Bab 7

Malam menjelang, Shanum yang kini tengah memakan mie instant di dapur mini miliknya, harus menghentikan makannya saat mendengar dering ponsel miliknya berdering tiada henti. Ia segera bangkit, dan melihat pemanggil yang ternyata Ibunya "Halo Assalamu'alaikum Buk"

"Wa'alaikum salam, bagaimana kabar Kakak di sana?" tanya Buk Siti

"Kakak baik buk, Ibu sama yang lain juga baikkan?" tanya Shanum

"Ibu baik Kak, Alhamdulillah"

"Syukurlah"

"Kamu sudah makan?" tanya Buk Siti masih tampak berbasa basi

"Sudah Buk, tadi Kakak beli nasi goreng didepan"

"Syukurlah, jaga kesehatan ya di sana"

"Iya Buk, pasti. Mmm... sekolah Kiyara sama Dimas gimana Buk, semua baik baik saja kan?" tanya Shanum

"Itu dia Nak, tunggakan Spp beberapa bulan kemarin sudah di tagih oleh pihak sekolah, tapi Ibu masih belum cukup uang"

Shanum memejamkan matanya mendengar kabar dari sang ibu tercinta. Hidup tanpa sosok ayah nyatanya membuat beban Ibunya begitu besar. Wanita tua itu harus di tuntut menjadi Ayah sekaligus Ibu dalam waktu bersamaan.

"Minta kelonggaran waktu dua hari ya Buk sama pihak sekolah, nanti pasti Kakak kirim uangnya" tutur Shanum

"Tapi kamu dapat uang darimana Kak, kamu kan baru bekerja satu hari" ucap Buk Siti, faham akan kondisi putrinya yang baru bekerja

"Nanti Kakak kasbon ke perusahaan. Ibu tenang saja"

"Ya sudah kalau begitu, jaga kesehatan di sana. Ibu tutup ya, Assalamu'alaikum"

"Wa'alaikum salam"

Huh

Shanum menghela nafas kasar. Bagaimana ia bisa mencari uang dalam waktu dua hari, sedangkan saat ini pun uang yang ia punya hanya cukup untuk makan selama beberapa hari kedepan. Shanum meletakkan ponselnya, dan kembali meraih mangkok mie instant yang sudah ia tinggalkan. Ia kembali memakan mie instat tersebut meskipun rasanya sudah tidak se-nikmat tadi

Selesai makan, kini Shanum berbaring di ranjangnya. Menatap langit langit kamar dengan pikiran yang bercabang kemana mana. Biaya sekolah Kiyara yang saat ini duduk di bangku Sma, terbilang lebih mahal dibanding biaya sekolah Dimas. Setiap bulannya Shanum dan Buk Siti harus menyiapkan uang berkisar seratus lima puluh ribu untuk biaya Spp sekolah Kiyara. Namun beberapa bulan yang lalu, penghasilan dari penjualan gorengan yang ia peroleh sangat menurun, sehingga ia tidak bisa membayar biaya sekolah sang adik

Ya, satu satunya usaha yang dijalani Shanum selama di kampung adalah menjadi penjual gorengan. Meskipun hasilnya tidak banyak, tapi itu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bersama keluarga. Namun beberapa bulan yang lalu jualan miliknya terasa sepi, mungkin karena banyaknya orang yang kini juga mulai berjualan. Sehingga hal itu menyebabkan perekonomian keluarganya yang memang tidak memadai menjadi semakin terpuruk

"Besok aku harus mencari pekerjaan lagi. Tapi kemana?" monolog Shanum

Shanum meraih dompetnya yang hanya berisi uang tujuh puluh lima ribu. Uang sisa ongkosnya untuk pergi ke Jakarta, dan uang gajinya selama satu hari bekerja. Entah mengapa jalannya terasa sangat buntu, kesialan demi kesialan selalu menghampirinya. Tanpa terasa air mata menetes di pipi Shanum.

Shanum menangis tergugu, melampiaskan rasa kesal di hatinya karena hidup serba kekurangan. Dirinya memang begitu ketus dan terkesan kuat dalam penglihatan orang. Namun inilah dirinya yang sebenarnya, sosok lemah yang selalu menangis saat malam hari untuk melampiaskan segala kekesalan yang bersemayam di hatinya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!