidak bisa karena kamu memesan pacar dengan persyaratan bisa menari breakdance," jawab Vino dengan tersenyum kecil.
"Benar. Kamu bisa breakdance? Tidak bohong, kan?"
Alaine belum percaya dengan pernyataan Vino. Pasalnya, tidak semua pria bisa melakukan breakdance.
"Sungguh, aku tidak bohong, kalau aku bohong, petir boleh menyambar orang yang berdiri di sana." Vino berdiri tegak di depan Alaine, siap untuk melakukan aksinya, dan dia menunjuk ke pria yang sedang ancang-ancang masuk ke kolam.
"Pft! Oke-oke, aku percaya," kata Alaine sambil menutup mulutnya.
Pria yang ditunjuk Vino melirik keduanya dengan wajah yang bingung.
"Baiklah, aku akan mulai breakdance."
Vino meminta Alaine menyalakan musik Hip-hop Asedekonci yang ada di ponsel Alaine.
Berikutnya, tubuh Vino bergerak sesuai ketukan nada musik yang diputar sembari melakukan toprock dasar.
Wajah Alaine manjadi cerah melihat gerakan awal Vino ini, dia melakukan toprock dengan baik.
"Lihatlah ...."
Vino mengubah gerakannya dan melakukan six step, dilanjutkan dengan back drop dan beberapa jenis drop yang sulit dilakukan.
Pupil mata Alaine melebar melihat tarian Vino yang keren.
Di bawah tatapan Alaine, Vino melakukan gerakan yang kuat, yaitu Headspin, menjadikan kepalanya sebagai tumpuan untuk memutarkan tubuhnya secara terbalik.
Aksi Vino disaksikan oleh para penghuni kamar hotel yang sedang ke halaman hotel untuk melihat sunset.
Banyak sekali gerakan Vino yang sulit dalam dunia breakdance dilakukan dengan mudah olehnya.
Windmills, Jackhammer, Deadman Float, Elbow Hops, Daisuke Criticals, One-Handed Air Flare, semua gerakan sulit dan berbahaya itu sukses dilakukan oleh Vino, membuat semua orang yang melihatnya terkagum-kagum.
Belum puas dengan penampilannya, Vino melakukan gerakan kuat yang terakhir, yaitu One-Handed Chair Flare.
Memfokuskan kekuatan di bagian bahu kanannya, sentakan yang kuat muncul dari dorongan tangan kanan Vino membuat seluruh tubuhnya yang ada di atas terbang dengan manuver putaran keren, kemudian mendarat menggunakan tangannya dan melakukan hal yang sama dengan pengulangan sebanyak 5 kali.
Penampilan Vino diakhir dengan Freeze Handstand. Mengangkat tubuhnya dengan tangan kanannya, menyentuh tangan kiri dengan kaki kirinya selama beberapa detik.
"Hebat!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Lonayma
apakah dia menari dengan menunjukkan kemaluannya?🗿🗿
2023-08-08
7
risky
aku selalu disini tor semangat
2023-08-06
6