Bab 5

Sekar mengelap keringatnya yang menetes. Sudah beberapa restoran dan cafe ia kunjungi untuk menanyakan pekerjaan. Namun tidak satupun yang menerimanya. Ia duduk dibawah pohon yang terdapat kursi memanjang di sana.

"Pekerjaan belum dapat, tapi perut sudah lapar" keluh Shanum saat merasakan perutnya yang mulai lapar. Ia melirik seorang tukang bakso yang ada di seberang jalan, dan dengan segera menghampiri tukang bakso tersebut "Bang, baksonya satu porsi"

Shanum duduk di kursi yang diberikan tukang bakso tersebut. Ia mengeluarkan ponselnya, dan kembali berselancar pada layanan yang menyajika beberapa rekomendasi lowongan pekerjaan untuknya. Namun lagi lagi ia tidak menemukan yang cocok untuknya. Baru saja mematikan layar ponselnya, ia dibuat terkejut saat ponselnya dirampas secara paksa, dan berhasil di bawa kabur

"Hei jambret..." Shanum mengejar laki laki yang merampas ponselnya. Beruntung ia mengenakn jeans, jadi bukan hal yang susah untuknya mengejar laki laki yang mengambil ponselnya tersebut. Shanum berhenti sejenak, dan mengambil satu balok kayu, lalu ia lemparkan kepada laki laki tersebut, dan berhasil mengenai punggungnya. Shanum mempercepat langkahnya saat melihat laki laki tersebut terkapar

Barusaja Shanum berjongkok untuk mengambil ponselnya. Laki laki itu ternyata kembali bangun dan memelintir tangan Shanum yang hendak meraih ponsel dalam genggamannya. Shanum sedikit meringis saat tangannya di pelintir ke belakang. Namun sebisa mungkin ia menenangkan diri, saat melihat kaki laki laki tersebut yang berada dekat dengan kakinya, dengan segera Shanum menginjak kaki laki laki tersebut sekuat mungkin, hingga cekalan tangannya terlepas. Shanum membalik tubuhnya, dan menghadiahi bogeman pada wajah laki laki tersebut, hingga membuat laki laki tersebut kembali terkapar

Shanum mengambil ponselnya yang tergeletak tak jauh darinya. Setelah itu ia kembali mendekati laki laki tersebut, dan menginjak tangannya. Hingga menimbulkan jeritan yang begitu keras "Sekali lagi aku bertemu denganmu, akan aku buat tanganmu patah"

Shanum meninggalkan laki laki tersebut, dan kembali menuju penjual bakso tadi. Perutnya yang memang lapar, menjadi semakin lapar karena sempat berkelahi. Shanum kembali duduk di kursi yang tadi ia tempati, kemudian memakan bakso pesanannya

"Neng ini hebat sekali bisa mengalahkan preman" ujar tukang bakso yang tadi sempat menyaksikan pertarungan antara Shanum dan laki laki tadi

"Terimakasih Bang, oh iya, ini" Shanum menyerahkan uang bayaran untuk baksonya, dan berjalan meninggalkan penjual bakso tersebut.

Teriknya matahari membuat penglihatan Shanum begitu silau. Melihat sinar matahari yang begitu panas, membuat Shanum dapat menyimpulkan bahwa kini jam sudah menunjukkan waktu shalat dzuhur. Ia melanjutkan langkahnya, bukan lagi untuk mencari pekerjaan melainkan mencari mushala, masjid, atau sejenisnya untuk melaksanakan shalat

*

Shanum tampak begitu khusuk dalam shalatnya. Setelah selesai, ia menadahkan tangannya untuk berdo'a. Do'a singkat yang selalu ia panjatkan berulang ulang. Meminta kesehatan, kelapangan rezeki, dan jodoh yang suatu saat nanti bisa membimbingnya. Itu adalah barisan do'a yang selalu Shanum panjatkan dalam shalatnya. Sebab di umurnya yang kini beranjak dua puluh delapan tahun, ia sudah berkeinginan untuk menjalani biduk rumah tangga. Namun hingga saat ini belum ada laki laki yang benar benar serius kepadanya.

Selesai shalat, Shanum kembali memakai sepatu nya. Setelah itu ia duduk di tangga masjid dengan pandangan yang mengarah jauh entah kemana. Pikirannya sedang berkelana, memikirkan kemana langkah yang akan ia tempuh berikutnya.

Terpopuler

Comments

Eyang Putri

Eyang Putri

lanjut..

2024-03-23

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!