"Bran..." panggil Arga pada Gibran sembari memainkan pulpen di tangannya
"Nama saya Gibran Bos" peringat Gibran
"Terserah padaku, bukankah disini aku adalah Bos-nya"
"Baiklah, apa yang anda inginkan Bos?" walau kesal akhirnya Gibran menanyakan maksud atasannya ini memanggilnya, sebab terhitung satu jam ia berada di ruangan atasannya tersebut. Namun Arga sama sekali belum mengatakan apapun
"Bagaimana pendapatmu mengenai Hanna?"
"Hanna?" kening Gibran mengernyit dalam seolah berpikir keras untuk mengingat nama yang barusaja ia dengar, dan pikirannya tertuju pada sosok gadis cantik yang merupakan kekasih atasannya semasa Sma dulu "Dia baik, anggun, dan cantik" balas Gibran seadanya meski sebenarnya ia tidak paham mengapa Arga menanyakan hal ini
"Anggun? Dia tomboy, bagaimana kau bisa mengatakan dia anggun?" ujar Arga merasa apa yang asistennya katakan berbanding terbalik dengan Hanna yang sebenarnya "Tunggu dulu, jangan bilang kalau kau tidak tahu Hanna yang aku maksud"
"Memang siapa Hanna yang anda maksud Tuan. Anda membicarakan Almarhum Nona Hanna Delisha bukan?"
"Tidak, aku membicarakan Shanum Hanania"
"Shanum Hanania?" lagi lagi otak Gibran di tuntut untuk mengingat nama yang baru ia dengar itu, mungkin saja nama itu adalah nama salah satu teman mereka semasa sekolah dulu. Namun ia sama sekali tidak mengingat akan nama tersebut
"Kau memang payah. Sudah keluar sana, aku akan memanggilmu jika aku butuhkan"
Gibran keluar dari ruangan atasannya dengan alis yang masih beradu. Pikirannya benar benar ia kuras untuk mengingat pemilik nama yang barusaja atasannya ucapkan, tapi ia benar benar tidak mengingatnya. Sedangkan Arga tampak menggerutu karena asistennya itu tidak tahu tentang Hanna yang ia maksud
Arga meraih ponselnya, dan menatap nomor ponsel Shanum yang sudah lama tersimpan di kontak pribadinya. Ingin sekali ia menghubungi nomor tersebut. Namun niat itu ia urungkan saat menatap berkas yang menumpuk di meja kerjanya. Ia menghela napas sejenak, sebelum akhirnya mulai memeriksa satu persatu berkas yang menumpuk tersebut
"Bawakan kopi ke ruanganku" ucap Arga pada seseorang di ujung telepon sana, setelah itu ia meletakkan telepon kabel tersebut. Tidak berselang lama Gibran datang membawakan kopi pesanan atasannya
"Kopi anda Bos"
"Terimakasih, oh iya mungkin ini akan menjadi terakhir kali kau mengantar kopi untukku, sebab besok akan ada seseorang yang akan menggantikan tugasmu di lantai ini"
"Karyawan baru?" tanya Gibran tak percaya. Sebab atasannya yang terkenal ramah itu tidak akan semudah itu mempercayakan makanannya di buat oleh orang yang baru di kenalnya. Itulah sebabnya menjadi asisten Arga membuat Gibran harus menguasai cara membuat kopi dengan baik dan benar. Tapi hari ini, tanpa keraguan Arga mengatakan akan kedatangan karyawan baru yang akan menghuni lantai mereka
"Kau akan tahu besok"
Gibran kembali menahan kesal dalam hatinya. Berkali kali helaan napas Gibran terdengar "Baiklah kalau begitu saya permisi Bos" akan lebih baik baginya menjauh dari atasannya, atau jika tidak maka akan ada hal lain yang akan membuat kekesalannya bertambah
Ya, itulah Arga. Laki laki berusia tiga puluh tahun itu memang sangat tidak mencerminkan kedewasaan. Karena ia akan selalu bertingkah konyol dan membuat suatu lelucon. Namun jika sudah menyangkut hal yang serius, maka jangan pernah tanya akan se-berapa serius laki laki itu menghadapinya. Karena nyatanya laki laki itu benar benar menjadi sosok yang berbeda jika di hadapkan dengan situasi serius
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments