Bab 20

"Silahkan kopinya Pak" Shanum meletakkan kopi yang tadi di buat langsung oleh Arga, sebab menurutnya akan sangat sayang jika kopi malang itu harus di buang, sekaligus ini juga meringankan bebannya sebab Arga tidak akan mungkin protes dengan rasa kopi yang sudah ia sajikan

"Kau membuatnya sesuai petunjukku kan?" Arga meraih secangkir kopi tersebut, dan mulai mencium aromanya, tanpa menunggu lama, ia lantas meminum kopi tersebut "Uwek..." Arga mengulurkan lidahnya saat mencicip rasa kopi di tangannya

"Ada apa Pak?" tanya Shanum

"Kau menambahkan berapa banyak gula kedalam minuman ini?" tanya Arga

"Sesuai petunjuk Bapak"

"Tapi kenapa rasa kopinya berbeda? Kau pasti tidak mengikuti arahanku tentang cara mengaduknya"

"Itu sudah benar sesuai dengan petunjuk Bapak. Tiga putaran ke kanan, dan dua putaran ke kiri" jawab Shanum mengingatkan akan petunjuk dari Arga sebelumnya "Lagipula, itu adalah kopi yang tadi bapak buat sendiri saat mengajari saya"

Arga menganga, ia tak percaya jika Shanum bisa sepintar ini. Dirinya tidak lagi bisa menyalahkan Shanum menyangkut kopi yang ia minum. Sebab kopi tersebut adalah kopi buatannya sendiri

"Ya sudah, kau keluarlah"

Shanum segera keluar. Setelah dirinya menghilang dibalik pintu, tawa terdengar begitu nyaring. Ya, Gibran tengan mentertawakan nasib Bos-nya yang berniat mengerjai karyawan baru, tapi justru menjadi senjata makan tuan

"Mengapa kau tertawa?"

Gibran mengatupkan bibirnya saat melihat tatapan nyalang sang Bos. Namun barusaja ia mencoba menahan, tawa kembali bergema tanpa bisa ia cegah. Ia bahkan sampai memegangi perutnya yang sedikit kram karena terlalu banyak tertawa

"Sudah puas tertawanya?"

"Hahaha kau lucu sekali Bos, aku tidak menyangka ada yang bisa membuatmu mati kutu seperti itu" ujar Gibran, ia teringat bagaimana ekspresi Arga saat tadi karyawan baru yang ia tahu bernama Hanna itu mengatakan bahwa kopi yang di minum Bos-nya adalah hasil buatan Bos-nya sendiri

"Hentikan tawamu atau kau akan menyesal!"

Seketika Gibran menghentikan tawa saat mendengar ancaman mematikan dari atasannya. Masih jelas dalam ingatannya jika sang Bos sudah mengatakan kata keramat itu maka akan ada sesuatu yang buruk terjadi pada hidupnya. Terakhir saat kata kata itu keluar, dirinya di perintah untuk berjualan bakso dengan mendorong gerobak selama satu hari penuh, dan jika hari ini ia kembali melakukan kesalahan, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada hidupnya

Ehem...

Gibran berdehem sejenak, ia lantas membuka map yang sejak tadi ia bawa dan mulai membacakannya "Pagi ini tidak ada rapat atau pertemuan lainnya. Tapi jam dua belas siang nanti akan ada pertemuan dengan perusahaan Dirg'Corp. Lalu nanti malam kita akan menghadiri makan malam bersama Tuan Hendrik"

"Makan malam?" dari sekian yang Gibran jelaskan tentang agenda hari ini, hanya kata makan malam yang melekat dalam ingatan laki laki itu "Apa yang akan kita bahas dalam makan malam itu?" tanya Arga

"Tidak ada Bos, itu hanya jamuan makan malam antar sesama pengusaha saja"

"Baiklah, kalau begitu kau tidak perlu ikut karena aku akan mengajak Hanna menghadiri acara tersebut"

"Hanna?" tanya Gibran setengah tak percaya, sebab seingatnya Hanna adalah nama dari OG baru yang kini bekerja di lantai mereka

"Iya Hanna, dan aku melupakan untuk memberitahu padamu bahwa hanya aku yang boleh memanggilnya Hanna"

"Tapi kenapa Bos? Maksudku, bagaimana jika suatu saat aku ingin memanggil Hanna, bagaimana aku harus memanggil namanya?"

"Memang untuk apa kau memanggilnya, kau ingin bermacam macam dengannya?" tatapan nyalang Arga arahkan pada asistennya itu

"Tidak Bos, maksudku jika suatu saat aku meminta untuk dibuatkan kopi, lalu aku harus memanggilnya apa?"

"Shanum, panggil saja Shanum"

"Baik Bos"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!