Bab 8

Pagi yang cerah. Shanum menggeliat ketika melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul lima tepat. Ia bangkit dengan malas dari kasur, dan segera membasuh wajahnya di kamar mandi. Setelah itu ia melaksanakan shalat seperti biasanya. Setelah selesai ia mulai membersihkan diri dan kembali mengadu nasib dengan mencari pekerjaan tanpa arah tujuan yang jelas

Shanum melihat dari kejauhan, terlihat sebuah warung makan kecil, yang tampak sedikit ramai. Dengan memberanikan diri, Shanum berjalan menghampiri warung tersebut. "Maaf Buk, apakah Ibu membuka lowongan pekerjaan? Saya bersedia bekerja apa saja Buk, saya bisa masak, cuci piring, bersih bersih atau apapun"

"Maaf, saya tidak membuka lowongan" ucap Ibu tersebut ketus

Shanum melihat Ibu pemilik warung tersebut yang berjalan menjauhinya dengan perasaan kecewa. Lagi lagi ia harus menerima penolakan. Shanum terlihat menghela nafas, dan akhirnya dengan berat hati pergi meninggalkan warung makan tersebut

Shanum kembali berjalan menyusuri jalanan untuk mencari pekerjaan. Entah mengapa hatinya yang biasanya kuat, kini perlahan melemah. Dada Shanum terasa ingin meledak, menahan tangis atas penolakan demi penolakan yang ia terima. Namun kembali Shanum menguatkan diri, dan kembali menuntun langkahnya untuk mencari pekerjaan

Shanum mengikuti jalan tak tentu arah. Sesekali ia akan menyinggahi warung makan, cafe, atau apapun untuk meminta lowongan pekerjaan. Namun tidak ada satupun yang menerimanya dengan alasan lowongan pekerjaan yang tersedia sudah terisi penuh. Dari kejauhan, Shanum melihat sebuah masjid, ia kemudian berjalan menuju masjid tersebut, dan duduk di teras depan.

"Huh... aku harus mencari pekerjaan kemana lagi?"

Ia mengeluarkan ponselnya, dan melihat beberapa lamaran pekerjaan yang sempat ia kirim melalui online. Namun tidak satupun dari banyaknya lowongan yang ia daftarkan meminta untuk interview atau semacamnya. Ia kembali menutup ponselnya, dan memilih beranjak menuju tempat berwudhu. Ia akan membasuh wajahnya sekedar untuk menjernihkan pikiran. Selesai membasuh wajahnya, kini pandangan mata Shanum tertuju pada sosok pria yang kini berjalan kearahnya, tidak lebih tepatnya berjalan menuju masjid yang saat ini ia singgahi. Shanum segera bersembunyi dibalik sebuah pilar saat melihat laki laki tersebut melepas sepatunya dan masuk kedalam masjid

Shanum keluar dari persembunyiannya. Ia menatap punggung laki laki yang saat ini telah masuk kedalam masjid tersebut. Dapat Shanum lihat bahwa laki laki tersebut tengah berbicara pada pengurus masjid, setelah itu laki laki itu mengeluarkan sebuah amplop dari saku jas-nya, dan langsung saja diterima oleh pengurus masjid tersebut. Setelah menyerahkan amplop, laki laki itu tampak menghilang entah kemana, sebab Shanum tidak begitu memperhatikannya karena ia sedikit bengong tadi

"Kau mengawasiku?"

"Astaghfirullah..." Shanum membalik tubuhnya, dan betapa terkejutnya ia saat mendapati laki laki yang tidak lain adalah Arga kini telah berdiri dibelakangnya

"Kau mengawasiku?" tanya Arga lagi saat pertanyaan pertamanya tidak mendapat jawaban

"Tidak, untuk apa aku mengawasimu. Membuang waktu saja" Shanum memakai kembali sepatunya, dan mengambil tas punggung kecil miliknya, kemudian berjalan melalui Arga begitu saja

"Aku memiliki pekerjaan untukmu, dan itu hanya jika kau berminat"

Shanum menghentikan langkahnya, dan melihat Arga yang kini masih berdiri di posisinya "Aku tidak butuh"

"Aku tahu kau membutuhkan uang, aku akan membayar uang gajimu saat ini juga jika kau bekerja denganku"

Shanum memejamkan matanya. Ia benar benar butuh pekerjaan sekarang, sebab ia harus segera membayar tunggakan Spp Kiyara yang begitu banyak. Namun ia tidak mungkin menerima pekerjaan dari laki laki menjengkelkan itu bukan. Shanum masih diam, sampai derap langkah kaki berjalan kearahnya

"Lima juta untuk satu bulan" tawar Arga

"Tidak" Ah, bagaimana mungkin ia menolak tawaran menggiurkan itu, mulutnya seakan tidak bisa ia kontrol sehingga dengan se-enaknya menolak

"Kau yakin? Tawaranku masih berlaku, tapi jika memang kau yakin untuk menolak, maka aku akan menawarkan pekerjaan ini pada orang lain"

Huh...

Shanum menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya perlahan "Apa pekerjaannya?"

"Ternyata kau membutuhkannya?" sindir Arga

"Tidak jadi, aku tidak berminat" mendengar nada bicara Arga yang seolah merendahkannya membuat Shanum kesal

"Hei, kau ini tersinggungan rupanya. Baiklah maafkan aku, begini aku sedang mencari seorang asisten rumah tangga, dan aku menawarkanmu. Tapi ingat aku tidak memaksamu, itu hanya berlaku jika kau berminat, tapi jika tidak maka aku tidak akan memaksa"

Shanum diam, ia tampak menimbang. Menjadi asisten rumah tangga tidak ada dalam list pekerjaan yang ia inginkan. Tapi mengingat dua hari ini ia mencari pekerjaan, dan belum juga diterima membuatnya sedikit menimbang. Ditambah biaya yang ia butuhkan untuk sekolah adinya harus segera ia penuhi

"Aku rasa kau tidak bersedia, tidak masalah" Arga melangkah untuk kembali ke mobilnya

"Tidak, maksudku... aku bersedia"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!