"Aw..." Arga kembali menjerit saat Shanum mengobati luka di sudut bibirnya. Membuat Shanum geram, hingga menekan kapas yang ada ditangannya ke luka di wajah Arga, membuat jeritan Arga kian bergema
"Dasar lebay, masa begitu saja kesakitan" gerutu Shanum sembari membuang kapas tersebut
"Hei, kau harus bertanggung jawab, ini semua salahmu karena sudah memukulku"
"Aku tidak peduli, lagipula aku tidak memintamu untuk mengunjungiku, dan membuat aku terkejut" Shanum menatap Arga mengintimidasi saat teringat kedatangan Arga ke kontrakannya secara tiba tiba "Apa yang kau lakukan disini? Lalu dari mana kau tahu alamatku, apa kau seorang penguntit?"
"Aku... aku..." Arga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia tidak menyiapkan jawaban untuk pertanyaan Shanum, sebab ia pikir Shanum tidak akan bertanya tentang hal ini
"Kau benar benar mengikutiku?"
"Tidak, aku tidak mengikutimu, aku hanya meminta berkas lamaranmu di kantor sahabatku, maka dari itu aku mengetahui alamatmu ini" jelas Arga berterus terang
"Ada apa kau mencariku?"
"Aku..."
"Apa kau gagap? Aku rasa sedari tadi kau tidak lancar bicara. Baiklah kalau begitu aku tidak akan bertanya apa apa padamu, jadi sekarang pergilah" Shanum bangkit dari kursinya, membereskan kotak P3k miliknya, dan segera masuk
"Tunggu dulu Hanna..."
Shanum membalik badannya dengan kerutan di dahinya "Hanna? Aku Shanum bukan Hanna, aku rasa kau salah orang"
"Bukankah namamu Shanum Hanania? Jadi aku akan memanggilmu Hanna, lebih terdengar akrab" ucap Arga
"Aku tidak berharap untuk akrab denganmu, dan aku tidak suka dipanggil Hanna. Sudah pergilah sebelumnya wajahmu kembali aku hadiahi bogeman"
Jeudar
Pintu yang dibanting cukup keras membuat Arga terlonjak kaget. Ia mengusap dadanya yang kian berdebar karena rasa terkejutnya. Gadis galak yang sangat menantang, Arga menyukainya. Arga menatap beberapa orang yang kini menatap dirinya, tidak ingin menjadi bahan perbincangan utama dari para tetangga Shanum, akhirnya Arga memutuskan untuk kembali ke mobil, dan menjalankan mobilnya meninggalkan tempat tersebut
Sedangkan Shanum tampak mengintip mobil yang bergerak menjauh itu dari kaca jendela kontrakannya. Setelah memastikan mobil tersebut menjauh, ia kembali ke halaman kontrakannya dan menggulung matras yang sempat ia pakai untuk ber-olahraga pagi. Setelahnya ia kembali masuk kedalam kontrakan dan membersihkan dirinya
Selesai mandi, kini Shanum duduk diatas ranjang kecil miliknya. Ia membuka ponsel dan kembali mencari lowongan pekerjaan. Hidupnya memang tidak terlahir kaya atau berkecukupan, bahkan ia harus kerja keras banting tulang untuk membiayai sekolah kedua adiknya. Namun baginya, sangat pantang untuk mengemis apapun pada siapapun. Itulah sebabnya ia tetap menemui Hrd kemarin dan mengambil gaji miliknya untuk satu hari kerja
Satu jam lebih Shanum habiskan untuk men-scrol berbagai media yang menyajikan lowongan kerja melaui online. Namun tidak ada satupun yang sesuai dengan dirinya. Sebab dalam lowongan tersebut tertera beberapa syarat dan ketentuan, dan syatratnya adalah menguasai teknik dasar komputer. Sedangkan dirinya hanyalah lulusan Sma yang sama sekali tidak faham tentang komputer
Huh
Shanum menghela nafas lelah saat ia tak kunjung mendapatkan lowongan pekerjaan yang pas untuknya "Apa aku mencari pekerjaan secara langsung saja? Tidak apa apa walaupun hanya menjadi tukang cuci piring, yang terpenting uang yang di hasilkan halal" monolog Shanum
Ia melirik jam di ponselnya yang menunjukan pukul sepuluh pagi. Ia segera mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih pantas, ia mengikat tinggi rambutnya, hingga memperlihatkan lehernya yang jenjang. Setelah itu ia keluar dari kontrakan dengan membawa tas punggung kecil miliknya dan berkas lamaran yang ia miliki
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Waahh Arga malah lebih parah,Udah menganggap hanum benar2 sebagai pelampiasannya..🙄🙄🤦🤦
2024-05-18
0