Memandang Callie di sampingnya, Vino tersenyum kikuk dan berkata, "Aku lebih senang bekerja seperti ini yang punya kebebasan. Menjadi pacar sewaan juga dapat memberiku kesenangan."
"Senang?" Callie tersenyum penuh makna. "Jangan bilang kamu sudah pernah melakukan itu dengan penyewa sebelumnya?"
Dengan cepat Vino menggelengkan kepalanya sambil melambaikan tangannya. "Tidak-tidak, aku belum pernah melakukan itu. Kamu adalah wanita pertama yang memesanku sebagai pacar sewaan."
"Kamu tidak berbohong, kan?" Callie berhenti berjalan, memandang Vino dengan tatapan serius.
"Aku tidak berbohong, itu memang sungguhan."
Melihat wajah tampan Vino yang memiliki ekspresi yang serius tanpa ada tanda-tanda berbohong, Callie mencium pipi Vino karena tidak tahan dengan kelembutan dan aura dari tubuhnya.
Vino adalah pria yang benar-benar dia idam-idamkan dari bentuk fisik dan kepribadiannya yang memang terlihat lembut.
Setelah dicium, Vino tertegun sejenak dan tanpa sadar dia mengecup kening Callie.
"Anu, maaf, aku tidak sengaja," kata Vino dengan wajah yang salah.
Ekspresi wajah Callie membeku saat merasakan dahinya dicium oleh Vino, sesuatu perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan memenuhi ruang hatinya, dan itu terasa menakjubkan.
Wajah merah Callie terlihat dengan jelas di mata Vino, berdiri di depan Vino dengan tatapan yang tidak percaya.
"Aku benar-benar tidak sadar dan sengaja, Callie. Maafkan aku."
Alih-alih marah, Callie tiba-tiba bertanya ke Vino, "Apakah pacar sewa boleh melakukan cium satu sama lain? Apakah ada denda dan pembayaran ekstra untuk perbuatan itu?"
"Maksudnya?" tanya Vino yang tidak mengerti maksud dari Callie.
"Maksudku, apakah aku harus membayar lebih untuk bisa dicium olehmu? Juga, apakah aku harus membayar denda setelah mencium kamu mendadak?" Callie memperjelas pertanyaannya.
Vino menyentuh dagunya, dan dia bertanya tentang hal ini kepada Sistem dalam hati.
Sistem menjawab bahwa tidak ada denda atau bayaran ekstra untuk itu. Namun, di Jepang, sewa pacar tak boleh melakukan itu ke pelanggan atau pacar sewaan, dua-duanya tidak boleh mencium, kecuali berpelukan saja.
Harus ada uang bayaran tambahan jika memang pelanggan ingin mencium pacar sewaannya.
"Kurasa tidak mengapa," jawab Vino setelah berkonsultasi dengan Sistem secara langsung.
Kulit wajah Callie menjadi cerah, ia memandang Vino dengan senyum manisnya.
Kembali melingkari tangan Vino, keduanya yang berhenti di trotoar dan sempat dilihat oleh orang-orang yang lewat, kembali berjalan menuju Midtown Manhattan.
Berjalan di jalan kota Manhattan membuat Vino yang belum pernah ke luar negeri sama sekali, terlebih ke Kota Manhattan ini, merasa dirinya ada di dalam sebuah film Loliwood.
Suasana dan lingkungan di sini terasa seperti di dalam film pahlawan super yang pernah dan bisa dikatakan sering ia tonton.
Gedung-gedung tinggi dan besar, toko-toko di sisi jalan, mobil-mobil yang melintasi jalan raya, semuanya tampak sangat mirip dengan ada yang di film.
Sedari awal, mata Vino melirik ke gedung-gedung yang mereka lewati di jalan trotoar ini.
"Sayang, kamu ingin Cheesecake?" tanya Callie yang tiba-tiba menawarkan makanan pada Vino.
"Cheesecake? Kamu mau?" Vino balik bertanya.
"Iya, aku sedang ingin makan cheesecake. Bagaimana kalau kita restoran dahulu sebelum berbelanja?"
"Baiklah, aku ikut apa yang kamu mau." Vino setuju dengan ajakan Callie untuk masuk ke dalam restoran.
Dengan persetujuan Vino, keduanya berjalan menuju restoran tempat berjualan kue.
Namun, di dalam hatinya, sebuah rasa bimbang dan gelisah timbul sehingga Vino merasa tidak nyaman.
Restoran dan Mall, dua tempat ini yang akan mereka kunjungi. Kedua tempat yang sudah pasti akan mengeluarkan uang, sedangkan Vino sendiri tak punya uang sama sekali.
Dia hanya membawa 1 lembar uang kertas dengan nominal 20 ribu rupiah. Uang sebesar itu tidak cukup untuk membeli satu potong cheesecake yang mereka pesan.
Harga cheesecake saja bisa sampai 6 dolar AS dan itu jauh lebih besar angkanya dari uang yang Vino bawa.
Mengetahui bahwa Vino terlihat berbeda sejak masuk ke dalam toko kue, Callie menggenggam tangan Vino dan bertanya, "Kamu sedang memikirkan apa? Kamu baik-baik saja, kan?"
"Tidak apa-apa, aku barusan sedang memikirkan harga kue ini," jawab Vino dengan satu butir keringat mengalir di pelipisnya.
Callie yang cekatan segera mengambil selembar tisu dan mengelap keringat yang ada di sekitar dahi Vino. "Jangan gugup begitu. Kamu memikirkan harga kue? Apa itu terlalu murah untukmu? Mau aku belikan yang lebih mahal?"
"Tidak-tidak, ini sudah cukup." Kedua tangan Vino bergoyang bersamaan, dengan gelengan kepala yang Vino lakukan. Dia menolak tawaran Callie.
Hati Vino merasa lega dengan ini, ternyata cheesecake ini akan dibayar oleh Callie.
Orang-orang yang ada di toko kue sempat melirik Vino, sebuah ekspresi aneh terbentuk di wajah mereka dan itu terlihat tidak benar.
Namun, sikap Vino biasa saja di permukaan meski di dalam hatinya dia benar-benar grogi dan takut.
'Sistem, bisakah kamu memberiku uang? Aku tidak nyaman dilirik oleh orang lain dengan tatapan sini,' tanya Vino yang sedikit takut.
Prinsip yang sudah terbentuk di dalam diri Vino adalah pria harus yang membayar makanan dan apa pun wanitanya.
[Ding! Tuan rumah harus tahu tentang kebijakan dan peraturan sewa pacar. Pesanan yang Pelanggan Callie buat tidak termasuk dengan komoditas jalan-jalan, artinya dia yang harus membayar semua kencan ini.]
'Apakah tidak apa-apa seperti itu?' Vino yang masih tidak percaya segera memastikan apa yang dikatakan Sistem.
[Ding! Ini sudah menjadi ketentuan, pelanggan juga sudah mengetahui peraturan aplikasi.]
Vino mengerti dan paham dengan ini, ia harus mencoba dan membuatnya bisa beradaptasi.
"Vino, kamu kenapa diam? Kamu sakit?"
Ketika tersadar dan kembali ke dunia nyata, Vino melihat Callie yang cantik sedang memandangnya penuh kecemasan, bahkan dia sampai pindah untuk bisa duduk di sebelahnya.
Vino menggelengkan kepalanya dan tersenyum mendengar ucapan kepedulian Callie padanya. "Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Aku tiba-tiba teringat sesuatu."
"Sesuatu apa?" tanya Callie yang ingin tahu.
"Tentang dirimu," jawab Vino dengan spontan.
Namun, hal yang tidak terduga terjadi, Callie mencium bibirnya selama beberapa detik penuh cinta.
Tubuh Vino sekejap mematung bagai patung di museum.
Ekspresi wajah Vino yang terkejut tampak begitu lucu di mata Callie, dan dia segera memeluk Vino seraya berkata, "Jika kamu seperti itu, aku bisa-bisa jatuh padamu untuk perasaan yang nyata."
"Itu ... Callie ...." Tubuh Vino makin kaku, dia ingin melepas pelukan Callie, tetapi tubuhnya terlalu terkejut sehingga sulit digerakkan.
Vino benar-benar belum terbiasa dengan dirinya menjadi seorang pacar dari seorang wanita. Masih belum mengerti dan beradaptasi lebih lanjut menjadi seorang pacar yang baik.
Setelah itu, mereka berdua pergi dari restoran dan berangkat menuju mall mewah yang ada di Manhattan, Kota New York.
Berbagai toko mewah Callie ajak Vino ke dalam untuk membelikannya beberapa baju yang cocok dengan tubuhnya.
Para pelayan toko ikut terpesona melihat ketampanan Vino yang sangat tampan dalam mengenakan banyak pakaian yang berbeda.
Dengan begitu, 3 pasang pakaian baju dan celana dibelikan oleh Callie dari tiga toko.
Mengetahui ini, semua pegawai toko melihat Vino dengan kecewa, ternyata Vino hanya seorang pria yang makan dengan cara mengandalkan wajahnya.
"Apa kamu senang sekarang?" tanya Callie yang menunggu jawaban, matanya yang cantik mengedip Maja pada Vino.
Vino tersenyum kikuk dan mengangguk seraya berkata, "Aku sangat senang. Terima kasih sudah membelikan aku barang-barang ini."
"Sama-sama. Gunakan selalu baju dariku, aku tahu pendapatanmu tidak begitu besar menjadi karyawan dari aplikasi tersebut. Aku berusaha membantumu."
Mendengar jawaban Vino, hati Callie menjadi bahagia, tidak sia-sia membelikannya beberapa baju mahal.
"Cih, pria pecundang. Tidak malu dibelikan sesuatu oleh wanitanya. Wajah putih gemulai, orang yang paling menjijikkan untuk dilihat."
Suara seseorang muncul tiba-tiba di antara telinga Vino dan Callie.
Ketika mereka melihat ke belakang, dua orang pria berkulit hitam dan putih sedang memandang Vino dengan wajah yang menghina.
"Apa yang kamu lihat, Pecundang?!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Hades Riyadi
Lanjutkan Thor 😛😀 💪 👍🙏
2023-11-10
2
Hades Riyadi
Kesan pertama yang cukup merepotkan buat Vino, lom pernah pacaran dengan wanita, beli apapun dibayarin yang merupakan fenomena aneh bagi pria, yang mustinya berbuat sebaliknya...butuh adaptasi dan waktu....😛😀💪👍👍👍
2023-11-10
2
biji bernapas
kok loli
2023-10-25
3