Jika Mama Brianna telah kembali ke kamarnya setelah mengiringi suaminya ke kantor. Maka lain hal dengan putranya, Arga masih diam di tempat dan melihat apa saja yang Shanum lakukan. Hingga beberapa saat kemudian kegiatan Shanum selesai, wanita itu membalik tubuhnya, dan ia sedikit terkejut saat mendapati Arga ada di belakangnya
"Mas... apa ada yang kau butuhkan?"
"Tidak, aku hanya berpikir bahwa aku ingin mengubah keputusanku, aku ingin mengajakmu bekerja di perusahaan saja, bagaimana?" tawar Arga.
Entah mengapa ide itu mencul begitu saja dalam benak Arga. Padahal sebelumnya ia sudah memikirkan keputusannya untuk menjadikan Shanum asisten rumah tangga di rumahnya agar ia bisa melihat wajah cantik itu setiap hari. Namun kini ia mulai sedikit bimbang dengan keputusannya, dan ia ingin memindah tugaskan Shanum ke perusahaan miliknya
"Maaf, tapi aku sudah nyaman dengan pekerjaan ini"
"Kau nyaman dengan pekerjaan ini, atau kau nyaman karena bisa selalu melihatku setiap detik?" goda Arga
Shanum memicing, rasanya ia ingin sekali memberi tonjokan mematikan pada wajah tampan itu. Namun sialnya ia tidak bisa melakukan itu, mengingat dirinya yang hanya sebagai seorang asisten rumah tangga "Jika tidak mengingat kau adalah majikanku, mungkin aku akan melayangkan kepalan tinjuku ke wajah tampanmu itu"
"Ya, wajahku memang tampan, terimakasih atas pujiannya"
Bibir Shanum mengerucut tajam saat laki laki menyebalkan itu membuatnya kesal. Ia juga sedikit merutuki mulutnya yang memberi ancaman dengan menyebut kata tampan, yang berakhir pada kekesalannya pada laki laki yang berstatus majikannya ini. Ia menghela napas untuk sedikit meredakan kekesalan yang kini bersarang di hatinya
"Oh iya, bagaimana dengan tawaranku tadi, kau setuju bukan?"
"Tidak, aku benar benar lebih betah bekerja di sini" ujar Shanum, entah mengapa ia merasa jika laki laki di depannya ini memiliki niat lain dibalik pemindahan dirinya
"Tapi sayangnya aku tidak menerima penolakan. Siapkan dirimu karena besok kau akan mulai bekerja di perusahaanku. Aku berangkat, dan semoga harimu menyenangkan" Arga melenggang pergi dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Sedangkan Shanum tampak lagi lagi menghela napas untuk mengurangi kekesalan yang justru semakin besar di hatinya
"Selain menyebalkan, laki laki itu juga pemakasa rupanya. Tapi bagus juga kalau aku tidak bekerja disini, itu artinya aku bisa memakinya sesuka hatiku di luar sana" Shanum tampak tersenyum saat memikirkan apa saja yang bisa ia lakukan jika tidak berada dalam rumah keluarga besar Argantara itu
*
Tiba di gedung perkantoran yang menjulang tinggi itu. Wajah Arga masih tampak di hiasi senyum. Sebenarnya hal ini bukan hal yang aneh untuk para karyawan kantor, sebab sudah biasa bagi mereka melihat wajah berseri dari atasan mereka itu. Hal inilah yang membuat banyak karyawan betah bekerja di perusahaan ini. Arga masuk ke dalam lift yang akan membawanya menuju lantai dimana ruangannya berada. Tiba di lantai ruangannya, ia langsung bertemu dengan Gibran, sang Asisten yang barusaja keluar dari ruangan
"Anda tampak sangat ceria pagi ini Bos, ada apa?" tanya Gibran saat melihat wajah atasannya yang tampak berseri seri. Cukup lama bekerja dengan Arga membuat Gibran memahami laki laki yang merupakan atasannya ini, dan senyum yang pagi ini laki laki itu tunjukan bukanlah senyum biasa baginya
"Kau yakin ingin mendengarnya? Aku hanya takut jiwa jomblo-mu meronta ronta jika aku mengatakan penyebabnya"
"Tidak perlu kalau begitu"
"Hei ayolah, kau tidak mungkin tersinggung dengan ucapanku bukan?"
"Tersinggung pun rasanya akan percuma"
Ya, bagi Gibran akan percuma baginya untuk tersinggung. Sebab atasannya yang memiliki selera humor tinggi ini pasti akan melakukan kekonyolan yang akan membuatnya tidak bisa memendam kekesalan. Akhirnya, pasrah menjadi jalan yang ia pilih untuk menyudahi kekesalan di hatinya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments