"Ha–halo, Vino. Perkenalkan, aku Iva Lonthe, teman Alaine dari kuliah," kata teman Alaine yang mendatangi Vino dan Alaine yang sedang berpelukan. "Itu tidak apa-apa, kami tidak terburu-buru juga."
Alaine melirik temannya satu ini dan merasakan krisis, terasa seperti Iva ingin mengambil pacarnya, pacar sewaannya.
Kepala Vino sekali lagi mengangguk dan menatap wajah Iva sembari tersenyum kecil.
Sebelum mulut Vino terbuka dan berbicara, kedua teman Alaine menghampirinya dengan sorot mata yang menohok ke arah wajahnya.
Di belakang mereka bertiga, pacar-pacar mereka memandang Vino dengan wajah yang tidak ramah. Mata mereka tajam.
Bagaimana tidak, mereka merasakan krisis bahwa wanitanya lebih tertarik kepada Vino ketimbang mereka bertiga.
Bisa dilihat dari tatapan mata ketiga wanita ini, membuat mereka teringat dengan mata wanitanya saat jatuh cinta pada mereka.
Kedua teman Alaine yang lain bernama Tuva dan Deena. Wanita berkulit eksotis seperti Vino bernama Tuva, dan Deena adalah wanita yang punya ukuran dada yang tak terlalu besar.
Alaine punya aset terbesar daripada ketiga lainnya. Iva kedua terbesar, memiliki ciri ini berambut pirang.
Penampilan Alaine yang mencolok adalah mata biru dan rambut diikat berwarna cokelat.
Setelah berkenalan dengan ketiga teman Alaine.
Vino berdiri di depan Alaine dan memandang ketiga pria yang sedari awal pertemuan sudah meliriknya dengan tatapan yang tajam, terlihat tidak menyukainya.
"Aku Vino," ucap Vino yang menjulurkan tangannya ke pria yang ada di tengah.
Melihat tangan Vino yang terulur ke arah mereka, ketiga pria ini tidak mengambil tangan Vino dan menatap Vino dengan malas.
Meskipun begitu, mereka bertiga tetap melaporkan namanya.
"Aku Kriss."
"Aku Maddon ...."
"Diell."
"..."
Vino melirik ketiganya sesaat, kemudian menyimpan tangannya ke saku celananya dan mengangguk.
Pria atau pemuda bernama Kriss adalah pacar dari Iva, Maddon pacar Tuva, dan Diell adalah pacarnya Deena.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya," tanya Vino kepada Alaine yang berdiri di sebelahnya.
Tangan Alaine menunjuk ke papan selancar yang dipegang oleh Maddon, dan menjawab, "Kami ingin bermain selancar air. Kamu bisa berselancar?"
"Bisa. Kamu ingin berselancar juga?"
"Tidak." Alaine menggelengkan kepalanya.
"Alaine tidak bisa selancar, kami juga tidak bisa," celetuk Tuva sambil tersenyum.
Iva dan Deena mengangguk membenarkan.
Tiba-tiba tangan Iva menarik tangan Kriss untuk berjalan ke depan bersama papan selancar di tangannya. "Pacarku juga mampu bermain selancar. Mungkin kalian berdua bisa mengajari kami, apakah boleh?"
"Lihat saja nanti. Lagi pula aku belum memeriksa ombaknya," kata Vino yang malas melirik Kriss, dia lebih memilih melihat Iva.
Tidak tahu kapan Alaine melingkari tangan kiri Vino dengan erat. Setelah tahu, Vino membiarkan Alaine memegang tangannya sesuai dengan keinginannya.
"Kalau begitu, ayo kita ke air!" Deena melompat dengan gembira.
Setelah seruan Deena keluar, mereka semua berjalan dengan dua tim yang dipisahkan.
Vino dan pria yang lain pergi ke bibir pantai untuk merasakan kekuatan ombak.
Sementara para wanita mencari tempat untuk mereka bersantai dan berjemur nanti.
Tidak lupa Vino menyewa papan selancar dengan menggunakan uangnya sendiri. Alaine ingin membayarnya, tetapi Vino menolak karena berselancar ini adalah kemauannya sendiri.
Saat berpisah untuk menyewa papan, Alaine dan Vino berbicara mengenai pacar sewa. Mengetahui bahwa Vino adalah pacar yang dipesan olehnya, kejutan dirasakan oleh Alaine lantaran aplikasi aneh itu benar-benar mengirimkan orang kepadanya.
Apalagi orang yang dikirim sesuai dengan pesanannya.
Jujur saja, jantung Alaine berdetak cepat sejak menggandeng tangan Vino. Rasa nyaman dan aman sangat bisa dirasakan oleh diri Alaine, padahal hanya berdiri di dekat Vino, tidak berpelukan ataupun yang lain.
Pria yang dikirim sangat-sangat sesuai dengan tipe pria yang ia suka. Dari ekspresi wajahnya saja bisa terlihat ketegasannya.
Alaine sangat bersyukur menemukan aplikasi tersebut, dia bisa bertemu pria idamannya karena itu.
"Kurasa kamu hanya berpura-pura bisa di depan wanitaku dan Alaine," celetuk Maddon yang berdiri di samping Vino yang sedang menurunkan papan selancarnya di atas air.
Mendengar ucapan Maddon, tanggapan Vino cuma senyuman yang diarahkan ke Maddon dan dua pria lainnya.
Belum sempat mereka bertanya tentang apa yang Vino maksud dengan senyumannya, sosok Vino bergerak ke depan sambil naik di atas papan selancar air.
Kedua tangan Vino mengayuh bagai dayung perahu untuk membawa dirinya dan papan selancar ke ombak yang ada di kejauhan.
Ombak besar tidak muncul di pinggir pantai, melainkan ada di area yang jauh dari bibir pantai.
Bulan Juli merupakan bukan yang tepat untuk berselancar dengan ombak yang besar.
Melihat Vino yang bergerak terlebih dahulu, mereka bertiga ikut masuk ke laut dan menjauh dari pantai secara perlahan.
Banyak orang yang melirik Vino dan ketiga pria ini. Tidak banyak yang bermain selancar air di bagian pantai yang Vino kunjungi, hanya ada beberapa orang saja. Orang-orang lebih mudah untuk melihat yang berbeda.
Orang yang memegang papan selancar menjadi objek perhatian mereka semua.
"Lihat ke depan! Orang itu benar-benar menaiki ombak!" Sebuah suara yang menonjol dari banyak orang yang bersantai di pantai membuat semua orang melihat ke sosok Vino yang lebih dahulu ke tengah laut untuk menghampiri ombak besar.
Ketiga pria itu juga terdiam, mereka tercengang dengan mata yang membesar melihat ke depan.
Di dalam mata mereka semua, sosok Vino terlihat sedang berdiri dan sedikit membungkuk di atas papan selancar yang di bawahnya terdapat ombak dengan tinggi 2 meter.
Tubuh Vino yang berdiri di papan selancar ini tampak sangat stabil, kestabilannya melebihi peselancar yang lain.
Vino mengendalikan papan selancarnya di atas ombak dengan wajah yang tampan tak terkendali.
Sosok Vino saat ini terlihat sengat keren, semua orang tidak bisa menyanggah fakta ini.
Keempat wanita yang baru saja ada di tepi pantai sekejap terkejut dengan pemandangan yang mereka lihat di kejauhan.
Mulut mereka semua terbuka dengan seruan yang tidak percaya.
Alaine juga melihat sosok Vino sedang bermain selancar dengan sangat epik di sana, wajahnya penuh oleh kejutan berlebihan.
Apa yang dikatakan oleh Vino bukanlah bohongan.
Saat ombak itu berangsur-angsur mendekati pantai dan ukurannya makin kecil, Vino mencoba melakukan akrobat di atas papan selancar.
Dengan kekuatan tangannya yang kuat, Vino berhasil mengangkat seluruh tubuh dengan satu tangan di alas yang hanya terbuat dari papan selancar.
"Keren! Sangat hebat bisa melakukan gerakan itu di papan selancar yang tidak selalu stabil!"
"Kurasa para peselancar profesional belum tentu bisa melakukan gerakan itu."
"Siapa pria itu?! Mengapa dia sangat berbakat?!"
"Yuhuu! Penampilan yang bagus, Kawan!!"
"..."
Dalam sekejap, kehebohan meledak di pantai, semua orang bertepuk tangan dengan apa yang dilakukan oleh Vino saat berselancar barusan.
Ketiga pria ini makin tidak menyukai Vino, mereka segera bergegas ingin menunjukkan kehebatan mereka dalam berselancar.
Namun, saat Kriss yang punya dasar keahlian berselancar ingin naik ke atas ombak yang besar, papan selancar yang ia jadikan topangan tidak stabil dan Kriss ditelan oleh ombak yang besar tersebut.
"Sial! Pria itu gagal berselancar! Semuanya, tolong cari dia!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Oka Derza
kyaknya GK ada nama aja Thor???/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2025-02-09
0
『Abang Gery』
Iva lonthe gak tuh
2023-11-24
2
isnaini naini
mau pamer malah tenggelam...
2023-10-10
4