Memandang dua pria yang marah di depannya, Vino menjadi takut di dalam hatinya.
Sebuah bayangan samar-samar muncul di antara keduanya, sosok mereka ditutupi oleh gambar seseorang yang sering kali memalak dan menghardik dirinya, yaitu perman di daerahnya.
Rasa takut menjadi-jadi, tetapi di luar penampilannya, Vino tampak berdiri tegap sambil menatap mereka berdua.
Di jalan trotoar khusus pejalan kaki, di dekat mall, semua orang yang lewat dan sempat melihat kedua pria ini mengganggu Vino, mereka berdiri sejenak untuk melihat peristiwa yang menarik ini.
Ada beberapa orang yang pergi, lebih memilih untuk menghindari peristiwa yang akan terjadi beberapa saat lagi. Mereka tidak mau melihat hal yang mengerikan.
Fenomena ini kerap terjadi di publik, tentu ini menjadi tontonan para pria yang sedang butuh hiburan karena penat dengan pekerjaan.
"Apa maksud dari pandanganmu itu? Kamu tidak suka dibilang pecundang olehku?!" Pria berkulit gelap ini tidak suka dengan tatapan mata Vino, dan dia memarahi dengan wajah yang gusar, "Kamu ingin bertarung denganku?! Apakah kamu berani melawan kami berdua, Pria Simpanan Wanita?!"
Tidak tahu mengapa, Vino yang takut ini mulai merasa kesal dengan ucapan pihak lawan.
Namun, Callie segera maju di depan Vino dan berkata, "Berhenti menghina pacarku! Lebih baik kalian pergi dan jangan ganggu kami berdua!"
"Ck, benar-benar pecundang, bahkan wanitanya yang lebih berani, sedangkan kamu hanya bisa meringkuk ketakutan di belakang wanita." Pria berkulit cerah ini melirik Vino dengan sorot mata penuh penghinaan.
Deg!
Amarah Vino meletus mendengar ucapan pria kulit putih tersebut, dia ingin sekali menghajar kedua orang ini, tetapi rasa takutnya masih menahannya. Vino takut akan terjadi sesuatu yang lebih besar setelah melawan mereka berdua.
Akan tetapi, di dalam penglihatan Vino sekarang.
Pria berkulit gelap melangkah maju ke depan dan berdiri tepat di hadapan Callie, tangannya menyentuh dagu Callie dan pria ini berkata, "Daripada kamu dengan pria pecundang itu, lebih baik kamu bermain dengan kita berdua. Aku yakin barang milik dia juga lemah, tidak berbeda."
Tubuh Callie bergetar, dia sangat marah dengan perilaku pria berkulit gelap ini.
Dengan cepat, dia menampar tangan pria itu dan menendang bagian yang ada di antara kedua kakinya.
Sayang sekali, tendangan Callie gagal karena kakinya langsung ditangkap oleh pria berkulit gelap.
Seringai muncul di wajah pria gelap tersebut dan dia berkata pelan, "Apakah kamu memang tidak bisa sabar? Nanti malam aku berjanji akan mengalahkanmu di ranjang."
"Hentikan, Nig***!"
Dalam sekejap seluruh menatap Vino yang berdiri dengan wajah yang penuh kemarahan.
Semua orang yang lewat terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulut Vino.
Orang yang lewat tidak menahan untuk menggelengkan kepalanya dan cemberut.
"Kurasa pria tampan ini tidak akan lama lagi dipenuhi luka."
"Orang berkulit gelap sangat kuat karena gen mereka yang terkenal dengan kekuatannya. Tidak ada harapan."
"Aku merasa kasihan dengan pria tampan ini, tetapi aku tidak bisa ikut campur untuk menolongnya."
"..."
Kedua pria ini terkejut dengan Vino yang ternyata memiliki keberanian untuk mengatakan kata-kata N terlarang itu.
Pria berkulit putih maju ke depan berniat untuk menghampiri Vino.
"Kurasa kamu harus dihaja—"
Bang!
Sebuah pukulan menghantam wajah pria berkulit putih tersebut dengan sangat kuat. Tubuh pria tersebut jatuh terjungkal ke belakang dengan beberapa gulingan.
Dalam sekejap mata, semuanya terdiam tak bersuara, dunia seakan menjadi sunyi karena waktu berhenti.
"Ini ...." Vino menatap tinjunya dengan mata yang tak percaya.
Awalnya dia hanya mencoba untuk memukul pria ini sesuai dengan gerakan yang pernah ia lihat di sebuah film.
Tidak disangka gerakan itu sangat mudah ia lakukan dan bahkan pukulannya terasa begitu kuat.
"Kamu ...." Pria berkulit gelap tersebut tercengang dengan serangan tiba-tiba Vino, tangannya melepas kaki Callie tanpa sadar.
Melihat ke belakang, pria itu bisa menemukan temannya yang terbaring lemah di jalan dengan hidung yang mengeluarkan banyak sekali darah.
Mengetahui ini, pria berkulit gelap tersebut menjadi marah karena tidak terima teman-temannya dibuat menjadi seperti itu.
Berikutnya, pria berkulit gelap tersebut berlari menuju Vino sambil menerbangkan pukulan tangannya yang cukup berotot.
Dengan wajahnya yang sudah sangat marah, pria itu meninju Vino seraya berkata, "Makan ini, Pecundang!"
Bang!
Suara hantaman kulit dengan kulit terdengar di sekitar mereka.
Semua orang yang menyaksikan ini tidak berani membuka mata untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya.
Akan tetapi, sebuah suara santai terdengar di telinga mereka yang membuat mereka semua menjadi sangat penasaran.
"Apa yang kamu katakan tadi?"
"Sakit! Lepaskan tanganku! Kumohon, lepaskan!!"
Pada saat ini, semua orang yang menonton keributan Vino dan kedua pria yang berbuat onar terkejut dengan rahang mulut yang terbuka lebar.
Di depan mereka semua, terlihat Vino yang sedang menggenggam kepalan tangan pria gelap dengan gerakan yang dipelintir.
Kelihatan jelas wajah pria gelap itu menekuk karena kesakitan.
Bukan hanya satu tangan yang Vino pelintir dan tangkap, melainkan ada kedua tangan pria gelap tersebut.
Wajah pria gelap itu sudah sangat berubah, dia tidak menyangka Vino memiliki kekuatan sebesar itu dengan tubuh yang terlihat ramping dan kurus. Pria gelap itu sudah mengerahkan seluruh tenaganya sampai wajahnya membiru, tetapi itu sama sekali tidak bisa melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Vino, seperti sedang dicengkeram oleh yang baja.
'Sial, mengapa Pecundang ini punya banyak sekali kekuatan?! Aku benar-benar tidak bisa melawan!' gumam pria gelap di dalam hatinya.
Sebelum sempat pria gelap itu bereaksi, kedua lututnya ditendang oleh Vino dari samping dan dia jatuh bertekuk lutut di hadapan Vino.
Suara dentuman yang keras terdengar, sepertinya ada yang patah dengan kedua kakinya.
"Argh!!!"
Pria gelap itu menjerit hampir menangis merasakan rasa nyeri yang hebat.
Tidak berhenti di situ, Vino segera melakukan gerakan yang ia ingat di dalam film favoritnya.
Lutut kanan Vino terbang cepat, dan itu menghantam seluruh wajah pria gelap tersebut dengan keras.
Brak!
Vino melepaskan kedua kepalan tangan pria gelap tersebut, kemudian tubuh pria gelap itu perlahan miring ke belakang dan jatuh beberapa detik kemudian.
Pria gelap tersebut belum sempat menyesal karena telah memprovokasi Vino, kesadarannya menghilang lebih dahulu.
"Cuhh!" Air ludah mendarat pada bagian tubuh bawah pria gelap tersebut, keluar dari mulut Vino. "Kukira mereka sedang membadut, ternyata sedang menunjukkan betapa pecundangnya mereka."
Untuk sementara waktu, dunia menjadi sangat sepi, tidak ada siapa pun yang berbicara setelah ucapan Vino keluar.
Vino yang merasakan kesunyian ini segera melihat ke semua orang yang mengerumuninya. Tatapan mereka semua orang memandang Vino penuh keheranan dan kejutan yang besar.
Semua orang berdiri dengan tercengang diam, tidak bergerak untuk melanjutkan kesibukannya.
Merasa bahwa dirinya sudah melakukan hal yang tak mungkin dilakukan dan terbilang kelewatan.
Vino mengambil tubuh Callie yang juga tertegun dengan meliriknya penuh ketidakpercayaan, kemudian berlari melewati hingga menerobos kerumunan orang yang banyak.
Beberapa menit kemudian, Vino akhirnya berhenti di sebuah gan kecil yang kosong di Manhattan sambil menurunkan Callie yang menatapnya penuh kekaguman.
"Kamu sangat jantan!"
"Sutt!" Vino menutup mulut Callie yang berseru nyaring.
"Ada apa, Sayang?" tanya Callie yang bingung.
Alih-alih menjawab, Vino menunjuk ke arah luar gang, dan suara sirine mobil terdengar. "Tampaknya, aku sedang dicari oleh polisi setempat."
"Lalu, apa yang kita lakukan?" tanya Callie yang cukup panik. Dia tahu bahwa perbuatan Vino sudah berlebihan hingga membuat orang terluka.
"Aku tahu, kamu dengar kata-kata dengan baik."
Di saat berikutnya, sosok wanita cantik keluar dari gang dengan barang satu tas barang belanjaan, wajahnya setengah ditutupi oleh masker hitam dan dia berjalan seolah itu pejalan kaki yang biasa.
Wanita itu adalah Callie yang diminta untuk pulang dan keluar dari gang terlebih dahulu tanpa harus menunggunya.
Callie terus berjalan dan naik taksi hingga sampai ke apartemen yang dibelinya.
Saat sampai di dalam apartemen, Callie melihat sosok pria yang ia kenal dan dicintainya.
"Kamu kenapa bisa ada di sini?!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Izhar Assakar
perlu di koreksi nih,,yg di pukul satu orang,sementra personil dua orang,,trus keterangan,"teman teman"dlm jumlah banyak,,,piye toh
2023-12-30
0
Hades Riyadi
Lanjuuuuutt Thor 😛😀💪👍🙏
2023-11-10
1
Hades Riyadi
Ceritanya semakin menarik dan seruuu...😛😀💪👍👍👍
2023-11-10
1