Sebuah mobil hitam memasuki area halaman rumah putih yang dikelilingi oleh pohon rindang, di samping rumah itu terdapat sebuah toko bunga yang sedang tutup. Ini sudah pukul 07.00 pagi, Louis benar-benar menyetir semalaman untuk bisa sampai ke sini saat pagi hari.
"Haahhhh, aku rindu tempat ini," Ucap laki-laki berambut pirang itu, kedua tangannya ia rentangkan sambil menghirup udara segar yang berbaur dengan aroma dari bunga-bunga yang sedang mekar.
Kakinya melangkah masuk ke teras rumah itu. Sunyi, seperti tidak ada kehidupan di sana.
"Apa dia belum bangun?" Louis menempelkan telinganya pada pintu.
Ia merogoh sakunya, laki-laki itu mengeluarkan sebuah anak kunci dan membuka pintu rumah itu dengan perlahan.
Cklekkk~
Ia sudah masuk ke dalam sana, kunci itu memang diberikan oleh si pemilik rumah padanya sejak lama hingga Louis bisa keluar masuk ke sana sesukanya.
Kenapa sepi sekali....
Louis berjalan pelan sambil menajamkan pendengarannya.
Kakinya berhenti di depan sebuah kamar. Tangannya baru saja mengepal untuk mengetuk pintu, tetapi ia dikejutkan oleh suara berisik dari arah dapur.
Dia di dapur rupanya....
Louis berjalan menuju dapur dengan mengendap-endap.
Ia sudah berada di ambang pintu pembatas dapur dan ruang tengah, laki-laki itu merapikan penampilannya dan siap melangkah masuk ke dapur dengan gembira.
"Seren-" Louis yang tadinya terlihat riang kini langsung memasang wajah shock bukan main setelah melihat pemandangan di depannya.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!!" Teriaknya.
Bagaimana tidak begitu, hari ini ia sangat senang karena akan bertemu dengan Serena. Tetapi, ia malah disambut dengan pemandangan yang membuat kebahagiaannya tadi seakan hilang terbawa oleh angin.
Serena sedang berpelukan dengan seorang laki-laki, dan sekarang mereka menempel dengan sangat romantis seakan tak terpisahkan di atas lantai. Seperti..., ayolah, apa tidak ada tempat yang lebih baik daripada di dapur?
"Sejak kapan kau di sini?" Ucap Serena, gadis itu langsung bangkit berdiri dari posisinya.
Louis masih mematung dengan mulut menganga, ia menatap Serena dan Van bergantian. Kini bibir laki-laki itu memucat.
"S-siapa dia, Serena..., a-apa kau...." Louis terbata-bata.
Serena memutar kedua bola matanya, ia mendekati Louis dan mencubit laki-laki itu dengan keras.
"Tidak usah membicarakan omong kosong, dia hanya orang yang bekerja padaku," Ucap Serena datar, "yah..., tadi ada sedikit kekacauan." Tambahnya lagi sambil melirik ke arah Van dengan wajah yang memerah.
Sementara Van berdiri diam dengan ekspresi wajah yang dingin, ia menatap tajam ke arah Louis.
"Apa itu, kenapa kau melihatku begitu? Siapa namamu?" Ucap Louis dengan nada tidak suka.
"Grrrrr..."
Serena mulai panik, ia segera menghampiri Van dan menuntun laki-laki itu menjauh dari Louis.
"Van, sebaiknya kau kembali ke atas, ya?" Pinta Serena dengan lembut.
Van menatap Serena sebentar, setelah itu ia pergi sendiri walaupun sempat berpaling dan masih menatap Louis dengan tajam.
"Dia memang seperti itu, sebaiknya kau jangan mengganggunya." Serena berlalu meninggalkan Louis yang mematung karena sepertinya belum bisa mencerna apa yang baru saja dilihatnya.
"Tunggu, Serena. Apa ini? Kenapa dia kau suruh pergi ke atas? Bukan kah itu tempat lukisanmu? Kenapa dia menggeram seperti binatang begitu? Apa anak itu gila?" Serbu Louis tanpa henti.
Serena mendengus pelan, ia sudah tahu akan seperti ini.
"Kenapa kau tidak memberitahuku jika akan datang kemari?" Serena menyodorkan secangkir susu pada Louis.
Louis menerimanya, tapi bukannya menjawab pertanyaan Serena, kini ia juga kembali menjawab dengan pertanyaan.
"Serena, kau belum menjawabku." Ucap Louis dengan wajah serius.
"Akan aku jelaskan nanti, yang pasti dia memang tinggal di sini, di atas loteng." Jawab Serena seadanya.
Louis masih menatap gadis di depannya dengan penuh tanda tanya serta wajah frustasi.
"K-kau-"
"SUDAH AKU BILANG BERHENTI BICARA OMONG KOSONG!" Serang Serena dengan tatapan kesal.
Louis sontak terdiam, sebenarnya masih banyak pertanyaan yang menyiksa kepalanya. Tetapi jika Serena sudah seperti itu maka mau tidak mau ia harus menurut saja.
"Baru saja datang aku langsung dimarahi," Cicit Louis dengan wajah cemberut.
Laki-laki itu adalah sahabat dekat Serena, mereka berteman sejak kecil hingga Serena menganggapnya seperti saudara sendiri. Laki-laki berambut pirang pucat dengan mata yang miliki manik biru menyala, Louis sangat mencolok karena penampilannya itu.
Sejak dulu Louis selalu menjadi pusat perhatian, anak-anak perempuan sangat menyukai laki-laki itu karena wajahnya yang rupawan. Ia juga sangat berbakat, tetapi sikapnya sangat dingin dan pemurung.
Jika sekarang ia terlihat hangat, maka percayalah hal itu hanya berlaku untuk Serena. Louis hanya menunjukkan sifat hangatnya pada Serena.
"Aku berniat memberimu kejutan," Ucap Louis sambil meminum susunya.
Serena menatap malas laki-laki itu, "bukan kah kau sibuk? Ada hal apa yang membawamu jadi sampai kemari?".
"Karena aku merindukanmu," Jawab Louis dengan senyuman lebar, "apa kau tidak merindukanku juga? Ayolah, bagaimana bisa kau tidak merindukan wajah tampanku ini-"
"Aku senang kau datang kemari," Potong Serena, gadis itu melipat kedua tangannya di dada sambil menghela nafas panjang, "aku pikir kita tidak akan bertemu sampai tahun depan tiba." Tambahnya lagi.
"Oowww, kau merindukanku? Apa ini mimpi? Aah aku sangat bahagia!" Girang Louis, kedua tangannya terulur ingin memeluk Serena.
"Berhenti atau kupotong kedua tanganmu." Ketus gadis itu yang sontak membuat Louis berhenti dengan wajah cemberut.
"Haahhh, sudah lama sekali aku tidak kemari," Louis menghela nafasnya sambil menatap Serena dengan sorot mata sayu, "rasanya aku bisa mati karena merindukan Nona galak ini," Kekehnya.
Serena hanya balas menatap laki-laki itu, raut wajahnya yang selalu datar sudah pemandangan biasa bagi Louis.
"Bunga, aku lapar,"
Serena dan Louis sontak melihat ke arah pintu belakang, Van berdiri di sana sambil memegang perutnya yang berbunyi.
"Apa-apaan anak ini, kenapa kau malah mengadu pada Seren-"
"Kemarilah, akan kubuatkan makanan," Ucap Serena sambil menepuk kursi di sampingnya, "tidak apa-apa, dia ini teman," Ia tersenyum manis pada Van dan membuat laki-laki itu menurut.
Louis lagi-lagi dibuat menganga, ia tidak pernah melihat Serena tersenyum seperti itu pada seorang lelaki.
Apa? Apa-apaan ini?!!
Louis melongo dengan ekspresi seperti baru saja mengetahui jika dunia akan berakhir.
Van duduk di kursi yang berhadapan dengan Louis, laki-laki itu memasang wajah dingin dan sorot mata waspada. Louis balas menatapnya dengan tatapan yang tak kalah dingin. Meja makan itu hening dengan kedua orang lelaki yang saling beradu tatap di belakang seorang gadis yang sedang sibuk memasak daging.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
shookyot7💜
awas beku lagi karna terlalu dingin 😅
2023-08-08
0