Skotlandia, 1776.
Di sebuah desa terpencil, hiduplah tiga saudara kembar yang bekerja sebagai pemburu. Mereka sudah ditinggalkan oleh orang tuanya sejak kecil hingga dipaksa untuk bertahan hidup dengan seorang pandai besi yang tak lain adalah tetua di desa itu yang bernama Logan.
Tiga orang itu dibesarkan dengan tekanan dan kekuatan hingga mereka tumbuh menjadi laki-laki yang pemberani. Anak tertua bernama Sam, lalu disusul oleh Sivian, dan si bungsu yang bernama Sean.
Meskipun Sam adalah kakak tertua di antara mereka, tetapi justru ialah yang paling kekanakan. Rasa penasaran dan juga sifat egoisnya seringkali membuat Sivian dan Sean ikut kesusahan. Meskipun begitu mereka tetap bersama dan saling melindungi satu sama lain.
Mereka sangat terkenal di antara penduduk desa, sifat pemberani dan juga kekuatan yang luar biasa membuat mereka disanjung dan dipuji. Ditambah lagi karena mereka adalah murid sekaligus anak angkat dari Logan, nama mereka diagungkan karena dianggap sebagai tiga pilar penjaga desa.
Para pedagang, peternak ataupun petani di desa itu hidup damai karena tidak ada lagi masalah serangan hewan buas seperti serigala dan semacamnya. Tiga saudara kembar itu mahir membuat jebakan dan juga senjata untuk mengusir hewan buas, karena itulah desa menjadi aman berkat mereka.
Suatu hari, Sam mengajak kedua saudaranya untuk pergi berburu.
"Ayolah! Ini waktu yang tepat untuk berburu, kita bisa menangkap rusa besar sekaligus bersenang-senang" Ujar Sam.
"Berburu memang menyenangkan, Sam. Tapi tidak jika kau ingin pergi ke hutan itu," Sahut Sivian sambil menempa besi panas.
"Ahh! Apa kalian takut?! Lagi pula ada apa di hutan itu? Kalian benar-benar mempercayai dongeng tentang penyihir?" Balas Sam dengan sarkas.
Sivian hanya menghela nafasnya lelah, kakaknya itu memang selalu saja keras kepala.
"Tuan Logan tidak mengijinkan kita untuk pergi ke tempat itu, jadi jangan macam-macam," Sivian merapikan alat-alat kerja miliknya karena telah selesai dengan kegiatannya.
Sam memasang wajah kesal, laki-laki itu memutar bola matanya lalu mengambil anak panah yang baru saja selesai dibuat oleh Sivian.
"Bagaimana kalau kita menguji panah beracun milikmu ini, Tuan Sivian yang paling bijaksana?" Sarkas Sam dengan kekehan geli.
Sivian menatap saudaranya itu dengan tatapan malas, ia sudah biasa menghadapi tingkah Sam yang keras kepala dan juga arogan.
"Itu beracun, aku membuatnya untuk percobaan, jadi jangan macam-macam dengan benda itu." Tegas Sivian dengan wajah datar.
"Hoho? Justru karena kau belum mengujinya, Adikku. Biarkan Kakakmu ini membantu, Ya?" Balas Sam masih dengan tawa kecil.
Hampir setiap hari selalu terjadi argumen di antara yang tertua, meskipun sudah jelas jika yang memulainya lebih dulu selalu saja Sam.
Suatu hari, Sam menghilang bersama dengan senjata yang baru saja dibuat oleh Sivian. Ia meninggalkan secarik kertas berisi catatan untuk memberitahu saudaranya jika ia pergi berburu ke hutan terlarang.
Sivian dan Sean tentu saja panik, mengingat seberapa buruk perilaku Sam tapi tetap saja dia adalah saudara mereka. Sivian memutuskan untuk segera pergi mencari keberadaan Sam lalu membawanya pulang, diikuti oleh Sean mereka pergi menyusul sang kakak.
Cukup lama mereka menyusuri hutan lebat dengan menunggangi kuda. Hari sudah malam dan penglihatan mereka sekarang sangat terbatas, tetapi jejak Sam masih belum ditemukan.
Mereka masuk semakin jauh ke dalam hutan terlarang yang sering dijuluki dengan sebutan Indung Bulan, tempat itu dipercaya sebagai perbatasan antara desa manusia dengan penyihir.
"Kita sudah terlalu jauh, Kakak," Sean terlihat khawatir.
Sivian tidak menjawab, mereka berhenti di tepi padang rumput luas. Tanpa diduga di sana Sivian melihat sesosok siluet yang sangat ia kenal. Ya, Sam terlihat sedang bersembunyi di balik batu besar.
Sivian dan Sean tentu saja langsung menghampirinya. Sam memang dibuat kaget dengan kehadiran mereka, tetapi ia langsung menyuruh Sivian dan Sean ikut bersembunyi.
"Lihat, bukan kah itu rusa tanduk emas yang selalu diceritakan oleh Logan?" Bisik Sam sambil menunjuk seekor rusa di tengah padang rumput, tanduk rusa itu terlihat berkilau seperti emas saat diterpa sinar bulan.
Sivian yang tadinya sudah siap untuk menyembur Sam dengan beberapa makian kini ikut terpana melihat rusa itu, begitu juga dengan Sean yang kini mulutnya menganga lebar karena kagum dengan apa yang dilihatnya.
Sam sudah menyiapkan anak panah, tetapi ia berhenti saat melihat kawanan serigala mengepung sang rusa emas. Gerombolan serigala itu terlihat berputar mengelilingi sang rusa dengan membentuk pola lingkaran, lolongan mereka saling bersahutan.
"Bukan kah lolongan serigala-serigala itu terdengar aneh?" Sean berbisik dengan raut wajah bingung.
Sivian dan Sam saling menatap adik bungsunya itu. Mereka kembali menoleh ke arah rusa tadi, tetapi keduanya dibuat kaget karena rusa emas itu telah tercabik-cabik oleh para serigala.
"SIAL!!" Geram Sam, ia segera bangkit tetapi Sivian langsung menahannya.
"Tunggu, Logan mengatakan jika rusa emas itu abadi. Lantas, kenapa yang di sana itu bisa mati?" Sean berbisik di antara kedua kakaknya.
"Persetan dengan rusa abadi, serigala-serigala sialan itu akan kuhabisi karena telah merebut milikku seenaknya!" Ucap Sam dengan geram, ia mengeluarkan busurnya serta anak panah beracun milik Sivian yang telah ia curi.
"Apa yang kau lakukan, bodoh?!" Sivian lagi-lagi menahan Sam karena tidak ingin melihat kakaknya itu terkena masalah.
"Jangan jadi sok bijaksana di sini! Aku hanya ingin memberi pelajaran pada serigala-serigala itu! Jangan menghalangiku?" Kesal Sam.
Sivian dan Sean kehabisan kata-kata, seberapa kuat pun mereka menahannya tetap saja kekuatan Sam memang jauh di atas mereka.
Satu-persatu anak panah melesat, setiap anak panah selalu tepat sasaran mengenai para serigala hingga membuat mereka langsung tumbang. Ada 4 ekor serigala dan kini semuanya sudah terkapar di atas tanah.
"Kenapa kau membunuh mereka?!" Sivian benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang telah dilakukan oleh Sam.
"Hukuman," Lirih Sam dengan dingin,"ayo kembali, perasaanku jadi buruk karena serigala sialan itu." Sam berlalu meninggalkan Sivian dan juga Sean yang menatap nanar ke arah hamparan mayat para serigala.
Malam itu mereka kembali ke rumah dan beristirahat, sepanjang perjalanan Sam tidak berhenti memaki para serigala yang menghabisi rusa emas itu.
"Hutan terkutuk apanya? Toh aku baik-baik saja." Ucap Sam sesampainya mereka di rumah.
Malam itu mereka beristirahat seperti biasanya, tapi tanpa mereka sadari kini beberapa sosok bayangan berjubah sudah berada di sekeliling rumah. Hawa dingin yang pekat membuat hewan-hewan malam yang berada di sekitar sana menjauh, setiap sapuan dari jubah para sosok hitam yang berjalan meninggalkan bekas dingin seperti es hitam yang membekukan rerumputan.
"Para mahluk rendah yang tidak tahu diri...." Suara serak mengalun dalam keheningan malam, tangan pucat dengan kuku-kuku hitam dan panjang mengusap pelan pintu rumah yang sedang mereka datangi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
shookyot7💜
nah loh mungkin pemilik hutan marah
2023-08-08
1