Khith berjalan maju menghampiri Logan hingga mereka berhadapan dalam jarak yang sangat dekat, "singkat saja, aku sedang menuntut balas," Ucapnya dengan suara lembut.
Logan masih tidak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan oleh wanita itu, tapi ia bisa menebak jika tiga bersaudara atau mungkin salah satunya sudah membuat kesalahan fatal.
Logan menghampiri Sam yang kini tersungkur lemas di samping mayat Sivian, tangannya bergerak mengusap kepala laki-laki itu.
"Apa yang sudah kalian lakukan...." Lirihnya.
"Maaf... Salahku... Maaf..., bunuh saja aku...." Gumam Sam dengan suara lirih dan bergetar.
Logan menghela nafas berat, ia merobek bajunya dan menutup wajah Sivian yang sudah tidak bernyawa lagi. Ia tahu dengan sangat baik jika para penyihir adalah mahluk pendendam. Darah dibalas darah, tulang dibalas tulang, nyawa dibalas nyawa. Seperti itulah peraturan mereka. Melihat apa yang dilakukan oleh Khith, sudah jelas sekali jika Sam telah membunuh kaum penyihir.
"Sudah puas mengucapkan salam perpisahan?" Tanya Khith.
Logan bangkit dan kembali menghampiri wanita itu, ia hanya menatap Khith dengan tatapan kosong.
"Apa itu? Apakah itu mata seseorang yang putus asa?" Khith terkekeh geli, "aku tahu kau tidak suka membuang-buang waktu, Logan. Jadi tidak perlu memohon agar anak itu dilepaskan karena aku akan segera menghabisinya." Tegas Khith.
Logan hanya menunduk lesu, ia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Khith tersenyum miring melihat pria itu, ia melangkah untuk menghampiri Sam.
"Giliranmu, bocah tengik." Ucapnya dingin.
Khith langsung merobek dada Sam dengan sebilah pisau yang terbuat dari tulang, raungan laki-laki itu terdengar pilu. Logan memalingkan tubuhnya, ia tidak ingin menyaksikan bagaimana nyawa Sam diambil di depan matanya.
Khith menarik keluar hati Sam dari rongga dadanya, dengan santai ia melempar organ itu pada salah satu sosok berjubah di sampingnya dan langsung dilahap oleh sosok tersebut. Wanita itu tertawa geli, mulutnya lagi-lagi merapalkan mantra dan membuat api hitam menyelimuti tubuh Sam. Tubuh laki-laki itu meleleh dengan perlahan, persis seperti Sean yang juga dihabisi dengan cara yang sama.
Bahkan saat tubuhnya terbakar, Khith menggunakan kutukan yang membuat Sam tetap sadar dan terjaga hingga kulit dan dagingnya perlahan meleleh. Raungan laki-laki itu mengalun bak melodi kematian di antara sunyi dan dinginnya malam, diiringi dengan lengkingan kencang dari Khith yang sedang tertawa puas menyaksikan tubuh Sam yang terbakar.
Logan menunduk lesu, para pengawal yang datang bersamanya pun kini gemetar ketakutan melihat apa yang sedang terjadi di hadapan mereka. Bau hangus dari daging yang terbakar serta amis dari darah memenuhi tempat itu.
"Entah kenapa..., rasa sedihku belum juga hilang... Padahal aku sudah membalas apa yang sudah mereka lakukan...." Gumam Khith.
Ia kembali mendekati Logan yang masih berdiri mematung, tangan pria itu mengepal kuat hingga buku tangannya memutih.
"Logan..., apa aku harus menghabisimu juga?" Ucap Khith, ia membelai lembut wajah Logan dengan tangan pucatnya yang masih dipenuhi darah.
"Singkirkan tanganmu dariku," Lirih Logan, "kau sudah mengambil apa yang seharusnya kau ambil, jangan melewati batas dan kembalilah ke tempat asalmu." Suara berat pria itu terdengar dingin.
Khith terkekeh pelan, "Oh, Logan yang manis..., apa aku terlihat seperti orang yang menyukai keadilan?" Tanya Khith, wanita itu tersenyum lebar.
"Akan aku berikan apapun, asal kau pergi dari desaku sekarang juga." Tegas Logan.
Khith menarik kerah baju pria itu hingga Logan menunduk, "Kau tahu..., jika kalian memberi kami segelas susu, maka kami akan membalasnya dengan puluhan tong susu yang sama," Bisik Khith, "tapi..., jika kalian memberi kami segores luka, maka kami akan membalasnya dengan mencabik-cabik tubuh kalian. Aku kira kau sudah paham dengan hal ini...." Lirih Khith.
Logan menghela nafasnya dengan berat, "Khith..., aku mohon, kali ini saja pergilah dengan damai." Pinta pria itu dengan sungguh-sungguh.
Khith tertawa nyaring, suaranya menggema di sana. Ia benar-benar terkejut saat melihat Logan memohon di hadapannya, Khith tahu betul jika Logan adalah manusia yang tidak pernah menundukkan pandangannya apalagi sampai memohon pada orang lain.
"Lihatlah siapa yang sedang memohon," Khith masih terkekeh.
"Demi desamu, kau sampai seperti ini, Logan." Ucap Khith yang berusaha menghentikan tawanya, "baiklah... Baiklah, karena kau cukup menghiburku, aku akan pergi," Khith merapikan kerah baju Logan yang kusut karena tadi ia tarik.
Khith bersiul dan seekor serigala besar langsung menghampirinya. Para sosok berjubah yang mengelilinginya pun kini berubah menjadi gumpalan asap hitam yang berkumpul di belakang tubuhnya.
"Terimakasih." Ucap Logan singkat.
Khith tersenyum, "Kau pikir aku sebaik itu?".
Logan sontak terbelalak kaget, ia menatap tajam ke arah Khith yang sedang tertawa.
"Mulai hari ini..., aku mengutuk setiap bayi laki-laki yang lahir di desa ini akan mengambil separuh bagian dari anak-anak kami saat usia mereka telah matang...."
Kedua mata wanita itu bercahaya putih hingga membuat beberapa tanda di beberapa bagian tubuhnya pun ikut bersinar.
Setelah mengatakan itu, Khith langsung menghilang tanpa jejak. Menyisakan Logan yang terduduk lesu sambil menatap nanar sisa tubuh tiga bersaudara yang sudah lenyap tak bernyawa.
*****
Sejak saat itu, setiap bayi laki-laki yang lahir di desa itu akan langsung dibunuh. Mereka melakukannya karena tidak ingin melihat bayi itu tumbuh menjadi monster.
Ada satu keluarga yang pernah membiarkan anak mereka tumbuh besar. Tetapi tepat saat usianya 18 tahun, anak itu berubah menjadi manusia serigala yang memburu dan membunuh orang-orang di desa.
Karma itu disebut sebagai Kutukan Bulan, hal yang menjadi kepercayaan turun-temurun di desa itu hingga ratusan tahun. Karena bayi laki-laki yang lahir di sana selalu dibunuh, maka yang tersisa hanyalah para perempuan. Seiring berjalannya waktu, mereka musnah satu-persatu.
Meskipun begitu, ada beberapa penduduk yang sempat melarikan diri dari desa itu dan mencari tempat tinggal yang lain. Bagaimana nasib mereka pun tidak ada yang tahu. Tapi yang pasti, inilah akhir cerita dari legenda kutukan bulan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments