Pagi-pagi sekali Serena sudah sibuk membersihkan toko bunga miliknya, ia akan kembali menjalani harinya dengan menjual bunga. Sekarang hanya tinggal menunggu pesanan stok bunga miliknya tiba maka besok bisnisnya sudah siap dijalankan kembali.
Beberapa kali ia memeriksa catatan pengeluaran dan memastikan semuanya sudah benar, bagaimanapun ia harus teliti agar tidak mengalami kerugian karena kurang memperhatikan biaya pengeluaran.
Di usianya yang ke-20 tahun, ia benar-benar menyadari bahwa sekarang tidak ada yang bisa ia harapkan selain dirinya sendiri. Ia tidak boleh bermalas-malasan jika tidak ingin hidup dalam kesusahan.
Serena duduk termenung di meja bundar tempat ia biasa menyiapkan buket bunga, tetapi suara dari klakson mobil pengantar bunga yang telah tiba membuyarkan lamunannya.
Setelah melakukan beberapa transaksi dan memindahkan semua stok bunga ke lemari pendingin khusus, ia kembali ke kamarnya untuk memeriksa beberapa catatan keperluan.
Bersamaan saat ia membuka pintu telpon rumahnya juga berdering.
"Halo?" Serena mengangkat telpon itu.
"Ini aku, kau baik-baik saja?" Suara seorang lelaki terdengar dari telpon.
"Aku baik, kenapa kau menelpon pagi-pagi seperti ini?" Balas Serena.
"Karena aku merindukanmu,"
Jawaban laki-laki itu sukses membuat serena berdecih kesal dan membuat suara seperti orang yang akan muntah.
"Apa aku salah? Huh, menyebalkan sekali karena di sini aku tidak mempunyai teman yang bisa diganggu." Ucap laki-laki itu lagi.
"Lalu kenapa kau tidak berkunjung ke sini saat liburan nanti? Sekarang aku akan mulai sibuk karena kembali membuka toko." Balas Serena.
Mereka berbincang cukup lama sebelum akhirnya mengakhiri pembicaraan di telpon itu, Serena terdiam sebentar sambil memandangi dirinya di depan cermin.
Kepalanya kembali memikirkan hal yang tak terduga, lagi-lagi sosok laki-laki yang ia temui di hutan itu kembali memenuhi isi pikirannya.
Apa aku harus menceritakan tentang orang itu padanya?
Serena membatin sambil menatap pantulan dirinya dari depan cermin.
Ia berusaha mengusir pikiran tentang laki-laki itu, tetapi hal itu justru semakin mengganggunya.
"Aku ingin melukis." Ucapnya mantap.
Gadis itu langsung mengambil tas dan membawa peralatan lukisnya, ia juga membawa banyak makanan untuk di sana. Jangan bertanya apakah ia benar-benar akan melukis, sebenarnya itu hanyalah alasan yang dibuatnya pada diri sendiri agar bisa bertemu lagi dengan laki-laki yang ada di hutan itu.
*****
Suara lonceng sepeda yang terguncang mengiringi setiap putaran roda yang ia kayuh. Ya, lagi-lagi gadis itu kembali ke padang rumput yang selalu ia datangi karena sebuah alasan yang cukup gila.
Ia berhenti sebentar saat melewati toko yang menjual aneka permen dan manisan, Serena membeli beberapa permen termasuk sebuah lolipop berukuran besar lalu melanjutkan perjalanannya.
Sesampainya di sana ia langsung mengeluarkan semua makanan itu, matanya menyapu sekeliling dengan antusias.
Apa kali ini ia akan datang lagi?
Matanya tak berhenti menyapu sekelilingnya.
"Biasanya kan memang cukup lama...." Gumamnya.
Serena kini berbaring di atas kain tipis yang ia gelar pada rerumputan di bawah pohon rindang itu, bahkan peralatan lukis yang ia bawa kini tak disentuhnya sama sekali.
Tatapannya menerawang ke arah langit biru yang cerah, ia menyukai suasana damai dan tenang seperti sekarang. Tidak berselang berapa lama ia mendengar suara ranting-ranting patah yang remuk karena ditimpa sesuatu yang berat, tetapi itu justru membuatnya senang.
Gadis itu langsung bangun. Dan benar saja, dari semak-semak laki-laki liar itu muncul dan sekarang ia sedang menatap Serena.
"Aku tahu kau pasti datang!" Girang Serena.
Entahlah, sekarang gadis itu seperti sudah tidak memiliki rasa takut sama sekali dengan laki-laki aneh yang pernah ia sebut sebagai orang gila.
"Lihat!" Gadis itu mengeluarkan sebatang lolipop besar dari dalam tas nya.
Dengan perlahan laki-laki liar itu juga mendekat, walaupun masih ragu tetapi ia tetap mengambil permen itu dari Serena.
Ia mulai menjilatinya, lagi-lagi matanya berbinar setelah mengecap permen besar itu sama seperti saat pertama kali Serena memberikan permen batang di awal pertemuan mereka.
"Pfft, kau menyukai permen, ya?" Serena terkekeh sambil memandangi laki-laki itu, "apa kau tidak bisa bicara?" Ucapnya lagi.
Kali ini laki-laki itu tidak menjauh, ia memakan permennya di tempat terakhir ia berhenti, yaitu di atas kain yang sama dengan serena duduk.
Serena menatap laki-laki di depannya itu cukup lama dan tanpa sadar kini tangannya terulur untuk meraih rambut yang menutupi wajah milik laki-laki tersebut. Namun ia menarik tangannya kembali saat mendapat geraman dari sang pemilik rambut.
"Ah..., m-maaf, aku pikir kau kesusahan karena rambutmu menutupi wajah." Ucap Serena kikuk.
"Siapa namamu? Apa kau punya nama?" Lagi-lagi ia bertanya meskipun tahu jika laki-laki itu tidak akan menjawabnya.
"Yeah, sepertinya sia-sia saja jika aku bertanya padamu," Ucapnya dengan nada pasrah.
"Aku harus memanggilmu apa ya..., lebih baik jika kau mempunyai nama, hmm...." Gumamnya dengan raut wajah serius sambil terus memandangi laki-laki itu, "Albert? Anak Hutan? Joseph, Krish, Van..., eehhh!" Serena kaget saat laki-laki itu mendekatinya.
"Van?" Ucapnya lagi.
Laki-laki itu terus menatapnya dengan mata yang antusias seperti anak anjing, entah kenapa ia langsung begitu saat Serena menyebutkan nama tadi.
"Van? Kau suka nama itu?" Tanya Serena.
Tidak ada sahutan, tetapi mulai hari itu Serena memanggilnya dengan nama Van. Setelah memberikan makanan, gadis itu langsung bergegas kembali ke rumahnya karena tidak ingin tertangkap basah oleh seseorang jika lagi-lagi ia berada di hutan.
*****
Suara bersin terdengar berulang-ulang, itu adalah suara dari Serena yang bersin karena ia sedang mencari sesuatu di gudang bawah tanah rumahnya.
Ia sedang mencari beberapa pakaian milik ayahnya dulu, jika tidak salah ibunya pernah mengatakan bahwa dia belum sempat membuang pakaian itu karena sudah disimpan terlalu lama di dalam gudang.
Dan benar saja, ada banyak sekali kemeja dan lain-lain di dalam sebuah koper usang berdebu.
"Ini pas sekali...." Gumam Serena.
Ya, ia memang bermaksud untuk memberikan pakaian itu pada Van. Ia benar-benar merasa terganggu melihat pakaian kotor compang-camping yang entah sudah berapa lama dikenakan oleh laki-laki itu.
Meskipun Serena belum mengenal siapa Van sebenarnya, bahkan ia tidak mengetahui apakah laki-laki itu waras atau tidak apalagi asal-usulnya. Tetapi semua itu ia kesampingkan, karena di matanya, Van hanyalah seorang anak liar yang menginginkan makanan. Toh ia juga tidak pernah berusaha menyerang atau pun melakukan hal yang berbahaya pada Serena, tetapi gadis itu juga cukup sadar bahwa yang ia lakukan sekarang adalah hal bodoh yang cukup gila.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments